Halaman

Senin, 23 Februari 2015

DOA

Doa itu seperti kebun. Peliharalah maka doa akan berbuah.

Berdoalah di mana saja Anda berada, Tuhan ada di mana-mana.

Jika Anda menginginkan sesuatu, bertanyalah pada diri Anda sendiri,
"Apakah saya menginginkan hal yang dikehendaki Tuhan?"
Tuhan menghendaki kebaikan sejati Anda.

Bila doa Anda kering dan rutin, teruskan saja.
Tanah yang kering kerontang menyambut datangnya hujan.

Bila karena sesuatu hal Anda tidak bisa berdoa, bersantailah.
Keinginan untuk berdoa itu sudah merupakan doa.

Bila Anda merasa sedih atau menyesal, menangislah.
Airmata adalah doa dari hati.

Jika doa membuat Anda jadi pasif dan acuh tak acuh, itu bukanlah doa.
Doa sejati akan membuahkan kepedulian dan pelayanan.

Gunakanlah saat-saat tenang untuk berdoa.
Ketenangan menarik Anda kepada Sang Maha Besar.

Bila hati Anda penuh dengan rasa syukur, biarkanlah demikian.
Roh Allah sedang berdoa di dalam diri Anda.

Berdoalah dalam tidurmu.
Tidur adalah doa dari manusia yang merasa aman dari cinta Tuhan.

Berdoa adalah bernafas.
Lakukanlah dalam-dalan dan Anda akan dipenuhi dengan kehidupan.

Doa dasar dari segala sesuatu yang akan kita perbuat.
DIA hanya sejauh doa.

(disalin dari buku Doa adalah Sumber Kekuatan)

Kamis, 19 Februari 2015

Seleraku Tidak Murahan, Aku Hanya Lupa Saja

Pict: Lestary Jakara Barany
Malam ini aku ingin bernarasi. Mungkin tak cukup indah bagimu, tapi aku tak peduli. Karena seringkali terlalu peduli membuat kepalaku seperti ingin meledak.
Sebelumnya kuberitahu dulu, ini foto meja belajarku malam kemarin dan malam ini pun tak banyak yang berubah. Coba lihat tumpukan buku-buku itu. Hanya sebagian dari yang sedang kubaca. Kebiasaan buruk tidak membaca buku hingga tuntas. Terlalu sibuk -- alasan yang melindungi sikap burukku. Aku tidur di sepanjang siang dan kewalahan di malam hari. Besok kuliah, besok deadline semua tugas.

Tapi semuanya kutunda.

Seorang teman yang baru saja kukenal beberapa hari yang lalu menerbitkan sebuah gambar di Timeline LINE. Lagi-lagi media sosial membangkitkan rasa penasaranku. Apa yang kutemukan selanjutnya? Kenyataan bahwa anak ini tak bisa diremehkan, sedikitpun. Kemampuan menulis, desain, bersosialisasi, apalagi? Banyak hal yang ia miliki.

Apa yang kutemukan kemudian membuatku mempertanyakan 'Selera'. Bisakah seseorang membantuku mendefinisikan selera yang bagus itu? Seperti apa?

Dia bacaannya biografi Thomas Alva Edison, Magic of Thinking Big, Perekonomian Yunani dan oh! Jangan membuatku menelusuri lebih jauh. Itu bisa membuatku membandingkan diriku dengan dirinya.

Fotografer favoritnya, Nicholine Patricia Malina. Aku juga sih. Tapi dia sejak 2009, aku? Sejak 2014 mungkin, paling mentok juga 2013. Itu berarti 1-2 tahun yang lalu. Kasihan sekali.

Selama ini aku ngapain?

Membaca teenlit, nonton infotainment, menghabiskan waktu di instagram dan ask.fm, kalo beli majalah juga liat artisnya. Apa seleraku ini murahan?

apa yang kuperbuat itu salah?

halah.

mengapa aku mesti mempertanyakan selera.

Rabu Abu Kelabu

Pict: Lestary Jakara Barany
Ini kampusku di kala mendung
Kerjaanku duduk-duduk sambil bersenandung

Ini sebut saja padang rumput kristal
Membelalakkan mata hingga batinku terpental

Di sini aku melihat dunia
yang tak sebiru samudera

Di sini aku nyaris kehilangan jiwa
merasa lelah namun terus menyambung nyawa..