Halaman

Jumat, 11 Desember 2015

Oh My Life My Life

“Maybe I am not smart enough to write about anything other than stories based on my feelings.”  Kalimat ini gue kutip dari blog Kak Athalia Soemarko, nerdusmaximus.blogspot.com. Fyi, gue belum pernah ketemu Kak Atha sebelumnya. Gue cuma pernah berkirim email dengannya ketika teman gue, Jean, hendak berkuliah di Universitas Pelita Harapan. Back to the topic, kalimat Kak Atha itu hits me hard. Apalagi ketika gue melihat blog ini hahahaha. Berkali-kali gue berniat menghapus postingan lama, bahkan menghapus blog ini sekalian. Tapi langkah gue tersebut terhenti karena tulisan-tulisan itu, seberapapun buruknya, merupakan rekaman kehidupan gue. Tulisan tersebut yang bisa mengingatkan gue pada hal-hal yang pernah gue lalui. Meskipun, most of time, gue menulis ketika gue sedang bingung, lelah, marah dan perasaan kurang bahagia lainnya.

Gue juga merasa tertampar oleh kutipan Kak Atha itu karena gue menghadapi kenyataan tulisan akademis gue yang tidak ilmiah. Betapa malunya gue ketika gue, sebagai anggota dari organisasi Jurnalistik-Kelimuan terbesar dan prestisius sefakultas, seuniversitas, (bahkan menurut gue) se-Indonesia untuk tingkat mahasiswa, justru memiliki kosakata yang sangat kurang. Ketika semua orang di sekitar gue sangat kritis, gue malah tidak memiliki opini sendiri. Tugas dan ujian paper gue pun berisi analisa yang dangkal. Bahkan gue tidak paham ketika teman-teman gue mulai membicarakan tingkat suku bunga BI dan the Fed, serta bagaimana keduanya saling berhubungan. Apalagi ketika mereka berbincang tentang bagaimana hal-hal tersebut bisa memengaruhi kehidupan kita masing-masing. Saat-saat seperti itu, gue merasa gagal menjadi mahasiswa Ekonomi.

Gue lebih bisa menghabiskan waktu berjam-jam duduk, merenung, bertanya-tanya pada diri gue sendiri, “apa itu kejujuran?” “siapa yang menyampaikan kebenaran?” “mengapa dunia ini begitu kejam?” “apakah korupsi dan kemiskinan itu bisa dimusnahkan?”. Rasa-rasanya gue sulit sekali betah berlama-lama dengan karya-karya Robert Pindyck, Alpha Chiang, Krugman, Todaro dan ekonom lainnya. Gue lebih antusias buka instagram daripada The Economist. Bahkan gue lebih tertarik menyimak snapchat Keenan Pearce daripada data susenas.

Lalu apa yang harus gue lakukan sebagai mahasiswa Ekonomi?

Entah. Gue kuliah ambil……………………………………..hikmahnya aja.

Gadeng.

Setelah gue pikir-pikir, gue mungkin ga akan kayak gini, kalau gue berhenti bertanya, “is it something I really want to do?”. Kalau dulu gue memutuskan untuk hanya terfokus pada keinginan jadi menteri, mungkin gue tidak sebingung sekarang. Mungkin saat ini gue sedang belajar mati-matian tentang mikroekonomi sambil mempersiapkan diri untuk konfrens internasional. Lalu bulan depan gue tenggelam dalam kesibukan sebagai peneliti. Gue mengisi waktu luang dengan menganalisis pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ya, jika gue tidak membuka diri untuk mencoba hal-hal baru, mungkin itu yang sedang gue lakukan sekarang. Mungkin.

Tapi sayangnya, dulu gue menambah daftar keinginan gue. Keinginan-keinginan yang tidak terhubung satu sama lain. Atas nama “ingin menikmati segala rasa dalam kehidupan”, gue memecah-mecah konsentrasi. Fokus terbelah jadi keping-keping. Keinginan inilah yang ketika gue bawa pada sebuah forum serius, gue dibantah. Gue diharuskan untuk memilih. Gue diberi peringatan bahwa untuk menjalankan suatu profesi, butuh TOTALITAS. Inilah yang katanya belum bisa gue berikan bila fokus gue masih terbagi-bagi.

Ketika gue memikirkan apa cita-cita gue sekarang, gue teringat pada konsep yang diperkenalkan Keynes, Beauty Contest. Analoginya adalah peserta diminta untuk memilih yang tercantik, yang terpopuler akan mendapatkan hadiah. Pertanyaannya kemudian adalah apakah seseorang akan memilih 'yang tercantik' berdasarkan penilaiannya sendiri, atau ia akan memilih berdasarkan penilaian kebanyakan orang?

Demikian pun hidup gue sekarang ini, setelah gue melihat berbagai pertimbangan, apakah gue akan menentukan cita-cita berdasarkan keinginan gue sendiri atau berdasarkan keinginan kebanyakan orang agar gue bisa mendapatkan suatu ‘hadiah’?

Hm.


WELCOME TO THE GAME THEORY.

Jumat, 27 November 2015

sekilas tentang politik dalam hidup gue

27 November 2015
11:23
Lotus House, Depok

Tulisan ini gue persembahkan untuk diri sendiri sebagai kado akhir di usia yang ke-18 tahun.

Kemarin, di kampus gue berlangsung eksplorasi publik calon ketua BEM dan BPM. Gue ikut bentar doang, hanya sampai salah seorang meminta eksplorasi ditunda dan mengajak hadirin mendukung kontingen futsal fakultas. Setelah pemberitahuan itu, gue dan kedua orang teman lalu menyaksikan pertandingan futsal. Namun seusai pertandingan futsal, gue tidak kembali menyaksikan eksplorasi publik.
Meskipun tidak mengikuti eksplorasi publik, gue terus memantau perkembangan eksplorasi melalui lini masa sebuah badan jurnalistik dan group Line. Bahkan, gue menjadi agak terlambat mengumpulkan tugas lantaran keasyikan memantau perkembangan eksplorasi publik. Di hadapan layar ponsel yang selalu gue tatap, gue antusias. Diam-diam, gue antusias pada politik kampus.
Ibarat mengagumi seseorang dari jauh, mungkin seperti itulah hubungan gue dan politik, baik politik kampus maupun politik nasional.
Sejak kecil, gue selalu bersemangat pada hal-hal berbau politik. Gue senang ketika mengamati orang berbincang mengenai partai politik, gue mendengar dengan seksama ketika tetangga gue saling mengunggulkan calon pemimpin yang mereka pilih, dan gue suka nguping ketika bokap ngobrol soal apa yang terjadi di balik kenyataan yang diliput media. Namun sayangnya, sama seperti hukum, gue ga memiliki kesempatan untuk mendalami politik. Gue pun tidak menciptakan kesempatan semacam itu.
Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, gue pernah dimintai tolong oleh orangtua untuk menyebarkan kalender & brosur. Kedua hal ini adalah atribut kampanye salah seorang rekan bokap. Suatu kali, Opa (sapaan bokap untuk rekannya itu) dan istrinya, Oma, berkunjung ke rumah. Katanya, beliau sempat mencari gue, hendak berterima kasih atas partisipasi gue dalam menyebarkan publikasi kampanye beliau. Saat itu, gue masih memakai seragam putih merah dan secara tidak langsung berkontribusi pada kampanye salah seorang calon anggota dewan. Gue ikut senang ketika beliau ternyata memiliki suara terbanyak dan lolos ke Dewan Perwakilan Daerah.
Antusiasme dan rasa penasaran gue tentunya banyak dipengaruhi oleh bokap gue. Walau pada kenyataannya, beliau tidak pernah mengajari gue secara eksplisit dan tidak pernah mengarahkan gue untuk menyukai hal semacam ini. Bokap gue pernah bergabung dalam berbagai partai politik. Pernah menjadi bagian dari moncong putih, pohon beringin dan pernah mencalonkan diri untuk DPRD mewakili partai Kristen. Beliau pernah menikmati rasanya terjun langsung ke dunia itu, tapi gue nggak. Tary kecil hanya mengamati apa yang dilakukan ayahnya. Maka tak heran, bila gue sering menajamkan pendengaran ketika beliau berbincang soal politik. Gue pernah melihat foto bokap berada pada barisan terdepan suatu demonstrasi sambil memegang toak. Mungkin dulu beliau adalah aktivis juga..
Gue pernah merasakan deg-degannya menunggu hasil pilkada. Waktu itu gue masih SMP. Gue ikut mendoakan yang terbaik. Gue mendengar kabar kecurangan pilkada. Gue merasakan dinamika dari yang tadinya dapat kabar, "suaranya masih memimpin" berubah menjadi "ternyata ga lolos, suaranya beda dikit". Gue pernah melihat keluarga yang mengikhlaskan perngorbanan yang telah dilakukan untuk kampanye. Pada masa kampanye, gue mendengar kabar soal money politic dan kesulitan para calon yang benar-benar ingin bekerja untuk masyarakat tetapi tidak didukung dana. Gue melihat gimana tiba-tiba orang mendekat pada saat masa kampanye, kemudian setelah itu, mereka pergi lagi. Gue merasakan orang yang minta berbagai hal dari yang masuk akal hingga yang tidak masuk akal. Gue mendengar upaya kampanye ke daerah-daerah pelosok, yang masyarakat ketika diajak kerjasama untuk kebaikan mereka, eh mereka orientasinya, "kami butuhnya cuma duit, ada duit beres". Sampai akhirnya, gue bersyukur, karena gue berada di keluarga yang bisa ikhlas dan tidak menghalalkan segala cara. Coba bandingkan dengan para calon pada masa itu? Banyak yang mengorbankan harta mereka, seluruhnya, dan ikut bermain dengan 'serangan fajar', ternyata mereka ga kepilih. Setelah pengumuman, mereka menggila. Mereka terpaksa turun ke jalan dan menjadi gelandangan.
Sewaktu SMA, gue senang ketika teman dekat gue maju sebagai Ketua Osis. Tanpa diminta, gue senang berkontribusi sebagai fotografer dan ikut mempromosikan dia melalui media sosial. Tidak ada imbalan yang gue terima. Setelah dia terpilih, gue juga nggak lantas diangkat menjadi pengurus OSIS. Gue berkontribusi semata-mata karena gue mengetahui kapabilitas dia dan gue menyukai apa yang gue kerjakan. Politik sekolah, kata gue.
Tapi sejauh ini, gue tidak pernah bermimpi menjadi politikus. Untuk politik, gue cuma pengen mengamatinya. Meski menurut gue politik itu kotor, gue belum punya dorongan untuk masuk dan membersihkan kotoran itu. Menurut gue, diri gue belum siap. Ibaratnya, meskipun gue bersih, tetapi ketika gue masuk ke kandang kambing yang kotor dan tinggal di sana beberapa lama, agak mustahil gue keluar dari kandang itu tanpa bau kambing atau tanpa terkena kotoran kambing. Kecuali, gue sudah melindungi diri gue dengan pakaian anti kotoran yang superwangi yang memungkinkan gue keluar dari kandang itu tanpa terkontaminasi kotoran dan bau.
Tulisan ini agar gue ga lupa bahwa gue pernah tertarik pada politik. Biar gue ga menutup mata pada politik. Karena sudah banyak sekali hal dalam hidup yang dipolitisasi. Inilah kenangan sekilas gue pada rasa cinta yang ga pernah tumbuh subur. Cinta yang tak pernah dipupuk dan dirawat tapi selalu menemukan jalannya untuk tumbuh. Kenangan ini gue persembahkan sebagai hadiah ulang tahun untuk diri gue sendiri. 

Selamat ulang tahun ke-19, Tary. Sama seperti lo antusias pada politik meski merasa politik itu kotor, antusiaslah juga pada hidup meski banyak hal tidak menyenangkan di dalamnya. Bedanya, jalanilah hidup dengan hati yang tulus dan ikhlas. Percaya bahwa hal-hal baik akan lo beri dan peroleh tahun ini..
Tuhan menyertai, Tary.

Minggu, 15 November 2015

Arti Mimpi Malam Itu

Mengenang mimpi dan kenyataan yang terjadi di satu hari yang sama. Pertanyaan mendasar, sebenarnya apa ‘Halleluyah’ itu? Secara harafiah, artinya pujian kepada Tuhan. Tapi dalam mimpi itu apa?

Mimpi itu menggambarkan Halleluyah sebagai suatu hal yang orang-orang lihat, tapi gadis itu tidak melihatnya. Ia celingak-celinguk. Bingung pada apa yang ‘dihebohkan’ orang-orang. Berkali-kali ia mencoba menatap ke arah tatapan orang-orang itu, tapi nihil. Lalu, ia merasa berbeda dari yang lain. Mungkin saat itu, hanya ia satu-satunya orang yang tidak paham. Sampai akhirnya, gadis itu sempat melihat ada cahaya yang bersinar. Sebentar saja. Karena setelah itu, ia dibangunkan.

Dalam mimpi itu, sang gadis bahagia ketika bertemu cahaya. Di dunia nyata, baginya, cahaya itu seperti harapan. Seperti cahaya dalam mimpi yang hadir hanya sebentar, demikian pun kenyataan tentang harapan yang terlihat hanya sekejap. Selanjutnya, ia sadar. Ia takut akan kegelapan.


Seperti itulah realitanya.

Hari yang Tidak Pernah Diinginkan

Sabtu, 14 November 2015, dini hari.

Harus tidur sekarang. Harus bangun subuh. Ke Pangalengan dan segera kembali.
Tertidur memang, tapi tidak tenang.
Dalam kelam malam hari itu, ada hati yang gundah gulana. Suasana tak nyaman terbawa hingga ke alam mimpi. Gadis itu bermimpi:

“HALLELUYAH! HALLELUYAH!” teriak orang-orang.
Gadis itu terkejut, ia tersentak. Tanyanya, “hah? Apa?”
Jawab orang-orang itu, “Ada Halleluyah!”
“Hah? Dimana?”
“Itu di sana. Apakah kau tidak melihatnya?!” orang-orang menunjuk kearah ventilasi. Gadis itu mengikuti arah pandang orang-orang.
Tapi ia tidak melihat apa-apa.
Ia panik. Meski sebenarnya, ia tidak tahu Halleluyah itu apa.
Kemudian ia menoleh ke arah ventilasi itu lagi.
Ia melihat ada cahaya yang bersinar.

Lalu ia dibangunkan. Tanpa tahu kelanjutan mimpinya. Namun terus mencari tahu maknanya.

Hari itu dijalaninya dengan sangat berat. Hari itu, mungkin ada yang bilang dia egois, dia tidak bertanggungjawab, dia tidak berkomitmen, bahkan dia tidak bisa diandalkan. Gadis itu tidak menikmati kehidupannya seharian itu. Ia diselimuti rasa bersalah. Ia bergumul dengan dirinya sendiri. Pikirannya berkelana bebas ke antah berantah. Ada kesedihan yang luar biasa.

Dalam perjalanan yang cukup panjang yang bertabur rasa kesal dan kecewa, ia berulang kali menutup mata. Ia mengambil Rosario yang diyakininya dapat memberi ketenangan. Dalam hati, ia berdoa. Tapi sayang sekali ia kehilangan kemampuan mengarahkan hati dan pikirannya pada doa. Ia tidak religius rupanya. Ia merasa de javu. Kejadian yang nyaris sejenis ini pernah terjadi dua tahun sebelumnya. Hari di mana ada mimpi yang ia relakan.

Sepanjang perjalanan, ia mencoba ikhlas. Ia berusaha mengontrol dirinya. Ia tahu, ia pernah terluka karena hal yang semacam ini. Ia tidak ingin melukai dirinya lebih sakit lagi. Dalam hati, ia tahu bahwa setelah perjalanan hari itu, akan ada banyak tanggapan negatif orang-orang.


Biar bagaimanapun, ini konsekuensi yang harus dihadapinya dari memilih keputusan atas dasar tanggungjawab lainnya. Kadang, ia merasa, pikiran yang mendalam dan keinginan menyenangkan semua pihak, membunuhnya secara perlahan.

