Halaman

Minggu, 15 November 2015

Hari yang Tidak Pernah Diinginkan

Sabtu, 14 November 2015, dini hari.

Harus tidur sekarang. Harus bangun subuh. Ke Pangalengan dan segera kembali.
Tertidur memang, tapi tidak tenang.
Dalam kelam malam hari itu, ada hati yang gundah gulana. Suasana tak nyaman terbawa hingga ke alam mimpi. Gadis itu bermimpi:

“HALLELUYAH! HALLELUYAH!” teriak orang-orang.
Gadis itu terkejut, ia tersentak. Tanyanya, “hah? Apa?”
Jawab orang-orang itu, “Ada Halleluyah!”
“Hah? Dimana?”
“Itu di sana. Apakah kau tidak melihatnya?!” orang-orang menunjuk kearah ventilasi. Gadis itu mengikuti arah pandang orang-orang.
Tapi ia tidak melihat apa-apa.
Ia panik. Meski sebenarnya, ia tidak tahu Halleluyah itu apa.
Kemudian ia menoleh ke arah ventilasi itu lagi.
Ia melihat ada cahaya yang bersinar.

Lalu ia dibangunkan. Tanpa tahu kelanjutan mimpinya. Namun terus mencari tahu maknanya.

Hari itu dijalaninya dengan sangat berat. Hari itu, mungkin ada yang bilang dia egois, dia tidak bertanggungjawab, dia tidak berkomitmen, bahkan dia tidak bisa diandalkan. Gadis itu tidak menikmati kehidupannya seharian itu. Ia diselimuti rasa bersalah. Ia bergumul dengan dirinya sendiri. Pikirannya berkelana bebas ke antah berantah. Ada kesedihan yang luar biasa.

Dalam perjalanan yang cukup panjang yang bertabur rasa kesal dan kecewa, ia berulang kali menutup mata. Ia mengambil Rosario yang diyakininya dapat memberi ketenangan. Dalam hati, ia berdoa. Tapi sayang sekali ia kehilangan kemampuan mengarahkan hati dan pikirannya pada doa. Ia tidak religius rupanya. Ia merasa de javu. Kejadian yang nyaris sejenis ini pernah terjadi dua tahun sebelumnya. Hari di mana ada mimpi yang ia relakan.

Sepanjang perjalanan, ia mencoba ikhlas. Ia berusaha mengontrol dirinya. Ia tahu, ia pernah terluka karena hal yang semacam ini. Ia tidak ingin melukai dirinya lebih sakit lagi. Dalam hati, ia tahu bahwa setelah perjalanan hari itu, akan ada banyak tanggapan negatif orang-orang.


Biar bagaimanapun, ini konsekuensi yang harus dihadapinya dari memilih keputusan atas dasar tanggungjawab lainnya. Kadang, ia merasa, pikiran yang mendalam dan keinginan menyenangkan semua pihak, membunuhnya secara perlahan.

Tidak ada komentar: