Halaman

Minggu, 27 September 2015

Ketika Diamku Berteriak Lebih Lantang

Sabtu, 26 September 2015

Lagi-lagi di sini lagi
Untuk ukuranku, yang agak jarang di sini,
harusnya tidak boleh mengeluh
tapi sungguh tidak tahan di sini

Aku tahu apa yang aku benci belakangan ini
'Tidak jelas' dan 'ngaret'
dan beruntungku,
kedua hal itu menu utama di sini.
Bagaimana tidak kenyang aku dibuatnya?
Lagi-lagi kenyang sampai mau muntah.

Cerdasku, aku masih bertahan di sini
Memaksakan diri menyantap sajian yang membuat hatiku panas
Padahal alasanku cuma satu:
Dulu temanku pernah mengajak buat berkontribusi.
Itu saja.

Lama-lama aku pikir aku terlalu cerdas,
sampai bertindak tolol

Harusnya kubulatkan saja tekad untuk memundurkan diri.

Tawaran kedua saja bisa kutolak,
kenapa tidak sekalian saja menolak tawaran ketiga dan seterusnya.

Diam-diam aku menyesal.

Aku berusaha menikmati, tapi bagaimana ya..
Aku alergi pada bahan yang terkandung dalam santapan ini
Aku tidak berselera untuk makan lagi

Mereka pernah tanya,
"apa kau baik-baik saja?"
"apa kau mau obat?"
aku bilang saja,
"aku sedang tidak baik"
dan menolak obat dari mereka.

Aku maunya obat dari luar
tidak mau lagi mendapat apapun dari mereka
karena itu memuakkan.

Dulu aku sering bersuara atas ketidaknyamanan ini
Tapi ya sama saja.

Jadi aku mau diam saja
cukup berekspresi dan menyatakan yang sejujurnya
sebisaku

mungkin dengan diam,
suaraku bisa bersuara lebih lantang.

(sebuah dedikasi untuk sebuah program luar biasa demi pemimpin masa depan)