Halaman

Sabtu, 30 Mei 2015

Kata Teman-teman Saya #2

"Tary itu baik dan berpotensi."
"Tary itu selucu itu."
"Tary itu gercep"
"Tary itu antusias dan dari cerita-cerita lo, gue tau kalo lo udah melalui banyak hal dalam hidup yang make you who you are now."
"Saran gue, lo sebaiknya lebih menikmati hiduplah.."

Itu kata mereka tentangku. Lama sudah tidak menulis tentang hal yang berbau opini orang lain, malam ini aku ingin memulai lagi. Sepertinya, ini yang pertama sejak 2011 yang lalu (tulisan pertama bisa dibaca di http://ljbarany.blogspot.com/2011/05/kata-teman-teman-saya.html).

Begini ceritanya, pada tanggal 27 Mei 2015, Divisi Penerbitan Badan Otonom Economica mengadakan feedback session. Kamis malam itu kami duduk melingkar di teras Gedung Dekanat FEB UI. Sepanjang sesi ini berlangsung, banyak di antara kami yang gelisah dan ingin kegiatan itu segera berakhir. Wajar saja lantaran kami dihantui berbagai kuis dan tugas akhir. Aku pun demikian. Meski begitu, setiap kali giliranku, aku mendengarkan dengan seksama.

Lalu apa kata mereka tentangku? Cukup banyak. Mulai dari katanya aku adalah anak yang baik, asik, berpotensi, lucu, calon pemimpin, pejuang, antusias, enak diajak kerjasama dan gerak cepat. Sekilas, nampaknya malam itu aku disuguhi berbagai pujian. Kemudian teringat aku pada pemikiranku dulu, yang sangat tidak menyukai pujian. Dulu, bagiku pujian itu seperti racun yang dapat merusak diri kita. Pujian membuatku terlena dan menjadi lupa memperbaiki diri. Pujian menunjukkan ekspektasi berlebihan orang lain membuatku merasa terbebani. Paradoks. Tapi memang begitulah realita yang terjadi.

Menjelang akhir, dua dari mereka menyarankanku untuk menikmati hidup. Belakangan, saran ini terus terngiang kemudian kurenungkan. Sebenarnya, aku bingung. Menikmati seperti apa maksudnya? Bersenang-senang? Bermalas-malasan? Atau dengan kalimat yang lebih halus, mengerjakan suatu hal dengan tempo yang lebih lambat? Berhenti merongrong dengan pertanyaan detail yang sering tidak penting?

Jujur saja, saat ini aku merasa hidupku terlalu sering berleha-leha, banyak waktu yang terbuang percuma. Aku tidak seambisius dulu. Tidak sesistematis dulu. Tidak sevisioner dulu. Tidak berjuang sekeras dulu. Sekarang ini, aku diperbudak kemageran. Di banyak kesempatan, aku tidak produktif. Semuanya kulakukan atas nama 'menikmati hidup'. Disiplin diriku luntur. Lemah aku akan janji-janji manis untuk diri sendiri, untuk papa mama, untuk adik, untuk keluarga, untuk bangsa dan negara.

Maka, ketika aku diminta untuk 'menikmati hidup', aku bingung maksudnya apa. Jika aku bertanya tentang suatu hal dan memohon respon yang cepat, itu bukan karena aku tidak menikmati hidup. Justru karena aku sedang menikmati hidup. Ingin kurasakan segala rasa. Aku ingin ada dinamika. Diriku mengakui bahwa kadang aku menyembah kegabutan, karena itu aku menyadari untuk membalasnya di lain waktu. Ketika aku bisa bekerja keras, berjuang, aku ingin mencobanya.

Setelah kupikir-pikir lagi, terlalu sering bertanya, "bagaimana?" mungkin menjadi alasan mengapa aku disarankan lebih menikmati hidup. Setiap menanyakan "bagaimana kalau gini? bagaimana kalau gitu?" mungkin orang lain berpikir aku terlalu ambisius dalam mempersiapkan banyak hal, tentang masa depan. Padahal aku yang sekarang sudah tidak sengotot aku yang dulu dalam mewujudkan keinginanku. Diminta untuk 'lebih santai' juga bukan pertama kalinya. Sebelumnya, sudah banyak orang yang memohon hal yang sama.

Bosan juga. Karena jika aku melihat ke dalam diri, kutemukan sosok yang 'terlalu santai'. Aku mencintai kebebasan dan mengagumi tanggungjawab. Aku tidak mau menjadi seperti ikan mati yang hanya terbawa arus. Aku hidup dan selalu ingin menghidupi kehidupan. Jadi untuk saran "nikmati hidup" akan selalu kuupayakan selama tidak merujuk pada kemalasan. Sebab aku ingin merdeka dari jajahan Rasa Malas.

Tidak ada komentar: