Masa remaja adalah masa yang akan selalu aku rindukan.
Masa muda, masa jatuh cinta.
Masa bertindak bodoh, idiot, tolol, tapi menyenangkan.
Sejak aku masih kecil, orang seringkali bilang kalau aku berpikir seperti orang dewasa. Bijaksana untuk anak kecil seumuranku waktu itu. Beberapa orang merasa aku terlalu serius, terlalu memikirkan banyak hal. Aku sendiri pernah merasa hidup seperti robot. Menetapkan tujuan dan berusaha mencapainya. Begitulah hidupku setiap hari. Terstruktur. Cukup jelas dan terorganisir. Ketika aku tidak mampu mencapai target tersebut, aku kecewa, mencaci-maki diri sendiri dan menangis. Aku seolah berpacu pada waktu. Aku diperintah oleh waktu.
Kemudian detik terus berganti. Musim kemarau lalu hujan lalu kemarau lagi. Tren di masyarakat terus berkembang. Demikian pula diriku. Perlahan ingin kuraih kebebasan. Bebas yang sulit kuartikan. Bebas yang berbatasan sangat dekat dengan kemalasan. Kebebasan yang seringkali hanya merupakan rasionalitas. Saat di mana aku merasa dunia yang kualami berbalik. Masa-masa di mana aku seharusnya menjadi semakin dewasa malah semakin kekanak-kanakan.
Adakah orang lain yang merasakan hal yang sama denganku? Perasaan takut menjadi tua... perasaan ingin kembali ke masa SMA. Rasanya ingin kuhentikan waktu. Rasanya ingin ku putar balik waktu. Rasanya ingin kupercepat lalu kuperlambat. Rasanya ingin kupermainkan aturan detik-menit-jam sesuka hatiku. Tapi apa dengan begitu perasaanku menjadi lebih baik?
Aku ingat betul bagaimana rasanya mengejar seseorang dalam diam. Kisah remaja yang tidak akan aku lupakan, sekaligus menakutkan jika terus kuingat.
You are the apple of my eye. Mengharukan bagaimana film ini dapat membawa kembali kenangan masa 'jatuh cinta diam-diam' dalam hidupku. Rentang waktu di mana aku begitu yakin sedang berjuang atas nama Cinta. Rangkaian adegannya tak bisa menghalangiku untuk menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya.
Entah untuk siapa pun,
You are The Apple of My Eye.
