Halaman

Selasa, 27 Januari 2015

rasa tak terbalas

tak tahan lagi
jadi kuladeni saja
pertahananku goyah
dan egoku menyingkir
walau hanya sesaat..

satu pernyataan dibalas pertanyaan
setelah itu tak ada lagi
basa basi sekalipun

momen yang sangat singkat
tapi mengundang kembali kenangan
merajut kembali benang merah
lalu jarum itu menimbulkan luka

lagi.
lagi.

apa aku satu-satunya yang mengingat?
sebegitu berartinya kah ini untukku
hingga rincian terkecil pun tak ingin kulewatkan?

apa rasa ini sungguh tak layak untuk dibalas?
tak bisakah kau menoleh padaku sebentar saja?

h.


apa yang sedang kuperjuangkan?

akhir yang bahagia
bagi rindu yang tak tertahan.

Sabtu, 24 Januari 2015

Melacur: Melakukan Curhat

Sejauh ini hari ini menjadi malam minggu terbaik di Januari 2015. Pasalnya, aku menghabiskan waktu bersama para gadis berbakat yang telah kukenal cukup lama. Mereka adalah Ciho, Naya, Novi. Hubungan pertemanan kami telah terjalin sejak SMP. Bahkan aku, ciho dan naya pernah menyebut diri kami sebagai CINTA (CIndy Naya TAry) atau PLN (Pinociho Ljbarany Nayonnaise). Cukup demikian tentang sejarah singkat kami, sekarang aku akan berbagi tentang hari ini.










Waktu berlalu begitu cepat, tanpa disadari kami telah melalui masa putih abu-abu. Masa yang akan selalu kami rindukan. Enam bulan tidak bertemu bukanlah jeda waktu yang sebentar bagi orang yang senang merindu seperti diriku. Meski cukup lama tidak bertatapmuka ternyata keseruan bertemu teman-teman lama tidaklah pudar. Semangat dan rasa antusias begitu menggebu-gebu ketika berada di antara mereka.

Membuat janji bertemu pada pukul 5 sore di Hoshi Makassar. Aku datang tepat waktu. Naik ke lantai 2 gedung itu dan mendapat sambutan hangat, "Hai Cantik", kata Novi. Biasalah basa-basi. Setelah membalas singkat sapaan mereka, aku menarik kursi di sebelah Ciho dan mulai bercerita. Entah apa awalnya. Banyak hal yang kuceritakan sampai Ciho menegurku, "weh napas ko". Kami ngobrol dan tertawa terbahak-bahak. Seakan tidak peduli pada tamu yang lain. Topik yang dibicarakan pun beragam, mulai dari kehidupan pasca SMA, politik, gosip, pola baju, design interior, kuliner, dsb.

Dari obrolan itu aku belajar banyak dari teman-temanku. Dari anak SMP yang jarang belajar (mereka mengakui hal ini), kini mereka menjadi gadis-gadis cantik yang kuat, berbakat, punya otak dan baik hati. Setelah kira-kira 3 jam ngobrol tanpa henti, kami merasa mendapat panggilan alam. Ada ruang hampa dalam diri kami yang membunyikan sirine tanda lapar. Karena tempat nongky petang itu adalah bakery, kami memutuskan pindah tempat. Mall Ratu Indah menjadi pilihan pertama, tapi kutolak. Aku lebih memilih ke cafe atau tempat makan lain dan keputusan jatuh pada Essprezza Cafe n Bistro.

Semakin larut pembicaraan semakin sensitif. Sambil menunggu makan malam kami disajikan, di ruang khusus (interiornya seperti tempat dukun lol) kami mulai membicarakan perasaan hm sebut saja cinta. Lagi-lagi aku belajar dari para gadis ini bahwa sebagai perempuan harus bersikap tegas. Pengalaman dalam menjalin hubungan menunjukkan karakter masing-masing. Mereka menekankan toleransi. Secara tidak langsung mereka membuatku sempat merenung tentang kesetiaan. Bagaimana jika nanti aku harus menjalin hubungan jarak jauh juga? Apakah orang yang 'aku pilih' akan bersikap setia atau malah berbalik mengkhianatiku?

Selain itu, salah satu hal yang berbekas adalah pendapat mereka tentangku. Mengenai masa depan yang tidak terbaca dan berarti baik. Meski berkali-kali aku berkata, "aku mah apah atuh? cuma remah-remah kong guan". Mereka bilang akan ada saatnya aku menjadi sesuatu dan aku harus selalu menjadi diri sendiri.

Mereka berkembang dan masih berkembang dan aku yakin ini mengarah ke hal yang lebih baik.

Diberkatilah para lelaki dan wanita yang menyakiti hati mereka. Para gadis yang secara tidak langsung mengajariku tentang ketulusan, menjadi pribadi yang kuat dan tegas, selalu bersyukur, punya otak, menjaga rahasia dan baik hati. Akhirnya, sebagai seorang introvert, aku pasti akan merindukan menghabiskan waktu secara berkualitas bersama kalian.

Luvv ya ma geng.
Tary.

Kamis, 22 Januari 2015

#WhatIRead 2015 : Travel Young


Judul: Travel Young
Penulis: Alanda Kariza
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: I, 2014
Tebal: x+190 Halaman


Masih teringat di benak saya saat pertama kali membaca buku karangan Alanda Kariza, Dream Catcher, di bangku SMA. Buku tersebut menunjukkan sudut pandang yang berbeda dalam melihat keadaan pemuda Indonesia. Dream Catcher menjadi salah satu referensi artikel saya dalam mengikuti Parade Cinta Tanah Air 2012. Puji Tuhan kala itu saya berhasil lolos ke tingkat nasional. Di babak nasional, peserta diminta untuk mempertanggungjawabkan tulisan mereka. Saat itu, salah satu juri dari Kementrian Pertahanan Republik Indonesia bertanya pada saya, "Dari mana kamu mendapat inspirasi?". Kira-kira (saya tidak ingat persis kalimat yang saya gunakan) beginilah saya menjawab, "dari buku Dream Catcher yang ditulis oleh Alanda Kariza. Saat ini orang-orang terlalu melihat sisi negatif dari anak muda, seperti tawuran, pergaulan bebas, narkoba, dsb. Padahal hal semacam itu bukan baru ada sekarang tapi sejak dulu. Berita-berita semacam itu seolah lebih 'menjual' daripada anak Indonesia yang menjuarai lomba paduan suara internasional, olimpiade internasional, menciptakan robot, dsb." Opini yang saya uraikan dalam tulisan berjudul "Energi Positif Anak Muda Produktif" bisa dibilang cukup berbeda dengan apa yang disajikan peserta lain dalam tulisan mereka (bisa dilihat di 

Keikutsertaan saya dalam PCTA 2012 membuka mata saya bahwa apa yang telah saya raih belumlah seberapa. Di atas langit masih ada langit. Misalnya saja, Alanda Kariza yang ketika berusia seperti saya telah mengikuti konferensi internasional. Buku Dream Catcher-lah yang mengenalkan saya pada sosok Alanda Kariza dan Indonesia Youth Conference. Kekaguman saya pada wanita introvert yang satu ini mendorong saya untuk menikmati karyanya yang lain yaitu Travel Young.

Travel Young lebih dari sekadar buku yang memberi tips traveling. Buku ini berisi kisah Alanda dalam melakukan perjalanan. Terdapat pula hasil wawancara dengan beberapa orang yang tak kalah inspiratif. Semuanya dikemas dengan bahasa yang mudah dimengerti dan ilustrasi menarik. Hal yang paling saya sukai adalah kutipan-kutipan percakapan antara penulis dan orang-orang yang ia temui selama menjelajah.

Buku ini menyampaikan banyak hal baik untuk dipelajari, misalnya tentang kedewasaan, bersikap rendah hati, melakukan sesuatu bukan untuk menarik perhatian, terus berkarya, tidak malu untuk meminta bantuan ketika membutuhkan begitupun sebaliknya, dan masih banyak lagi. Travel Young kembali mengingatkan saya pada impian untuk berpetualang dan belajar. Untuk berbagi pada sesama. Selanjutnya, saya perlu melatih diri untuk tidak terpaku pada hambatan-hambatan untuk melakukan sesuatu perjalanan. Hendaklah saya menjadi  seorang dewasa muda tanpa perlu 'membunuh' anak kecil dalam diri saya.

Terakhir, inilah salah satu kutipan yang menampar pikiran saya,

"Saya tidak ingin ia menjadi tempat saya untuk pulang. Saya ingin dia menjadi teman perjalanan saya."
(hlm 113)

Aku ingin segera berpetualang. Bersama.

Rabu, 21 Januari 2015

#WhatIRead 2015 : Traces of love dan Athirah

Sudah terlalu lama aku terjebak dalam kemageran dan kegabutanku. Hingga aku melupakan resolusi dan rencana liburan yang telah kubuat sebelumnya. Setelah berjuang dengan cukup memaksa diri sendiri untuk bergerak, aku mulai melakukan salah satunya, yaitu membaca dan menulis lebih banyak.

BeginANew.
Menulis tentang buku yang telah SELESAI dibaca.


Mari kita mulai!

1. Traces of Love
Judul: Traces of Love
Penulis: Clio Freya
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2014
Tebal: 416 Halaman

Pertama kali saya membaca buku karangan Clio Freya adalah ketika masih duduk di bangku SMP. Judul bukunya yaitu Eiffel, Tolong! ya, buku dengan sampul berwarna hijau ini membuat saya penasaran akan cerita selanjutnya. Rasa penasaran itu sempat tertahan beberapa tahun sampai pada 16 Januari kemarin saya melihat serial ketiga dari buku ini terpajang di Gramedia.

Traces of Love ini bercerita tentang kehidupan Fay. seorang gadis asal Indonesia yang telah menjadi anggota keluarga McGallaghan. Meski masih sering merasa sedih karena kepergian orangtuanya, Fay dituntut untuk tetap dapat bekerja sebagai agen secara profesional. Profesionalitas ini pun harus ditunjukkan dengan menahan perasaannya pada orang-orang yang ia cintai.

Dalam melaksanakan tugasnya, Fay menemukan kenyataan-kenyataan yang sebelumnya tersembunyi namun saling terkait. Kepergiaan orangtuanya karena kecelakaan pesawat yang sebelumnya hanya berupa berita duka, kini menjadi suatu misteri. Nasihat Kent dan Reno bahwa curiosity can kill a cat seringkali diabaikannya.

Alur ceritanya membuat saya tenggelam dalam imajinasi ketika membacanya. Bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Namun semakin mendekati akhir buku, saya kurang mendapatkan 'jiwa' dari buku ini. Meski begitu, dari buku ini saya belajar bahwa rasa penasaran dapat membimbing kita pada kenyataan pahit, suatu kebenaran yang sengaja disembuyikan.

Saya menantikan karya kamu selanjutnya, Clio Freya!

2. Athirah

Judul: Athirah
Penulis: Alberthiene Endah
Penerbit: Noura Books
Cetakan: I, Desember 2013
Tebal: 404 Halaman

Alberthiene Endah telah menulis banyak buku biografi, misalnya Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan. Athirah adalah novel yang terinspirasi dari Kisah Jusuf Kalla dan Ibunda. Sama halnya seperti Traces of Love, saya membeli novel ini pada 16 Januari 2015.

Buku ini memang penuh haru dan inspirasi. Athirah, sang bunga dari Bone memang telah meniti kehidupan yang berat hingga akhir hidupnya. Poligami memang telah menjadi bagian dari latar belakang keluarga JK. Pahitnya kisah percintaan antara Athirah dan Haji Kalla telah membentuk Jusuf, si remaja lelaki, mengerti dan menghargai perasaan perempuan.

Saya enggan bercerita mengenai kisah Athirah di sini dan menyarankan pembaca untuk membacanya sendiri. Athirah adalah cerminan dari hati wanita yang teguh, kuat, sabar dan mencintai setulus hati. Semoga para perempuan tetap bersemangat dalam perjuangan memberi kekuatan dalam keluarga!


Sabtu, 10 Januari 2015

not good enough

I am here again.
Realising that I couldn't communicate well. My mind, my fingers, and my lips are often disharmony.

Everyday even everysecond of my life I make goals, but never walk my talks.

Selasa, 06 Januari 2015

6/365

Aku berada di sini malam ini untuk memenuhi resolusiku tahun ini, yakni lebih banyak menulis. Mengapa? Karena dengan menulis aku menciptakan jejak yang nantinya bisa kutelusuri lagi. Sehingga aku tahu sudah seberapa jauh dan apa saja yang telah kulalui.

Hari ini IP pertamaku sebagai mahasiswa FEUI keluar, namun belum lengkap karena MPKT A yang berbobot 6 SKS masih not published. Bagaimana hasilnya? Puji Tuhan. Ia mengambulkan doaku. Aku sedang tidak ingin membandingkan pencapaianku dan pencapaian teman-temanku, karena hasilnya sudah pasti mengecewakan. Aku hanya membandingkannya dengan target yang sudah kutetapkan di awal semester.

I got what I asked to God.

Aku meminta agar apapun hasil yang kuperoleh dapat kuterima dengan hati yang terbuka. And I did. Agak muak sebenarnya ketika membuka grup kampus, timeline Line dan media sosial lainnya di mana banyak sekali dari mereka yang membicarakan SIAK NG dan IP. Sebut saja aku sirik dengan pencapaian mereka, tak masalah. Namun yang membuat lebih muak lagi adalah 'jebakan' yang tersebar di mana-mana.

Mungkin aku yang dulu adalah orang yang seperti itu, namun aku mencoba berubah. Semoga perubahan ini lebih baik.

Aku ingin melukis banyak hal-hal baik di kehidupan perkuliahanku untuk menyambut masa depan yang lebih cerah. Sekian.