Potongan Kisah yang Terlintas adalah cerita tentang realita kehidupanku. Kepingan kisah nyata, pengalaman hidup, yang mungkin sudah terlalui cukup lama tapi (baru) ingin aku tuliskan. Meski tidak begitu panjang. Mengapa? Agar aku tidak lupa. Menurutku, potongan kisah ini sarat pembelajaran dan patut dikenang. Mungkin ke depannya akan ada serialnya? Mungkin saja.
Di sebuah kapal penumpang yang hendak berangkat ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Aku bersama seorang seniorku, Kak Faathir, terpisah dari rombongan. Di antara sesaknya kepadatan penumpang, aku menyibukkan diri dengan telepon genggam. Tanpa aku sadar, ternyata seniorku sedikit mengintip ke layar ponselku. "Anak jaman sekarang.. Log out path, log in instagram, gitu aja terus," celetuknya.
Benar juga.
Hidup diperdaya media sosial.
Smartphone, Dumbpeople.
***
Suatu malam, di meja makan.
"Nak dapat berapa ko tadi? (re: nilai di sekolah)", tanya Mama pada Arya.
Dengan cepat, Arya menjawab, "deh mama.. itu terus na tanya ki. 'dapat berapa ki, nak?' 'berapa nilaimu, nak?' itu terus.. tanya kek 'baik-baik jki, nak?' "
Tawa kami pun meledak.
Ketika serang anak polos mengajukan protes. Merasa tidak terima.
Wah adik kecilku, bertambah tinggi dan beranjak dewasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar