Halaman

Jumat, 11 Desember 2015

Oh My Life My Life

“Maybe I am not smart enough to write about anything other than stories based on my feelings.”  Kalimat ini gue kutip dari blog Kak Athalia Soemarko, nerdusmaximus.blogspot.com. Fyi, gue belum pernah ketemu Kak Atha sebelumnya. Gue cuma pernah berkirim email dengannya ketika teman gue, Jean, hendak berkuliah di Universitas Pelita Harapan. Back to the topic, kalimat Kak Atha itu hits me hard. Apalagi ketika gue melihat blog ini hahahaha. Berkali-kali gue berniat menghapus postingan lama, bahkan menghapus blog ini sekalian. Tapi langkah gue tersebut terhenti karena tulisan-tulisan itu, seberapapun buruknya, merupakan rekaman kehidupan gue. Tulisan tersebut yang bisa mengingatkan gue pada hal-hal yang pernah gue lalui. Meskipun, most of time, gue menulis ketika gue sedang bingung, lelah, marah dan perasaan kurang bahagia lainnya.

Gue juga merasa tertampar oleh kutipan Kak Atha itu karena gue menghadapi kenyataan tulisan akademis gue yang tidak ilmiah. Betapa malunya gue ketika gue, sebagai anggota dari organisasi Jurnalistik-Kelimuan terbesar dan prestisius sefakultas, seuniversitas, (bahkan menurut gue) se-Indonesia untuk tingkat mahasiswa, justru memiliki kosakata yang sangat kurang. Ketika semua orang di sekitar gue sangat kritis, gue malah tidak memiliki opini sendiri. Tugas dan ujian paper gue pun berisi analisa yang dangkal. Bahkan gue tidak paham ketika teman-teman gue mulai membicarakan tingkat suku bunga BI dan the Fed, serta bagaimana keduanya saling berhubungan. Apalagi ketika mereka berbincang tentang bagaimana hal-hal tersebut bisa memengaruhi kehidupan kita masing-masing. Saat-saat seperti itu, gue merasa gagal menjadi mahasiswa Ekonomi.

Gue lebih bisa menghabiskan waktu berjam-jam duduk, merenung, bertanya-tanya pada diri gue sendiri, “apa itu kejujuran?” “siapa yang menyampaikan kebenaran?” “mengapa dunia ini begitu kejam?” “apakah korupsi dan kemiskinan itu bisa dimusnahkan?”. Rasa-rasanya gue sulit sekali betah berlama-lama dengan karya-karya Robert Pindyck, Alpha Chiang, Krugman, Todaro dan ekonom lainnya. Gue lebih antusias buka instagram daripada The Economist. Bahkan gue lebih tertarik menyimak snapchat Keenan Pearce daripada data susenas.

Lalu apa yang harus gue lakukan sebagai mahasiswa Ekonomi?

Entah. Gue kuliah ambil……………………………………..hikmahnya aja.

Gadeng.

Setelah gue pikir-pikir, gue mungkin ga akan kayak gini, kalau gue berhenti bertanya, “is it something I really want to do?”. Kalau dulu gue memutuskan untuk hanya terfokus pada keinginan jadi menteri, mungkin gue tidak sebingung sekarang. Mungkin saat ini gue sedang belajar mati-matian tentang mikroekonomi sambil mempersiapkan diri untuk konfrens internasional. Lalu bulan depan gue tenggelam dalam kesibukan sebagai peneliti. Gue mengisi waktu luang dengan menganalisis pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ya, jika gue tidak membuka diri untuk mencoba hal-hal baru, mungkin itu yang sedang gue lakukan sekarang. Mungkin.

Tapi sayangnya, dulu gue menambah daftar keinginan gue. Keinginan-keinginan yang tidak terhubung satu sama lain. Atas nama “ingin menikmati segala rasa dalam kehidupan”, gue memecah-mecah konsentrasi. Fokus terbelah jadi keping-keping. Keinginan inilah yang ketika gue bawa pada sebuah forum serius, gue dibantah. Gue diharuskan untuk memilih. Gue diberi peringatan bahwa untuk menjalankan suatu profesi, butuh TOTALITAS. Inilah yang katanya belum bisa gue berikan bila fokus gue masih terbagi-bagi.

Ketika gue memikirkan apa cita-cita gue sekarang, gue teringat pada konsep yang diperkenalkan Keynes, Beauty Contest. Analoginya adalah peserta diminta untuk memilih yang tercantik, yang terpopuler akan mendapatkan hadiah. Pertanyaannya kemudian adalah apakah seseorang akan memilih 'yang tercantik' berdasarkan penilaiannya sendiri, atau ia akan memilih berdasarkan penilaian kebanyakan orang?

Demikian pun hidup gue sekarang ini, setelah gue melihat berbagai pertimbangan, apakah gue akan menentukan cita-cita berdasarkan keinginan gue sendiri atau berdasarkan keinginan kebanyakan orang agar gue bisa mendapatkan suatu ‘hadiah’?

Hm.


WELCOME TO THE GAME THEORY.

Jumat, 27 November 2015

sekilas tentang politik dalam hidup gue

27 November 2015
11:23
Lotus House, Depok

Tulisan ini gue persembahkan untuk diri sendiri sebagai kado akhir di usia yang ke-18 tahun.

Kemarin, di kampus gue berlangsung eksplorasi publik calon ketua BEM dan BPM. Gue ikut bentar doang, hanya sampai salah seorang meminta eksplorasi ditunda dan mengajak hadirin mendukung kontingen futsal fakultas. Setelah pemberitahuan itu, gue dan kedua orang teman lalu menyaksikan pertandingan futsal. Namun seusai pertandingan futsal, gue tidak kembali menyaksikan eksplorasi publik.
Meskipun tidak mengikuti eksplorasi publik, gue terus memantau perkembangan eksplorasi melalui lini masa sebuah badan jurnalistik dan group Line. Bahkan, gue menjadi agak terlambat mengumpulkan tugas lantaran keasyikan memantau perkembangan eksplorasi publik. Di hadapan layar ponsel yang selalu gue tatap, gue antusias. Diam-diam, gue antusias pada politik kampus.
Ibarat mengagumi seseorang dari jauh, mungkin seperti itulah hubungan gue dan politik, baik politik kampus maupun politik nasional.
Sejak kecil, gue selalu bersemangat pada hal-hal berbau politik. Gue senang ketika mengamati orang berbincang mengenai partai politik, gue mendengar dengan seksama ketika tetangga gue saling mengunggulkan calon pemimpin yang mereka pilih, dan gue suka nguping ketika bokap ngobrol soal apa yang terjadi di balik kenyataan yang diliput media. Namun sayangnya, sama seperti hukum, gue ga memiliki kesempatan untuk mendalami politik. Gue pun tidak menciptakan kesempatan semacam itu.
Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, gue pernah dimintai tolong oleh orangtua untuk menyebarkan kalender & brosur. Kedua hal ini adalah atribut kampanye salah seorang rekan bokap. Suatu kali, Opa (sapaan bokap untuk rekannya itu) dan istrinya, Oma, berkunjung ke rumah. Katanya, beliau sempat mencari gue, hendak berterima kasih atas partisipasi gue dalam menyebarkan publikasi kampanye beliau. Saat itu, gue masih memakai seragam putih merah dan secara tidak langsung berkontribusi pada kampanye salah seorang calon anggota dewan. Gue ikut senang ketika beliau ternyata memiliki suara terbanyak dan lolos ke Dewan Perwakilan Daerah.
Antusiasme dan rasa penasaran gue tentunya banyak dipengaruhi oleh bokap gue. Walau pada kenyataannya, beliau tidak pernah mengajari gue secara eksplisit dan tidak pernah mengarahkan gue untuk menyukai hal semacam ini. Bokap gue pernah bergabung dalam berbagai partai politik. Pernah menjadi bagian dari moncong putih, pohon beringin dan pernah mencalonkan diri untuk DPRD mewakili partai Kristen. Beliau pernah menikmati rasanya terjun langsung ke dunia itu, tapi gue nggak. Tary kecil hanya mengamati apa yang dilakukan ayahnya. Maka tak heran, bila gue sering menajamkan pendengaran ketika beliau berbincang soal politik. Gue pernah melihat foto bokap berada pada barisan terdepan suatu demonstrasi sambil memegang toak. Mungkin dulu beliau adalah aktivis juga..
Gue pernah merasakan deg-degannya menunggu hasil pilkada. Waktu itu gue masih SMP. Gue ikut mendoakan yang terbaik. Gue mendengar kabar kecurangan pilkada. Gue merasakan dinamika dari yang tadinya dapat kabar, "suaranya masih memimpin" berubah menjadi "ternyata ga lolos, suaranya beda dikit". Gue pernah melihat keluarga yang mengikhlaskan perngorbanan yang telah dilakukan untuk kampanye. Pada masa kampanye, gue mendengar kabar soal money politic dan kesulitan para calon yang benar-benar ingin bekerja untuk masyarakat tetapi tidak didukung dana. Gue melihat gimana tiba-tiba orang mendekat pada saat masa kampanye, kemudian setelah itu, mereka pergi lagi. Gue merasakan orang yang minta berbagai hal dari yang masuk akal hingga yang tidak masuk akal. Gue mendengar upaya kampanye ke daerah-daerah pelosok, yang masyarakat ketika diajak kerjasama untuk kebaikan mereka, eh mereka orientasinya, "kami butuhnya cuma duit, ada duit beres". Sampai akhirnya, gue bersyukur, karena gue berada di keluarga yang bisa ikhlas dan tidak menghalalkan segala cara. Coba bandingkan dengan para calon pada masa itu? Banyak yang mengorbankan harta mereka, seluruhnya, dan ikut bermain dengan 'serangan fajar', ternyata mereka ga kepilih. Setelah pengumuman, mereka menggila. Mereka terpaksa turun ke jalan dan menjadi gelandangan.
Sewaktu SMA, gue senang ketika teman dekat gue maju sebagai Ketua Osis. Tanpa diminta, gue senang berkontribusi sebagai fotografer dan ikut mempromosikan dia melalui media sosial. Tidak ada imbalan yang gue terima. Setelah dia terpilih, gue juga nggak lantas diangkat menjadi pengurus OSIS. Gue berkontribusi semata-mata karena gue mengetahui kapabilitas dia dan gue menyukai apa yang gue kerjakan. Politik sekolah, kata gue.
Tapi sejauh ini, gue tidak pernah bermimpi menjadi politikus. Untuk politik, gue cuma pengen mengamatinya. Meski menurut gue politik itu kotor, gue belum punya dorongan untuk masuk dan membersihkan kotoran itu. Menurut gue, diri gue belum siap. Ibaratnya, meskipun gue bersih, tetapi ketika gue masuk ke kandang kambing yang kotor dan tinggal di sana beberapa lama, agak mustahil gue keluar dari kandang itu tanpa bau kambing atau tanpa terkena kotoran kambing. Kecuali, gue sudah melindungi diri gue dengan pakaian anti kotoran yang superwangi yang memungkinkan gue keluar dari kandang itu tanpa terkontaminasi kotoran dan bau.
Tulisan ini agar gue ga lupa bahwa gue pernah tertarik pada politik. Biar gue ga menutup mata pada politik. Karena sudah banyak sekali hal dalam hidup yang dipolitisasi. Inilah kenangan sekilas gue pada rasa cinta yang ga pernah tumbuh subur. Cinta yang tak pernah dipupuk dan dirawat tapi selalu menemukan jalannya untuk tumbuh. Kenangan ini gue persembahkan sebagai hadiah ulang tahun untuk diri gue sendiri. 

Selamat ulang tahun ke-19, Tary. Sama seperti lo antusias pada politik meski merasa politik itu kotor, antusiaslah juga pada hidup meski banyak hal tidak menyenangkan di dalamnya. Bedanya, jalanilah hidup dengan hati yang tulus dan ikhlas. Percaya bahwa hal-hal baik akan lo beri dan peroleh tahun ini..
Tuhan menyertai, Tary.

Minggu, 15 November 2015

Arti Mimpi Malam Itu

Mengenang mimpi dan kenyataan yang terjadi di satu hari yang sama. Pertanyaan mendasar, sebenarnya apa ‘Halleluyah’ itu? Secara harafiah, artinya pujian kepada Tuhan. Tapi dalam mimpi itu apa?

Mimpi itu menggambarkan Halleluyah sebagai suatu hal yang orang-orang lihat, tapi gadis itu tidak melihatnya. Ia celingak-celinguk. Bingung pada apa yang ‘dihebohkan’ orang-orang. Berkali-kali ia mencoba menatap ke arah tatapan orang-orang itu, tapi nihil. Lalu, ia merasa berbeda dari yang lain. Mungkin saat itu, hanya ia satu-satunya orang yang tidak paham. Sampai akhirnya, gadis itu sempat melihat ada cahaya yang bersinar. Sebentar saja. Karena setelah itu, ia dibangunkan.

Dalam mimpi itu, sang gadis bahagia ketika bertemu cahaya. Di dunia nyata, baginya, cahaya itu seperti harapan. Seperti cahaya dalam mimpi yang hadir hanya sebentar, demikian pun kenyataan tentang harapan yang terlihat hanya sekejap. Selanjutnya, ia sadar. Ia takut akan kegelapan.


Seperti itulah realitanya.

Hari yang Tidak Pernah Diinginkan

Sabtu, 14 November 2015, dini hari.

Harus tidur sekarang. Harus bangun subuh. Ke Pangalengan dan segera kembali.
Tertidur memang, tapi tidak tenang.
Dalam kelam malam hari itu, ada hati yang gundah gulana. Suasana tak nyaman terbawa hingga ke alam mimpi. Gadis itu bermimpi:

“HALLELUYAH! HALLELUYAH!” teriak orang-orang.
Gadis itu terkejut, ia tersentak. Tanyanya, “hah? Apa?”
Jawab orang-orang itu, “Ada Halleluyah!”
“Hah? Dimana?”
“Itu di sana. Apakah kau tidak melihatnya?!” orang-orang menunjuk kearah ventilasi. Gadis itu mengikuti arah pandang orang-orang.
Tapi ia tidak melihat apa-apa.
Ia panik. Meski sebenarnya, ia tidak tahu Halleluyah itu apa.
Kemudian ia menoleh ke arah ventilasi itu lagi.
Ia melihat ada cahaya yang bersinar.

Lalu ia dibangunkan. Tanpa tahu kelanjutan mimpinya. Namun terus mencari tahu maknanya.

Hari itu dijalaninya dengan sangat berat. Hari itu, mungkin ada yang bilang dia egois, dia tidak bertanggungjawab, dia tidak berkomitmen, bahkan dia tidak bisa diandalkan. Gadis itu tidak menikmati kehidupannya seharian itu. Ia diselimuti rasa bersalah. Ia bergumul dengan dirinya sendiri. Pikirannya berkelana bebas ke antah berantah. Ada kesedihan yang luar biasa.

Dalam perjalanan yang cukup panjang yang bertabur rasa kesal dan kecewa, ia berulang kali menutup mata. Ia mengambil Rosario yang diyakininya dapat memberi ketenangan. Dalam hati, ia berdoa. Tapi sayang sekali ia kehilangan kemampuan mengarahkan hati dan pikirannya pada doa. Ia tidak religius rupanya. Ia merasa de javu. Kejadian yang nyaris sejenis ini pernah terjadi dua tahun sebelumnya. Hari di mana ada mimpi yang ia relakan.

Sepanjang perjalanan, ia mencoba ikhlas. Ia berusaha mengontrol dirinya. Ia tahu, ia pernah terluka karena hal yang semacam ini. Ia tidak ingin melukai dirinya lebih sakit lagi. Dalam hati, ia tahu bahwa setelah perjalanan hari itu, akan ada banyak tanggapan negatif orang-orang.


Biar bagaimanapun, ini konsekuensi yang harus dihadapinya dari memilih keputusan atas dasar tanggungjawab lainnya. Kadang, ia merasa, pikiran yang mendalam dan keinginan menyenangkan semua pihak, membunuhnya secara perlahan.

Minggu, 08 November 2015

Always be my baby

Lotus House, Depok pukul 23:23
Bandung memang selalu punya kenangan sendiri. Sekalipun itu sekadar berjalan di kantin salah satu universitas swasta. Atmosfirnya khas. Bahkan bila aku menutup mata, energi yang mengalir terasa kuat. Sejuknya romantis apalagi di saat musim penghujan.

Aku sengaja untuk tidak memerhatikan detail orang yang kutemui di sana. Aku ingin tidak ada kenangan. Tapi tak bisa, aku selalu merasa ada cinta di sana. Bahkan untuk orang-orang yang tidak pernah kutemui sebelumnya.

Aku hanya berjalan menunduk. Tidak ingin melakukan kontak mata dengan siapa-siapa. Lalu aku melewati sekelompok orang yang bernyanyi bersama lagu Mariah Carey - Always Be My Baby. Lagu yang punya kenangan indah.

Sudah sehari berlalu, tapi rasa sayang pada atmosfir Bandung belum juga pudar.

Aku tidak tahu apa ini benar-benar gara Bandung, atau gara-gara pria yang menyanyikan Always Be My Baby itu.

Tapi yang jelas, suara David Cook, lirik Always Be My Baby, dan rintik hujan yang datang keroyokan mengingatkanku pada rasa yang kunikmati empat tahun lalu..

Senin, 26 Oktober 2015

Seharusnya saya tidak di sini sekarang, melainkan sedang mempersiapkan diri untuk ujian Ekonomi Internasional besok pagi. Hanya saja, konsentrasi saya sangat buyar saat ini.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Sekilas tentang Negosiator Ulung

Lidah adalah pedang tertajam yang dimiliki manusia. Ia bisa menusukmu menembus lubuk hati terdalam. Meninggalkan luka yang bekasnya mungkin tidak akan hilang sepanjang sisa hidup. Di saat yang sama, lukamu di sisi hati yang lain, sangat bisa disembuhkan oleh lidah yang (bisa jadi) sama. Seperti hari ini, saya menyadari satu hal, diri saya diperdaya oleh lidah yang sama.
Puji Tuhan hari ini saya mengerti mengapa seorang pemimpin perlu pandai berbicara di depan umum. Terlepas dari apa yang seseorang katakan di depan dan di belakang umum itu sama atau berbeda, kemampuan bersilat lidah itu ternyata dibutuhkan. Untuk apa? Untuk mengendalikan keadaan, untuk menjaga citra yang sudah dibentuk, untuk mempercepat segala sesuatu beres.

Masih teringat di benak saya, bagaimana kami berbincang hingga ada kesapakatan. Dia bilang, "saya sepikiran". Dia selalu mendukung, dia selalu bilang kalau saya benar. Kemudian, di hari yang berbeda, di forum yang berbeda, ada banyak orang di forum itu, yang sama hanya kami dan topik perbincangan. Tapi kali ini, respon dia berbeda, dia bilang saya tidak perlu membicarakan hal yang tidak perlu. Padahal menurut saya perlu. Oke, mungkin ini karena standar keperluan kami berbeda. Saya terima.

Namun, ada yang membuat saya sakit hati, yaitu cara dia merespon. Setiap kali saya bertanya, dia bilang saya yang harus memutuskan, lalu saya menolak apa yang mereka usulkan. Selanjutnya apa yang terjadi? Dia bilang saya tidak mandiri. Bagaimana saya harus membuat keputusan, bila setiap memutuskan, menyusul penolakan?

Saat itu terjadi, saya melihat bahwa ia mampu memberdayakan sesamanya. Ia punya power untuk melakukan itu. Sekarang, setelah melihat dan menyadari ini, saya tidak tahu apakah itu patut saya kagumi atau tidak. Yang jelas, saya tahu bahwa batas antara handal bernegosiasi dan pandai bersilat lidah itu tipis, setipis kertas.

Sedetik setelah saya menulis kalimat barusan, saya ragu.

Apakah mungkin bersilat lidah dan 'menjadi penjilat' adalah dua hal yang sama? Apa ini harus dimiliki setiap negosiator ulung?

Malam ini, hanya karena kecewa diperlakukan demikian, saya merusak pikiran positif yang sudah saya bangun tentang dia. Tadinya, saya pikir kami sevisi, semisi, ternyata tidak lagi. Setidaknya, yang nampak demikian. 

Sabtu, 17 Oktober 2015

Belakangan gue menyadari, terlalu banyak sampah dalam hidup gue. Kesadaran ini semakin menjadi-jadi tiap kali membuka blog ini dan menemukan banyak tulisan ga penting. Gue nulis, gue ngepost, cuma buat bikin hati gue tenang (sebentar). Seperti pada malam ini, gue punya sejuta hal untuk diungkapkan. Semuanya ada dan berantakan dalam pikiran gue. Mau gue keluarin tapi bingung aja mana yang mau dikeluarin duluan.

2 hari yang lalu, gue stress bukan main. Gara-gara Kuis & UTS, gara-gara kepanitiaan, gara-gara gue bego aja gabisa ngatur waktu dengan baik. Padahal di sekitaran gue, banyak banget orang yang punya lebih banyak hal untuk dilakukan dan mereka menyelesaikan banyak hal juga. Padahal porsi waktu sehari mereka sama aja kayak gue, sama-sama 24 jam. Kalau kata dosen gue, ini masalah produktivitas. (key, sampai sini mungkin udah ada yang muak baca tulisan gue yang auranya negatif banget).

Hari ini gue juga masih stress. Di usia yang semakin tua ini, gue mengekspektasikan banyak hal dari diri gue. Nambah lagi, orang lain juga berharap banyak banget. Gue makin stress jadinya.

Gue sendiri masih belum bisa menjawab dengan cepat ketika gue ditanya, apakah gue goal or process oriented. Gue masih bingung apakah nanti gue mau jadi menteri kayak Sri Mulyani, atau jadi pembawa acara seperti Oprah Winfrey. Ketika kemarin gue wawancara untuk suatu hal, gue bilang kalau gue pengen menikmati banyak hal dalam hidup. Ini gara-gara pas masih di bangku sekolah, gue merasa terlalu terpetakan. Banyak hal yang belum gue nikmati. Jadi gue pengen aja jadi semuanya. Gue pengen menjalani profesi sebagai produser, penulis, pembuat kebijakan, dosen, pembawa acara, pengusaha dan fotografer. Terus seorang panelis membantah keinginan gue, dia bilang gue harus memilih karena semua profesi yang gue sebutkan, butuuh totalitas. Gue perlu meluangkan semua waktu gue untuk mendalami satu profesi yang sangat gue inginkan.

Sebagai anak ekonomi, yang cuma mengerti trade-off and choices, logika gue menyetujui itu. Tapi satu sudut kecil di hati gue berontak. Tetep pengen ngerasain semuanya. Padahal gatau gimana caranya. Seketika, gue merasa menjadi seperti remaja labil. Kalau kata Pak Rhenald Kasali, ini ciri khas generasi wacana.

Terus di akhir tulisan yang belum pengen gue akhiri ini, gue kembali mikir. Tulisan ini negatif banget. Ga memberikan value added. Cuma buat menuntaskan hasrat gue buat mengeluh dan melampiaskan keribetan pikiran ini pada sebuah benda mati. yauda (di)gitu(in) aja.

Minggu, 27 September 2015

Ketika Diamku Berteriak Lebih Lantang

Sabtu, 26 September 2015

Lagi-lagi di sini lagi
Untuk ukuranku, yang agak jarang di sini,
harusnya tidak boleh mengeluh
tapi sungguh tidak tahan di sini

Aku tahu apa yang aku benci belakangan ini
'Tidak jelas' dan 'ngaret'
dan beruntungku,
kedua hal itu menu utama di sini.
Bagaimana tidak kenyang aku dibuatnya?
Lagi-lagi kenyang sampai mau muntah.

Cerdasku, aku masih bertahan di sini
Memaksakan diri menyantap sajian yang membuat hatiku panas
Padahal alasanku cuma satu:
Dulu temanku pernah mengajak buat berkontribusi.
Itu saja.

Lama-lama aku pikir aku terlalu cerdas,
sampai bertindak tolol

Harusnya kubulatkan saja tekad untuk memundurkan diri.

Tawaran kedua saja bisa kutolak,
kenapa tidak sekalian saja menolak tawaran ketiga dan seterusnya.

Diam-diam aku menyesal.

Aku berusaha menikmati, tapi bagaimana ya..
Aku alergi pada bahan yang terkandung dalam santapan ini
Aku tidak berselera untuk makan lagi

Mereka pernah tanya,
"apa kau baik-baik saja?"
"apa kau mau obat?"
aku bilang saja,
"aku sedang tidak baik"
dan menolak obat dari mereka.

Aku maunya obat dari luar
tidak mau lagi mendapat apapun dari mereka
karena itu memuakkan.

Dulu aku sering bersuara atas ketidaknyamanan ini
Tapi ya sama saja.

Jadi aku mau diam saja
cukup berekspresi dan menyatakan yang sejujurnya
sebisaku

mungkin dengan diam,
suaraku bisa bersuara lebih lantang.

(sebuah dedikasi untuk sebuah program luar biasa demi pemimpin masa depan)

Minggu, 09 Agustus 2015

Dalam bayangku seringkali ada sebuah kapel dengan patung Bunda Maria. Ada aku juga yang sedang berlutut di hadapannya. Memohon sesuatu atau sekadar mengucap syukur. Aku menghadirkan khayalan ini saat kebelet berdoa, tapi situasi tak memungkinkan.
Di waktu yang berbeda, petang tadi misalnya. Aku berada di bangku baris paling depan Gereja Katolik. Ini waktu yang tepat untuk membayar semua utang doaku. Saat yang benar untuk memenuhi segala janji dalam khayalku.

Alih-alih berdoa dengan khusyuk, aku memikirkan hal yang lainnya.

"Nanti mau balas chat dia apa ya?"
"Foto yang keren buat diunggah ke Instagram yang mana?"
"Sialan. Ask.fm sepi. Ini gaada yang nanya?"
"Eh dia makin cantik, kok bisa?"

Segala hal tidak penting yang berlagak penting. Seolah-olah aku akan mati kalau tidak check-in di lokasi aku berada.

Bila gps dalam jiwaku dilacak keberadaannya, mungkin..

Aku di penjara. Menjadi tahanan kegoblokan sosial media.

Tolong, bebaskan aku sekarang.

Sabtu, 08 Agustus 2015

Potongan Kisah yang Terlintas

Potongan Kisah yang Terlintas adalah cerita tentang realita kehidupanku. Kepingan kisah nyata, pengalaman hidup, yang mungkin sudah terlalui cukup lama tapi (baru) ingin aku tuliskan. Meski tidak begitu panjang. Mengapa? Agar aku tidak lupa. Menurutku, potongan kisah ini sarat pembelajaran dan patut dikenang. Mungkin ke depannya akan ada serialnya? Mungkin saja.

Di sebuah kapal penumpang yang hendak berangkat ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Aku bersama seorang seniorku, Kak Faathir, terpisah dari rombongan. Di antara sesaknya kepadatan penumpang, aku menyibukkan diri dengan telepon genggam. Tanpa aku sadar, ternyata seniorku sedikit mengintip ke layar ponselku. "Anak jaman sekarang.. Log out path, log in instagram, gitu aja terus," celetuknya.

Benar juga.

Hidup diperdaya media sosial.

Smartphone, Dumbpeople.

***

Suatu malam, di meja makan.

"Nak dapat berapa ko tadi? (re: nilai di sekolah)", tanya Mama pada Arya.
Dengan cepat, Arya menjawab, "deh mama.. itu terus na tanya ki. 'dapat berapa ki, nak?' 'berapa nilaimu, nak?' itu terus.. tanya kek 'baik-baik jki, nak?' "

Tawa kami pun meledak.

Ketika serang anak polos mengajukan protes. Merasa tidak terima.

Wah adik kecilku, bertambah tinggi dan beranjak dewasa.

Selasa, 04 Agustus 2015

Masih Malam yang Sama

setiap malam, sebelum tidur

sama saja

membuka lembar buku yang serupa
sampul kulit hitam dari Universitas Indonesia
isinya...
agenda, pun catatan harian
ringkas dan tak jelas

meratapi hal yang tak berbeda
waktu dan kecepatan lajunya
bersama pikiran yang penuh sesal

inginku ada hasil
tapi bikinku tak berdaya

semangat tergerus kemalasan

ada-ada saja alasan

menindasku, membuatku semakin terpuruk olehnya

kini pikirku,
kala aku sendiri
diri dikecam rasa berpuas diri.

Makassar, ruang kerja papa
5 Agustus 2015, 00:25 wita

(Aku menulis ini lantaran telah menghabiskan waktu barang 3 hari dengan sia-sia. Tidak produktif, tugas terabaikan. Bangun pagi untuk tidur lagi sampai siang. "Nanti" menjadi kata andalanku. Benar-benar hidup yang diregogoti rasa malas itu memuakkan. Saking muaknya, aku membiarkan diriku menjadi bodoh dengan tetap menjalani hidup yang seperti ini.)

Penuh ketidakjelasan,
Tary.

Minggu, 02 Agustus 2015

Malam Bego

malam ini terasa
hidup akan lebih menyenangkan tanpa sinyal telepon seluler

tak ada tagihan pekerjaan yang sudah lewat tenggat waktu
tak ada ajakan ketemuan yang terus diingkari
tak perlu ngepost ini itu
tak perlu membandingkan jumlah likes orang lain dengan diri sendiri

tak ada diskusi bego
yang pesertanya orang-orang dengan pemikiran tertutup
yang pesertanya sangat lamban bergerak
yang pesertanya tidak menghargai omongan orang lain
yang pesertanya cuma bisa mengiyakan
yang pesertanya bahkan hanya diam untuk sebuah tidak

lama-lama di sini bisa ikutan bego

kebodohan mereka menular

pengennya saya masa bodo
tapi tidak bisa

mau menyibukkan diri saja
tapi sibuknya lagi-lagi harus sama orang bego

makin bego saya

kemana saya harus pergi?

Kalau kata Kak Atha,
"where do you go to find peace when the noise is in your head?"


Jumat, 10 Juli 2015

Cakap-cakap

Juli, 2015, dalam perjalanan kami kembali ke rumah.

“itu yang lagi sering ngurusin migas sekarang, si siapa itu? Masih ngajar di kampusmu?”
“ooh Faisal Basri?”
“ya itu. Dia masih ngajar?”
“Masih, tapi yang tingkat atas.. Mata Kuliah Ekonomi Politik. Kayaknya nanti saya mau pelajari itu. Kayak menarik.”
“Bagus memang iya, tapi biasa yang begituan susah dapat uang.”


Aku selalu tahu arah pembicaraan seperti ini.

Rabu, 08 Juli 2015

Terima Kasih, SRD!

(tidak pernah ada kata terlambat untuk cerita tentang mereka)

KIKers.

Kontribusi, Inovasi, dan Kekeluargaan. Inilah tiga nilai yang kami bawa dan berusaha salurkan melalui 7th Student Research Days. Terlepas dari apa hasil yang kami capai, bagi diri sendiri, proses persiapan dan pasca acara ini merupakan suatu tahapan yang luar biasa dalam kehidupan kampus saya. Seperti kata pepatah, Tak Ada Gading Yang Tak Retak, demikian pun SRD ini.. Seberusaha apapun kami memberikan yang terbaik, ada-ada saja hal yang berjalan tidak sesuai keinginan kami. Kalau kata Project Officer tahun sebelumnya, "di SRD kali ini gue mendengar pujian dan kritikan yang berbeda." Artinya apa? Ada yang berhasil kami perbaharui, ada pula yang hm tidak sempat kami perbaiki.

Hal yang paling saya syukuri di sini adalah diberi kesempatan menjadi bagian dari tim inti 7th SRD. Setelah ditolak berbagai kepanitian besar yang prestisius, saya mendapat ajakan untuk menjadi sekretaris mereka. Sebenarnya menurut saya, posisi ini tidak dibutuhkan dalam kepanitiaan kecil seperti SRD, tapi saat itu saya tidak memikirkan jabatan. Pengalaman bekerja sama, itulah yang menarik perhatian saya. Puji Tuhan! Saya ditempatkan di antara orang-orang yang memang kompeten. Mereka punya tanggungjawab. Dengan mengesampingkan segala kekurangan dan perbedaan pendapat di antara kami, niat dan kinerja mereka perlu diacungi jempol. Mereka membuat saya kagum. Meski sibuk dengan berbagai kegiatan organisasi, mereka sedikit pun tidak melupakan tanggungjawab akademis. Kalau ada yang perlu dikorbankan di kehidupan kampus ini, mungkin waktu tidurlah yang mereka jadikan prioritas terakhir.

Selama lebih dari satu semester ini saya belajar banyak hal, baik itu tentang pribadi mereka, masa kuliah dan diri sendiri. Dulu saat masih SMP seorang teman saya pernah bilang, "kenapa kau tidak gabung dengan mereka (kelas reguler) dan ikut lomba-lomba? Kau terbiasa dengan kelas unggulan." Dia menantang saya untuk menjadi bagian dari 'yang kecil' untuk 'menjadi besar'. Mungkin pada masa kuliah inilah saya diperkenankan Tuhan untuk mengembangkan sesuatu yang kecil menjadi besar. Seperti kata Bunda Teresa, "tidak semua dari kita dapat melakukan hal-hal besar. Tetapi, kita dapat melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar."





Satu lagi yang tak kalah penting:
Terima kasih sudah mengingatkan saya mengenai apa yang saya sukai dan tidak sukai.

Salam,
Tary.

Senin, 29 Juni 2015

Pagi-pagi Bicara Uang

Pagi ini aku terbangun dengan sebuah pemikiran dan perasaan: aku benci mengakui bahwa aku butuh uang. Realita seolah mendukung kebencianku. Aku diposisikan pada suatu kondisi saat aku tidak punya uang. Mungkin ini karena aku selalu berusaha menyangkal hukum alam bahwa uang memberi sumbangsih besar dalam kesenangan manusia.

Aku diambang batas ketidaksetujuanku, sebentar lagi sepertinya aku setuju pada hukum itu. Bukan tanpa alasan ya. Jangan berpikir aku tidak bahagia sekarang. Yang benar saja, meski sebagian besar waktuku kuhabiskan di rumah belakang ini (sudah cukup lama), aku tetap tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak bila aku kembali tenggelam dalam lelucon keluarga? Inilah hal yang aku rindukan dan akan selalu kurindukan. Tapi ada kenyataan lain yang seperti membimbingku kepada persetujuan tentang sumbangsih uang.

Dulu aku sudah menyusun mimpi-mimpi. Aku sudah merencanakan banyak hal. Aku ingin punya ini, aku ingin merasakan itu. Namun semuanya terus kutunda. Perhatikan bahwa aku menulis 'kutunda', bukan 'tertunda'. Karena memang aku yang memutuskan untuk menunda, bukan alam semesta atau kroni-kroninya. Mengapa? Karena untuk mewujudkan semua itu, aku butuh uang. Dan sialnya, aku sedang tidak punya uang. Entah sudah berapa lusin purnama kulewati sambil berkata, "aku tak punya uang."

Aku ingin punya uang. Aku ingin kerja saja biar dapat uang. Kenapa kerja? Karena hal paling sederhana: 'minta uang' lagi-lagi tidak bisa aku lakukan. Kawan, jika kau yang membaca ini, tahu cara yang bisa kulakukan atau bisa membantuku mendapatkan uang, mohon hubungin aku pribadi segera.

Kamis, 04 Juni 2015

Hujan Tertahan di Pelupuk Mataku

02:51 AM

Ada hujan tertahan di pelupuk mataku
Lama sudah terasa mendungnya
Terus terabaikan sebab tak ada guna mengindahkannya

Tentang kisah lalu hujan dalam hidupku,
Tak seperti dulu yang leluasa berderai dengan derasnya
Yang ini merintik pun masih malu, maka tertahanlah..

Mungkin hujanku sedih dahulu dianggap kebodohan
Hujanku sedih diduga lemah
Terus disalahkan, disangka tidak dewasa

Pemilik hujan berdoa pada Yang Kuasa
Mohon keteguhan tak merintik sembarangan

Hujan mendengar perbincangan mereka
Terlukai hatinya karena kata 'sembarangan'

Hadir saat penghujan dicaci karena kebanyakan
Tampak ketika kemarau pun dibilang curi kesempatan
Lalu kapan hujan bisa turun tanpa disalahkan?

Kepada hujan di pelupuk mataku,
Aku merasa kuat dari sebelumnya
Merasa ragu dan tak ragu disaat yang sama
Tapi bukan itu poinnya.

Kepada hujan di pelupuk mataku,
Berhenti bertahan dan jatuhlah sekarang
Basahi pipiku dengan ketulusan..

Kepada hujan di pelupuk mataku,
Merintiklah!
Biar aku tahu aku masih punya hati
Hati yang sanggup merasa..

Terakhir,
kepada hujan yang terus-terusan tertahan
terjunlah dengan bebas
kemudian tampakkanlah pelangi setelahnya
dengan begitu, aku lega..

Sebab yang kurindukan tak hanya hujan,
tapi juga pelangi sehabis hujan..

Sabtu, 30 Mei 2015

Kata Teman-teman Saya #2

"Tary itu baik dan berpotensi."
"Tary itu selucu itu."
"Tary itu gercep"
"Tary itu antusias dan dari cerita-cerita lo, gue tau kalo lo udah melalui banyak hal dalam hidup yang make you who you are now."
"Saran gue, lo sebaiknya lebih menikmati hiduplah.."

Itu kata mereka tentangku. Lama sudah tidak menulis tentang hal yang berbau opini orang lain, malam ini aku ingin memulai lagi. Sepertinya, ini yang pertama sejak 2011 yang lalu (tulisan pertama bisa dibaca di http://ljbarany.blogspot.com/2011/05/kata-teman-teman-saya.html).

Begini ceritanya, pada tanggal 27 Mei 2015, Divisi Penerbitan Badan Otonom Economica mengadakan feedback session. Kamis malam itu kami duduk melingkar di teras Gedung Dekanat FEB UI. Sepanjang sesi ini berlangsung, banyak di antara kami yang gelisah dan ingin kegiatan itu segera berakhir. Wajar saja lantaran kami dihantui berbagai kuis dan tugas akhir. Aku pun demikian. Meski begitu, setiap kali giliranku, aku mendengarkan dengan seksama.

Lalu apa kata mereka tentangku? Cukup banyak. Mulai dari katanya aku adalah anak yang baik, asik, berpotensi, lucu, calon pemimpin, pejuang, antusias, enak diajak kerjasama dan gerak cepat. Sekilas, nampaknya malam itu aku disuguhi berbagai pujian. Kemudian teringat aku pada pemikiranku dulu, yang sangat tidak menyukai pujian. Dulu, bagiku pujian itu seperti racun yang dapat merusak diri kita. Pujian membuatku terlena dan menjadi lupa memperbaiki diri. Pujian menunjukkan ekspektasi berlebihan orang lain membuatku merasa terbebani. Paradoks. Tapi memang begitulah realita yang terjadi.

Menjelang akhir, dua dari mereka menyarankanku untuk menikmati hidup. Belakangan, saran ini terus terngiang kemudian kurenungkan. Sebenarnya, aku bingung. Menikmati seperti apa maksudnya? Bersenang-senang? Bermalas-malasan? Atau dengan kalimat yang lebih halus, mengerjakan suatu hal dengan tempo yang lebih lambat? Berhenti merongrong dengan pertanyaan detail yang sering tidak penting?

Jujur saja, saat ini aku merasa hidupku terlalu sering berleha-leha, banyak waktu yang terbuang percuma. Aku tidak seambisius dulu. Tidak sesistematis dulu. Tidak sevisioner dulu. Tidak berjuang sekeras dulu. Sekarang ini, aku diperbudak kemageran. Di banyak kesempatan, aku tidak produktif. Semuanya kulakukan atas nama 'menikmati hidup'. Disiplin diriku luntur. Lemah aku akan janji-janji manis untuk diri sendiri, untuk papa mama, untuk adik, untuk keluarga, untuk bangsa dan negara.

Maka, ketika aku diminta untuk 'menikmati hidup', aku bingung maksudnya apa. Jika aku bertanya tentang suatu hal dan memohon respon yang cepat, itu bukan karena aku tidak menikmati hidup. Justru karena aku sedang menikmati hidup. Ingin kurasakan segala rasa. Aku ingin ada dinamika. Diriku mengakui bahwa kadang aku menyembah kegabutan, karena itu aku menyadari untuk membalasnya di lain waktu. Ketika aku bisa bekerja keras, berjuang, aku ingin mencobanya.

Setelah kupikir-pikir lagi, terlalu sering bertanya, "bagaimana?" mungkin menjadi alasan mengapa aku disarankan lebih menikmati hidup. Setiap menanyakan "bagaimana kalau gini? bagaimana kalau gitu?" mungkin orang lain berpikir aku terlalu ambisius dalam mempersiapkan banyak hal, tentang masa depan. Padahal aku yang sekarang sudah tidak sengotot aku yang dulu dalam mewujudkan keinginanku. Diminta untuk 'lebih santai' juga bukan pertama kalinya. Sebelumnya, sudah banyak orang yang memohon hal yang sama.

Bosan juga. Karena jika aku melihat ke dalam diri, kutemukan sosok yang 'terlalu santai'. Aku mencintai kebebasan dan mengagumi tanggungjawab. Aku tidak mau menjadi seperti ikan mati yang hanya terbawa arus. Aku hidup dan selalu ingin menghidupi kehidupan. Jadi untuk saran "nikmati hidup" akan selalu kuupayakan selama tidak merujuk pada kemalasan. Sebab aku ingin merdeka dari jajahan Rasa Malas.

Senin, 04 Mei 2015

Kamu, Perlu Belajar!

"Feel before you think. Think before you speak."

Selamat malam, pemirsa.
Tiada hari tanpa kata, tiada kata tanpa makna.
Kalau boleh kalian menjawab,
Apakah yang patut dipelajari manusia jaman sekarang?

Berbicara.
Setiap rangkaian organ tubuh makhluk tubuh itu,
selayaknya belajar kembali caranya bicara!
Bukan untuk bilang A, I, U, E, O
Tapi untuk bilang apa yang memang perlu dibilang.

Keras.
Hati saya keras untuk urusan yang ini.
Maaf saja, tapi sungguh jari-jari mengepal
tiap kali mendengar mereka yang kurang ajar
Berkata seenaknya, menjatuhkan martabat orang lain.

Merasa hebat?
Merasa sempurna?
Merasa tanpa cela?

Kamu,
lebih menyeramkan dari orang yang senang bergosip ria.
Kamu,
punya lidah yang lebih tajam dari belati tua.

Kamu,
dan manusia sejenis kamu,
HARUS belajar caranya bicara
Kalau tidak,
lebih baik kamu diam dan awetkan saja indra perasa itu.

Minggu, 03 Mei 2015

You know my ways and how to play me
I am just your habit for killing time

Jumat, 24 April 2015

Ada seorang pria yang menghampiriku. Tiba-tiba ia merangkulku penuh manja. Tanpa kata, aku hanyut dalam pelukannya. Nafasku sempat tertahan kala hidungku berbenturan dengan dadanya. Beberapa kali ia merapikan rambutnya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tiada pernah pergi dari bahuku.
Beberapa saat aku masih bertahan dalam bentengku. Melindungi diri dari sakit hati yang bisa saja terjadi. Tapi aku tak kuasa, aku goyah. Ada kasih yang kurasakan. Aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Kembali membenamkan diri dalam dadanya. Hingga aku terlelap..
Begitulah mimpiku semalam.

18 April 2015, ditulis dalam perjalanan menuju Cipanas, Bogor.

Senin, 20 April 2015

Curahan Hati tentang Ibadah

Selama dua belas tahun masa sekolah, aku terbiasa melakukan kegiatan yang disertai ritual agama Katolik. Wajar saja. Toh aku memang menempuh pendidikan di Yayasan Taman Tunas dan Yayasan Yesus Maria Yosef. Semasa itu aku dididik untuk berdoa sebelum makan, apel pagi sebelum berkegiatan, misa setiap bulan, dan mengaku dosa ketika menjelang hari raya tertentu. Semuanya dilaksanakan sesuai tatacara agama Katolik. Meski di sekolah Katolik, aku tetap memiliki teman-teman yang beragama lain. Hal yang membuatku senang adalah pihak sekolah yang selalu memberikan ucapan selamat hari raya kepada pemeluk agama lain. Toleransi. Aku belajar tentang toleransi.

Sekarang, demi meraih cita-cita, aku menempuh pendidikan di sekolah negeri untuk pertama kalinya. Sebenarnya ini terasa biasa saja. Tak banyak hal yang berubah sampai Natal dan Paskah tiba. Aku benar-benar kehilangan atmosfir pra-natal dan masa puasa. Di situ aku sadar, aku merindukan masa-masa sekolah di sekolah Katolik. Hal yang paling membuatku sedih adalah tidak adanya ucapan selamat hari raya dari kawan-kawan sekampusku. Mulai dari paguyuban, teman sepermainan, kepanitiaan, organisasi dan sebagainya, tidak ada ungkapan kebahagiaan dari mereka. Ini adalah hal kecil yang sudah kupelajari sejak di bangku sekolah dasar. Bahwa kita perlu menghormati agama lain misalnya dengan memberikan ucapan selamat kepada mereka. Tapi itu tidak kurasakan di sini.

(Tulisan ini tertunda dua malam. Ketika penulis membuka halaman yang sama, ada sepenggal kalimat yang belum usai. Namun tak dilanjutkannya lantaran lupa apa yang hendak ia sampaikan. Meski begitu, gadis ini keukeuh menerbitkannya sebagai suatu postingan blog... Penulis menyadari sikapnya yang sering sekali menganggap suatu pekerjaan selesai. Seperti kali ini. Selesai)

Kamis, 16 April 2015

Kali ini aku jatuh cinta pada yang sederhana
Alunan piano dan suaramu yang saling beradu merdu
serta jantungku yang ikut berdentum
meski berantakan dan seenaknya
aku tetap ingin tergabung dalam harmonimu..

Kali ini aku mencoba menjadi sederhana
siapatau kamu pun pemuja kesederhanaan.
Pelan-pelan kutinggalkan isyarat
ku melangkah ...

(bersambung)

Minggu, 12 April 2015

Celoteh Minggu

Sudah tiga hari ini aku selalu bangun dalam keadaan kelelahan. Mimpi buruk menyerangku berkali-kali. Sekali aku mimpi dianggap mata-mata dan ditawan oleh sekelompok orang. Kemudian aku berusaha kabur sehingga dikejar-kejar oleh mereka. Ada juga mimpiku yang melihat mayat bergelantungan di pohon. Ini sungguh menyeramkan. Dalam tidurku, aku ketakutan.
Mungkin aku bermimpi buruk karena melupakan banyak hal. Misalnya, doa. Tapi tidak juga, sebelum tidur, aku membiasakan diri berdoa agar tidur nyenyak atau setidaknya aku membuat tanda salib. Apakah mungkin itu penyebabnya? Saking terbiasanya aku berdoa menyebabkan aku tidak berdoa sungguh-sungguh? Aku berkata-kata dalam hati tapi tidak benar-benar memaknainya?

Barusan kutelpon mamaku dan bercerita tentang mimpi itu. Kata mama, mungkin aku kelelahan. Tapi memangnya apa yang telah kulakukan? Karena jika kutengok ke belakang, terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia. Setiap hari ada saja deadline yang harus kupenuhi. Aku stress dengan semua itu tapi ragaku tidak mengerjakan apa-apa. Aku merasa tidak produktif dan tidak bekerja secara efektif. Setelah kupikir-pikir lagi, pantas saja aku bermimpi dikejar-kejar sekelompok orang.

Berbicara mengenai produktivitas, aku teringat pada satu hal yang ingin kuceritakan sejak beberapa hari yang lalu, yaitu kejayaan masa lalu. Di (nyaris) 3 bulan pertama perkuliahan semester ini, aku melihat adanya degradasi yang terjadi pada diriku sendiri. Aku tahu aku tak boleh membandingkan diriku pada orang lain, tapi.... Okay, aku akan membandingkan diriku dengan harapanku saja. Aku masih jauh dari yang kuharapkan.

Bila aku bercermin pada Tary yang dulu, aku melihat sosok yang masih terperangkap kejayaan masa lalunya. Seorang gadis yang masih saja terkurung dalam rasa bangga padahal waktu berleha-leha itu sudah habis. Ada sosok yang menurun kualitasnya, tetapi harganya semakin mahal. Kamu tahu maksudku, sosok yang sombong dan berpuas diri. Bukannya Tary selalu ingin lebih? Bukan berpuas diri dong? Iya, ia ingin lebih baik lagi, tetapi usaha yang ditunjukkannya nihil. Itu sama saja berpuas diri.

Pekerjaan rumah aku kini semakin banyak saja. Selain tugas kuliah, tugas organisasi, tugas kepanitian, ada tugas mereparasi batin lagi. Pikiran yang seringkali tidak fokus ini perlu dibimbing agar bisa semakin sistematis dan tepat sasaran. Di saat yang sama, kreatifitas perlu semakin diasah agar semakin tajam.

Kamu lihat kan? Kualitasnya berubah, semakin buruk padahal.

Rabu, 01 April 2015

Tuhanku, Aku Mohon

Terima kasih kuucapkan pada Tuhanku.Sepanjang hidupku hingga saat ini telah banyak yang kuperoleh. Bukan semata-mata karena perjuanganku, melainkan karena belas kasihMu.

Sekarang ini, aku mau meminta lagi. Semoga Tuhanku tidak bosan-bosan dan masih mau menerimaku. Aku takut. Aku khawatir. Aku gelisah. Untuk sesuatu yang sebenarnya tak pernah ingin aku pikir dan ceritakan.

Tuhanku, lingkupiku selalu.

Jumat, 13 Maret 2015

10:45 PM, Sebuah hotel di Jl. Dago Pakar, Bandung

#MembangkitkanRasa 01

Di ruang makan sebuah hotel minimalis, seorang gadis berusaha menyembunyikan kegugupannya. Jantungnya dag dig dug, ini akan menjadi pengalaman pertamanya. Berangkat ke sini untuk mengais rezeki. Agak berlebihan sebetulnya, tapi jujur saja, ia sedikit merasa bangga. Ia menduduki salah satu kursi di ruangan itu dan di sisi seberangnya ada seorang pria, sebut saja Si Bos. Lelaki yang cukup berumur ini memberikan penjelasan singkat mengenai apa yang harus dilakukan. Tugasnya tidak begitu sulit ternyata, hanya tanggungjawabnya saja yang agak berat. Keduanya sempat larut dalam diam. Lalu suara si Bos memecah keheningan. “Hai, bang! Ternyata udah datang. Kalian kenalan dulu dong..”

Gadis itu menoleh, mengikuti arah pandangan Pak Bos. Ia melihat siapa yang baru saja datang. Pria lagi, pikirnya. Kemudian ia kembali menunduk, meratapi ponselnya sambil mendengarkan perbincangan dua lelaki di hadapannya.

Lelaki Pendatang duduk di sebelahnya. Diam-diam si gadis memperhatikan gerak-gerik pria di sebelahnya. Sesekali menarik lengan jaket, sesekali memutar-mutar ponsel. Kulitnya tidak putih dan tidak cokelat. Bersih dan semakin elegan dengan jam tangan di tangan kanan. Penasaran, si gadis lalu mengangkat wajahnya, melihat sekilas pria di hadapannya.

Bibir merah merona. Rahang yang kaku, hidung mancung, alis tebal dan kacamata bergagang hitam. Almost perfect.

Jam makan malam tiba. Kami berencana untuk dinner di resto seberang hotel. Kami beranjak dari posisi kami masing-masing.

Lelaki Pendatang beridiri. Si Gadis terpaku. Badan pria itu sangat proporsional. Tinggi dan cukup berisi. Pelukable, batinnya.


Si Gadis berdiri di sebelah Lelaki Pendatang. Angin malam di Kota Bandung membuatnya kedinginan, tapi lelaki di sebelahnya sungguh menghangatkan.

Minggu, 08 Maret 2015

Jhu Mate Qyu

Hari itu kulihat dia dengan senyum yang berbeda. Tak ada sapa seperti sedia kala. Dia masih saja sama sebenarnya. Tampan, sederhana dan mempesona. Tapi itu tadi. Ada yang berubah. Dia tak tertawa dan berhumor ria. Lawakannya lenyap dihempas angin Kolam Makara. Seseorang mengajaknya dan dia tolak begitu saja. Kasihan dia, apa ia lelah dan perlu pelukan?
Bila iya, hubungi aku saja. Agar aku segera berlari ke arahnya.

Oh, Tuhan. Jangan biarkan aku melanjutkan rasa yang tak terbalas.

Melupakan Dia

seharusnya kuceritakan padamu tiga hari yang lalu

Pernah dengar tentang menyimpan perasaan pada seseorang selama lebih dari 4 bulan itu mungkin namanya Cinta?
Dulu aku percaya itu, tapi sekarang aku ragu.
Pasalnya, bukan hitungan purnama lagi aku menunggu
Sudah banyak Malam Natal yang kulalui
dan waktu selama itu sudah cukup bagiku
tak ingin berlama-lama lagi.

Jangan bilang aku tak setia.
Jangan bilang aku tak berusaha.
Jangan mengajakku berbincang tentang rela berkorban.

Kuminta kau telusuri tulisanku,
sekarang juga.
Biar kau tahu betapa aku merindu
Betapa aku berharap
Betapa aku mencoba bertahan

Tenang saja,
tulisanku tidak banyak
dan semua isinya sama saja
kau akan menyelesaikannya dengan segera.

Tapi, tunggu dulu.
Tahu kenapa tidak banyak yang tertulis?
Padahal ada banyak 365 hari kulewati

Itu karena banyak malam aku terpaku
bersandar dinding beku yang dingin
menutup mata dan teringat wajahmu
Pikiranku merangkai cerita kita
dan aku enggan berhenti
walau untuk menuliskannya dalam kata

Kini, kubersyukur.
Kenangan tentangmu akan mudah terhapuskan.

Senin, 23 Februari 2015

DOA

Doa itu seperti kebun. Peliharalah maka doa akan berbuah.

Berdoalah di mana saja Anda berada, Tuhan ada di mana-mana.

Jika Anda menginginkan sesuatu, bertanyalah pada diri Anda sendiri,
"Apakah saya menginginkan hal yang dikehendaki Tuhan?"
Tuhan menghendaki kebaikan sejati Anda.

Bila doa Anda kering dan rutin, teruskan saja.
Tanah yang kering kerontang menyambut datangnya hujan.

Bila karena sesuatu hal Anda tidak bisa berdoa, bersantailah.
Keinginan untuk berdoa itu sudah merupakan doa.

Bila Anda merasa sedih atau menyesal, menangislah.
Airmata adalah doa dari hati.

Jika doa membuat Anda jadi pasif dan acuh tak acuh, itu bukanlah doa.
Doa sejati akan membuahkan kepedulian dan pelayanan.

Gunakanlah saat-saat tenang untuk berdoa.
Ketenangan menarik Anda kepada Sang Maha Besar.

Bila hati Anda penuh dengan rasa syukur, biarkanlah demikian.
Roh Allah sedang berdoa di dalam diri Anda.

Berdoalah dalam tidurmu.
Tidur adalah doa dari manusia yang merasa aman dari cinta Tuhan.

Berdoa adalah bernafas.
Lakukanlah dalam-dalan dan Anda akan dipenuhi dengan kehidupan.

Doa dasar dari segala sesuatu yang akan kita perbuat.
DIA hanya sejauh doa.

(disalin dari buku Doa adalah Sumber Kekuatan)

Kamis, 19 Februari 2015

Seleraku Tidak Murahan, Aku Hanya Lupa Saja

Pict: Lestary Jakara Barany
Malam ini aku ingin bernarasi. Mungkin tak cukup indah bagimu, tapi aku tak peduli. Karena seringkali terlalu peduli membuat kepalaku seperti ingin meledak.
Sebelumnya kuberitahu dulu, ini foto meja belajarku malam kemarin dan malam ini pun tak banyak yang berubah. Coba lihat tumpukan buku-buku itu. Hanya sebagian dari yang sedang kubaca. Kebiasaan buruk tidak membaca buku hingga tuntas. Terlalu sibuk -- alasan yang melindungi sikap burukku. Aku tidur di sepanjang siang dan kewalahan di malam hari. Besok kuliah, besok deadline semua tugas.

Tapi semuanya kutunda.

Seorang teman yang baru saja kukenal beberapa hari yang lalu menerbitkan sebuah gambar di Timeline LINE. Lagi-lagi media sosial membangkitkan rasa penasaranku. Apa yang kutemukan selanjutnya? Kenyataan bahwa anak ini tak bisa diremehkan, sedikitpun. Kemampuan menulis, desain, bersosialisasi, apalagi? Banyak hal yang ia miliki.

Apa yang kutemukan kemudian membuatku mempertanyakan 'Selera'. Bisakah seseorang membantuku mendefinisikan selera yang bagus itu? Seperti apa?

Dia bacaannya biografi Thomas Alva Edison, Magic of Thinking Big, Perekonomian Yunani dan oh! Jangan membuatku menelusuri lebih jauh. Itu bisa membuatku membandingkan diriku dengan dirinya.

Fotografer favoritnya, Nicholine Patricia Malina. Aku juga sih. Tapi dia sejak 2009, aku? Sejak 2014 mungkin, paling mentok juga 2013. Itu berarti 1-2 tahun yang lalu. Kasihan sekali.

Selama ini aku ngapain?

Membaca teenlit, nonton infotainment, menghabiskan waktu di instagram dan ask.fm, kalo beli majalah juga liat artisnya. Apa seleraku ini murahan?

apa yang kuperbuat itu salah?

halah.

mengapa aku mesti mempertanyakan selera.

Rabu Abu Kelabu

Pict: Lestary Jakara Barany
Ini kampusku di kala mendung
Kerjaanku duduk-duduk sambil bersenandung

Ini sebut saja padang rumput kristal
Membelalakkan mata hingga batinku terpental

Di sini aku melihat dunia
yang tak sebiru samudera

Di sini aku nyaris kehilangan jiwa
merasa lelah namun terus menyambung nyawa..

Selasa, 27 Januari 2015

rasa tak terbalas

tak tahan lagi
jadi kuladeni saja
pertahananku goyah
dan egoku menyingkir
walau hanya sesaat..

satu pernyataan dibalas pertanyaan
setelah itu tak ada lagi
basa basi sekalipun

momen yang sangat singkat
tapi mengundang kembali kenangan
merajut kembali benang merah
lalu jarum itu menimbulkan luka

lagi.
lagi.

apa aku satu-satunya yang mengingat?
sebegitu berartinya kah ini untukku
hingga rincian terkecil pun tak ingin kulewatkan?

apa rasa ini sungguh tak layak untuk dibalas?
tak bisakah kau menoleh padaku sebentar saja?

h.


apa yang sedang kuperjuangkan?

akhir yang bahagia
bagi rindu yang tak tertahan.

Sabtu, 24 Januari 2015

Melacur: Melakukan Curhat

Sejauh ini hari ini menjadi malam minggu terbaik di Januari 2015. Pasalnya, aku menghabiskan waktu bersama para gadis berbakat yang telah kukenal cukup lama. Mereka adalah Ciho, Naya, Novi. Hubungan pertemanan kami telah terjalin sejak SMP. Bahkan aku, ciho dan naya pernah menyebut diri kami sebagai CINTA (CIndy Naya TAry) atau PLN (Pinociho Ljbarany Nayonnaise). Cukup demikian tentang sejarah singkat kami, sekarang aku akan berbagi tentang hari ini.










Waktu berlalu begitu cepat, tanpa disadari kami telah melalui masa putih abu-abu. Masa yang akan selalu kami rindukan. Enam bulan tidak bertemu bukanlah jeda waktu yang sebentar bagi orang yang senang merindu seperti diriku. Meski cukup lama tidak bertatapmuka ternyata keseruan bertemu teman-teman lama tidaklah pudar. Semangat dan rasa antusias begitu menggebu-gebu ketika berada di antara mereka.

Membuat janji bertemu pada pukul 5 sore di Hoshi Makassar. Aku datang tepat waktu. Naik ke lantai 2 gedung itu dan mendapat sambutan hangat, "Hai Cantik", kata Novi. Biasalah basa-basi. Setelah membalas singkat sapaan mereka, aku menarik kursi di sebelah Ciho dan mulai bercerita. Entah apa awalnya. Banyak hal yang kuceritakan sampai Ciho menegurku, "weh napas ko". Kami ngobrol dan tertawa terbahak-bahak. Seakan tidak peduli pada tamu yang lain. Topik yang dibicarakan pun beragam, mulai dari kehidupan pasca SMA, politik, gosip, pola baju, design interior, kuliner, dsb.

Dari obrolan itu aku belajar banyak dari teman-temanku. Dari anak SMP yang jarang belajar (mereka mengakui hal ini), kini mereka menjadi gadis-gadis cantik yang kuat, berbakat, punya otak dan baik hati. Setelah kira-kira 3 jam ngobrol tanpa henti, kami merasa mendapat panggilan alam. Ada ruang hampa dalam diri kami yang membunyikan sirine tanda lapar. Karena tempat nongky petang itu adalah bakery, kami memutuskan pindah tempat. Mall Ratu Indah menjadi pilihan pertama, tapi kutolak. Aku lebih memilih ke cafe atau tempat makan lain dan keputusan jatuh pada Essprezza Cafe n Bistro.

Semakin larut pembicaraan semakin sensitif. Sambil menunggu makan malam kami disajikan, di ruang khusus (interiornya seperti tempat dukun lol) kami mulai membicarakan perasaan hm sebut saja cinta. Lagi-lagi aku belajar dari para gadis ini bahwa sebagai perempuan harus bersikap tegas. Pengalaman dalam menjalin hubungan menunjukkan karakter masing-masing. Mereka menekankan toleransi. Secara tidak langsung mereka membuatku sempat merenung tentang kesetiaan. Bagaimana jika nanti aku harus menjalin hubungan jarak jauh juga? Apakah orang yang 'aku pilih' akan bersikap setia atau malah berbalik mengkhianatiku?

Selain itu, salah satu hal yang berbekas adalah pendapat mereka tentangku. Mengenai masa depan yang tidak terbaca dan berarti baik. Meski berkali-kali aku berkata, "aku mah apah atuh? cuma remah-remah kong guan". Mereka bilang akan ada saatnya aku menjadi sesuatu dan aku harus selalu menjadi diri sendiri.

Mereka berkembang dan masih berkembang dan aku yakin ini mengarah ke hal yang lebih baik.

