Seharusnya saya tidak di sini sekarang, melainkan sedang mempersiapkan diri untuk ujian Ekonomi Internasional besok pagi. Hanya saja, konsentrasi saya sangat buyar saat ini.
Senin, 26 Oktober 2015
Sabtu, 24 Oktober 2015
Sekilas tentang Negosiator Ulung
Lidah adalah pedang tertajam yang dimiliki manusia. Ia bisa menusukmu menembus lubuk hati terdalam. Meninggalkan luka yang bekasnya mungkin tidak akan hilang sepanjang sisa hidup. Di saat yang sama, lukamu di sisi hati yang lain, sangat bisa disembuhkan oleh lidah yang (bisa jadi) sama. Seperti hari ini, saya menyadari satu hal, diri saya diperdaya oleh lidah yang sama.
Puji Tuhan hari ini saya mengerti mengapa seorang pemimpin perlu pandai berbicara di depan umum. Terlepas dari apa yang seseorang katakan di depan dan di belakang umum itu sama atau berbeda, kemampuan bersilat lidah itu ternyata dibutuhkan. Untuk apa? Untuk mengendalikan keadaan, untuk menjaga citra yang sudah dibentuk, untuk mempercepat segala sesuatu beres.
Masih teringat di benak saya, bagaimana kami berbincang hingga ada kesapakatan. Dia bilang, "saya sepikiran". Dia selalu mendukung, dia selalu bilang kalau saya benar. Kemudian, di hari yang berbeda, di forum yang berbeda, ada banyak orang di forum itu, yang sama hanya kami dan topik perbincangan. Tapi kali ini, respon dia berbeda, dia bilang saya tidak perlu membicarakan hal yang tidak perlu. Padahal menurut saya perlu. Oke, mungkin ini karena standar keperluan kami berbeda. Saya terima.
Namun, ada yang membuat saya sakit hati, yaitu cara dia merespon. Setiap kali saya bertanya, dia bilang saya yang harus memutuskan, lalu saya menolak apa yang mereka usulkan. Selanjutnya apa yang terjadi? Dia bilang saya tidak mandiri. Bagaimana saya harus membuat keputusan, bila setiap memutuskan, menyusul penolakan?
Saat itu terjadi, saya melihat bahwa ia mampu memberdayakan sesamanya. Ia punya power untuk melakukan itu. Sekarang, setelah melihat dan menyadari ini, saya tidak tahu apakah itu patut saya kagumi atau tidak. Yang jelas, saya tahu bahwa batas antara handal bernegosiasi dan pandai bersilat lidah itu tipis, setipis kertas.
Sedetik setelah saya menulis kalimat barusan, saya ragu.
Apakah mungkin bersilat lidah dan 'menjadi penjilat' adalah dua hal yang sama? Apa ini harus dimiliki setiap negosiator ulung?
Malam ini, hanya karena kecewa diperlakukan demikian, saya merusak pikiran positif yang sudah saya bangun tentang dia. Tadinya, saya pikir kami sevisi, semisi, ternyata tidak lagi. Setidaknya, yang nampak demikian.
Puji Tuhan hari ini saya mengerti mengapa seorang pemimpin perlu pandai berbicara di depan umum. Terlepas dari apa yang seseorang katakan di depan dan di belakang umum itu sama atau berbeda, kemampuan bersilat lidah itu ternyata dibutuhkan. Untuk apa? Untuk mengendalikan keadaan, untuk menjaga citra yang sudah dibentuk, untuk mempercepat segala sesuatu beres.
Masih teringat di benak saya, bagaimana kami berbincang hingga ada kesapakatan. Dia bilang, "saya sepikiran". Dia selalu mendukung, dia selalu bilang kalau saya benar. Kemudian, di hari yang berbeda, di forum yang berbeda, ada banyak orang di forum itu, yang sama hanya kami dan topik perbincangan. Tapi kali ini, respon dia berbeda, dia bilang saya tidak perlu membicarakan hal yang tidak perlu. Padahal menurut saya perlu. Oke, mungkin ini karena standar keperluan kami berbeda. Saya terima.