Diberkatilah para lelaki dan wanita yang menyakiti hati mereka. Para gadis yang secara tidak langsung mengajariku tentang ketulusan, menjadi pribadi yang kuat dan tegas, selalu bersyukur, punya otak, menjaga rahasia dan baik hati. Akhirnya, sebagai seorang introvert, aku pasti akan merindukan menghabiskan waktu secara berkualitas bersama kalian.

Luvv ya ma geng.
Tary.

Kamis, 22 Januari 2015

#WhatIRead 2015 : Travel Young


Judul: Travel Young
Penulis: Alanda Kariza
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: I, 2014
Tebal: x+190 Halaman


Masih teringat di benak saya saat pertama kali membaca buku karangan Alanda Kariza, Dream Catcher, di bangku SMA. Buku tersebut menunjukkan sudut pandang yang berbeda dalam melihat keadaan pemuda Indonesia. Dream Catcher menjadi salah satu referensi artikel saya dalam mengikuti Parade Cinta Tanah Air 2012. Puji Tuhan kala itu saya berhasil lolos ke tingkat nasional. Di babak nasional, peserta diminta untuk mempertanggungjawabkan tulisan mereka. Saat itu, salah satu juri dari Kementrian Pertahanan Republik Indonesia bertanya pada saya, "Dari mana kamu mendapat inspirasi?". Kira-kira (saya tidak ingat persis kalimat yang saya gunakan) beginilah saya menjawab, "dari buku Dream Catcher yang ditulis oleh Alanda Kariza. Saat ini orang-orang terlalu melihat sisi negatif dari anak muda, seperti tawuran, pergaulan bebas, narkoba, dsb. Padahal hal semacam itu bukan baru ada sekarang tapi sejak dulu. Berita-berita semacam itu seolah lebih 'menjual' daripada anak Indonesia yang menjuarai lomba paduan suara internasional, olimpiade internasional, menciptakan robot, dsb." Opini yang saya uraikan dalam tulisan berjudul "Energi Positif Anak Muda Produktif" bisa dibilang cukup berbeda dengan apa yang disajikan peserta lain dalam tulisan mereka (bisa dilihat di 

Keikutsertaan saya dalam PCTA 2012 membuka mata saya bahwa apa yang telah saya raih belumlah seberapa. Di atas langit masih ada langit. Misalnya saja, Alanda Kariza yang ketika berusia seperti saya telah mengikuti konferensi internasional. Buku Dream Catcher-lah yang mengenalkan saya pada sosok Alanda Kariza dan Indonesia Youth Conference. Kekaguman saya pada wanita introvert yang satu ini mendorong saya untuk menikmati karyanya yang lain yaitu Travel Young.

Travel Young lebih dari sekadar buku yang memberi tips traveling. Buku ini berisi kisah Alanda dalam melakukan perjalanan. Terdapat pula hasil wawancara dengan beberapa orang yang tak kalah inspiratif. Semuanya dikemas dengan bahasa yang mudah dimengerti dan ilustrasi menarik. Hal yang paling saya sukai adalah kutipan-kutipan percakapan antara penulis dan orang-orang yang ia temui selama menjelajah.

Buku ini menyampaikan banyak hal baik untuk dipelajari, misalnya tentang kedewasaan, bersikap rendah hati, melakukan sesuatu bukan untuk menarik perhatian, terus berkarya, tidak malu untuk meminta bantuan ketika membutuhkan begitupun sebaliknya, dan masih banyak lagi. Travel Young kembali mengingatkan saya pada impian untuk berpetualang dan belajar. Untuk berbagi pada sesama. Selanjutnya, saya perlu melatih diri untuk tidak terpaku pada hambatan-hambatan untuk melakukan sesuatu perjalanan. Hendaklah saya menjadi  seorang dewasa muda tanpa perlu 'membunuh' anak kecil dalam diri saya.

Terakhir, inilah salah satu kutipan yang menampar pikiran saya,

"Saya tidak ingin ia menjadi tempat saya untuk pulang. Saya ingin dia menjadi teman perjalanan saya."
(hlm 113)

Aku ingin segera berpetualang. Bersama.

Rabu, 21 Januari 2015

#WhatIRead 2015 : Traces of love dan Athirah

Sudah terlalu lama aku terjebak dalam kemageran dan kegabutanku. Hingga aku melupakan resolusi dan rencana liburan yang telah kubuat sebelumnya. Setelah berjuang dengan cukup memaksa diri sendiri untuk bergerak, aku mulai melakukan salah satunya, yaitu membaca dan menulis lebih banyak.

BeginANew.
Menulis tentang buku yang telah SELESAI dibaca.


Mari kita mulai!

1. Traces of Love
Judul: Traces of Love
Penulis: Clio Freya
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2014
Tebal: 416 Halaman

Pertama kali saya membaca buku karangan Clio Freya adalah ketika masih duduk di bangku SMP. Judul bukunya yaitu Eiffel, Tolong! ya, buku dengan sampul berwarna hijau ini membuat saya penasaran akan cerita selanjutnya. Rasa penasaran itu sempat tertahan beberapa tahun sampai pada 16 Januari kemarin saya melihat serial ketiga dari buku ini terpajang di Gramedia.

Traces of Love ini bercerita tentang kehidupan Fay. seorang gadis asal Indonesia yang telah menjadi anggota keluarga McGallaghan. Meski masih sering merasa sedih karena kepergian orangtuanya, Fay dituntut untuk tetap dapat bekerja sebagai agen secara profesional. Profesionalitas ini pun harus ditunjukkan dengan menahan perasaannya pada orang-orang yang ia cintai.

Dalam melaksanakan tugasnya, Fay menemukan kenyataan-kenyataan yang sebelumnya tersembunyi namun saling terkait. Kepergiaan orangtuanya karena kecelakaan pesawat yang sebelumnya hanya berupa berita duka, kini menjadi suatu misteri. Nasihat Kent dan Reno bahwa curiosity can kill a cat seringkali diabaikannya.

Alur ceritanya membuat saya tenggelam dalam imajinasi ketika membacanya. Bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Namun semakin mendekati akhir buku, saya kurang mendapatkan 'jiwa' dari buku ini. Meski begitu, dari buku ini saya belajar bahwa rasa penasaran dapat membimbing kita pada kenyataan pahit, suatu kebenaran yang sengaja disembuyikan.

Saya menantikan karya kamu selanjutnya, Clio Freya!

2. Athirah

Judul: Athirah
Penulis: Alberthiene Endah
Penerbit: Noura Books
Cetakan: I, Desember 2013
Tebal: 404 Halaman

Alberthiene Endah telah menulis banyak buku biografi, misalnya Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan. Athirah adalah novel yang terinspirasi dari Kisah Jusuf Kalla dan Ibunda. Sama halnya seperti Traces of Love, saya membeli novel ini pada 16 Januari 2015.

Buku ini memang penuh haru dan inspirasi. Athirah, sang bunga dari Bone memang telah meniti kehidupan yang berat hingga akhir hidupnya. Poligami memang telah menjadi bagian dari latar belakang keluarga JK. Pahitnya kisah percintaan antara Athirah dan Haji Kalla telah membentuk Jusuf, si remaja lelaki, mengerti dan menghargai perasaan perempuan.

Saya enggan bercerita mengenai kisah Athirah di sini dan menyarankan pembaca untuk membacanya sendiri. Athirah adalah cerminan dari hati wanita yang teguh, kuat, sabar dan mencintai setulus hati. Semoga para perempuan tetap bersemangat dalam perjuangan memberi kekuatan dalam keluarga!


Sabtu, 10 Januari 2015

not good enough

I am here again.
Realising that I couldn't communicate well. My mind, my fingers, and my lips are often disharmony.

Everyday even everysecond of my life I make goals, but never walk my talks.

Selasa, 06 Januari 2015

6/365

Aku berada di sini malam ini untuk memenuhi resolusiku tahun ini, yakni lebih banyak menulis. Mengapa? Karena dengan menulis aku menciptakan jejak yang nantinya bisa kutelusuri lagi. Sehingga aku tahu sudah seberapa jauh dan apa saja yang telah kulalui.

Hari ini IP pertamaku sebagai mahasiswa FEUI keluar, namun belum lengkap karena MPKT A yang berbobot 6 SKS masih not published. Bagaimana hasilnya? Puji Tuhan. Ia mengambulkan doaku. Aku sedang tidak ingin membandingkan pencapaianku dan pencapaian teman-temanku, karena hasilnya sudah pasti mengecewakan. Aku hanya membandingkannya dengan target yang sudah kutetapkan di awal semester.

I got what I asked to God.

Aku meminta agar apapun hasil yang kuperoleh dapat kuterima dengan hati yang terbuka. And I did. Agak muak sebenarnya ketika membuka grup kampus, timeline Line dan media sosial lainnya di mana banyak sekali dari mereka yang membicarakan SIAK NG dan IP. Sebut saja aku sirik dengan pencapaian mereka, tak masalah. Namun yang membuat lebih muak lagi adalah 'jebakan' yang tersebar di mana-mana.

Mungkin aku yang dulu adalah orang yang seperti itu, namun aku mencoba berubah. Semoga perubahan ini lebih baik.

Aku ingin melukis banyak hal-hal baik di kehidupan perkuliahanku untuk menyambut masa depan yang lebih cerah. Sekian.