Namun, ada yang membuat saya sakit hati, yaitu cara dia merespon. Setiap kali saya bertanya, dia bilang saya yang harus memutuskan, lalu saya menolak apa yang mereka usulkan. Selanjutnya apa yang terjadi? Dia bilang saya tidak mandiri. Bagaimana saya harus membuat keputusan, bila setiap memutuskan, menyusul penolakan?
Saat itu terjadi, saya melihat bahwa ia mampu memberdayakan sesamanya. Ia punya power untuk melakukan itu. Sekarang, setelah melihat dan menyadari ini, saya tidak tahu apakah itu patut saya kagumi atau tidak. Yang jelas, saya tahu bahwa batas antara handal bernegosiasi dan pandai bersilat lidah itu tipis, setipis kertas.
Sedetik setelah saya menulis kalimat barusan, saya ragu.
Apakah mungkin bersilat lidah dan 'menjadi penjilat' adalah dua hal yang sama? Apa ini harus dimiliki setiap negosiator ulung?
Malam ini, hanya karena kecewa diperlakukan demikian, saya merusak pikiran positif yang sudah saya bangun tentang dia. Tadinya, saya pikir kami sevisi, semisi, ternyata tidak lagi. Setidaknya, yang nampak demikian.
Sabtu, 17 Oktober 2015
Belakangan gue menyadari, terlalu banyak sampah dalam hidup gue. Kesadaran ini semakin menjadi-jadi tiap kali membuka blog ini dan menemukan banyak tulisan ga penting. Gue nulis, gue ngepost, cuma buat bikin hati gue tenang (sebentar). Seperti pada malam ini, gue punya sejuta hal untuk diungkapkan. Semuanya ada dan berantakan dalam pikiran gue. Mau gue keluarin tapi bingung aja mana yang mau dikeluarin duluan.
2 hari yang lalu, gue stress bukan main. Gara-gara Kuis & UTS, gara-gara kepanitiaan, gara-gara gue bego aja gabisa ngatur waktu dengan baik. Padahal di sekitaran gue, banyak banget orang yang punya lebih banyak hal untuk dilakukan dan mereka menyelesaikan banyak hal juga. Padahal porsi waktu sehari mereka sama aja kayak gue, sama-sama 24 jam. Kalau kata dosen gue, ini masalah produktivitas. (key, sampai sini mungkin udah ada yang muak baca tulisan gue yang auranya negatif banget).
Hari ini gue juga masih stress. Di usia yang semakin tua ini, gue mengekspektasikan banyak hal dari diri gue. Nambah lagi, orang lain juga berharap banyak banget. Gue makin stress jadinya.
Gue sendiri masih belum bisa menjawab dengan cepat ketika gue ditanya, apakah gue goal or process oriented. Gue masih bingung apakah nanti gue mau jadi menteri kayak Sri Mulyani, atau jadi pembawa acara seperti Oprah Winfrey. Ketika kemarin gue wawancara untuk suatu hal, gue bilang kalau gue pengen menikmati banyak hal dalam hidup. Ini gara-gara pas masih di bangku sekolah, gue merasa terlalu terpetakan. Banyak hal yang belum gue nikmati. Jadi gue pengen aja jadi semuanya. Gue pengen menjalani profesi sebagai produser, penulis, pembuat kebijakan, dosen, pembawa acara, pengusaha dan fotografer. Terus seorang panelis membantah keinginan gue, dia bilang gue harus memilih karena semua profesi yang gue sebutkan, butuuh totalitas. Gue perlu meluangkan semua waktu gue untuk mendalami satu profesi yang sangat gue inginkan.
Sebagai anak ekonomi, yang cuma mengerti trade-off and choices, logika gue menyetujui itu. Tapi satu sudut kecil di hati gue berontak. Tetep pengen ngerasain semuanya. Padahal gatau gimana caranya. Seketika, gue merasa menjadi seperti remaja labil. Kalau kata Pak Rhenald Kasali, ini ciri khas generasi wacana.
Terus di akhir tulisan yang belum pengen gue akhiri ini, gue kembali mikir. Tulisan ini negatif banget. Ga memberikan value added. Cuma buat menuntaskan hasrat gue buat mengeluh dan melampiaskan keribetan pikiran ini pada sebuah benda mati. yauda (di)gitu(in) aja.
Langganan:
Komentar (Atom)