Minggu, 08 November 2015

Always be my baby

Lotus House, Depok pukul 23:23
Bandung memang selalu punya kenangan sendiri. Sekalipun itu sekadar berjalan di kantin salah satu universitas swasta. Atmosfirnya khas. Bahkan bila aku menutup mata, energi yang mengalir terasa kuat. Sejuknya romantis apalagi di saat musim penghujan.

Aku sengaja untuk tidak memerhatikan detail orang yang kutemui di sana. Aku ingin tidak ada kenangan. Tapi tak bisa, aku selalu merasa ada cinta di sana. Bahkan untuk orang-orang yang tidak pernah kutemui sebelumnya.

Aku hanya berjalan menunduk. Tidak ingin melakukan kontak mata dengan siapa-siapa. Lalu aku melewati sekelompok orang yang bernyanyi bersama lagu Mariah Carey - Always Be My Baby. Lagu yang punya kenangan indah.

Sudah sehari berlalu, tapi rasa sayang pada atmosfir Bandung belum juga pudar.

Aku tidak tahu apa ini benar-benar gara Bandung, atau gara-gara pria yang menyanyikan Always Be My Baby itu.

Tapi yang jelas, suara David Cook, lirik Always Be My Baby, dan rintik hujan yang datang keroyokan mengingatkanku pada rasa yang kunikmati empat tahun lalu..

Senin, 26 Oktober 2015

Seharusnya saya tidak di sini sekarang, melainkan sedang mempersiapkan diri untuk ujian Ekonomi Internasional besok pagi. Hanya saja, konsentrasi saya sangat buyar saat ini.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Sekilas tentang Negosiator Ulung

Lidah adalah pedang tertajam yang dimiliki manusia. Ia bisa menusukmu menembus lubuk hati terdalam. Meninggalkan luka yang bekasnya mungkin tidak akan hilang sepanjang sisa hidup. Di saat yang sama, lukamu di sisi hati yang lain, sangat bisa disembuhkan oleh lidah yang (bisa jadi) sama. Seperti hari ini, saya menyadari satu hal, diri saya diperdaya oleh lidah yang sama.
Puji Tuhan hari ini saya mengerti mengapa seorang pemimpin perlu pandai berbicara di depan umum. Terlepas dari apa yang seseorang katakan di depan dan di belakang umum itu sama atau berbeda, kemampuan bersilat lidah itu ternyata dibutuhkan. Untuk apa? Untuk mengendalikan keadaan, untuk menjaga citra yang sudah dibentuk, untuk mempercepat segala sesuatu beres.

Masih teringat di benak saya, bagaimana kami berbincang hingga ada kesapakatan. Dia bilang, "saya sepikiran". Dia selalu mendukung, dia selalu bilang kalau saya benar. Kemudian, di hari yang berbeda, di forum yang berbeda, ada banyak orang di forum itu, yang sama hanya kami dan topik perbincangan. Tapi kali ini, respon dia berbeda, dia bilang saya tidak perlu membicarakan hal yang tidak perlu. Padahal menurut saya perlu. Oke, mungkin ini karena standar keperluan kami berbeda. Saya terima.

Namun, ada yang membuat saya sakit hati, yaitu cara dia merespon. Setiap kali saya bertanya, dia bilang saya yang harus memutuskan, lalu saya menolak apa yang mereka usulkan. Selanjutnya apa yang terjadi? Dia bilang saya tidak mandiri. Bagaimana saya harus membuat keputusan, bila setiap memutuskan, menyusul penolakan?

Saat itu terjadi, saya melihat bahwa ia mampu memberdayakan sesamanya. Ia punya power untuk melakukan itu. Sekarang, setelah melihat dan menyadari ini, saya tidak tahu apakah itu patut saya kagumi atau tidak. Yang jelas, saya tahu bahwa batas antara handal bernegosiasi dan pandai bersilat lidah itu tipis, setipis kertas.

Sedetik setelah saya menulis kalimat barusan, saya ragu.

Apakah mungkin bersilat lidah dan 'menjadi penjilat' adalah dua hal yang sama? Apa ini harus dimiliki setiap negosiator ulung?

Malam ini, hanya karena kecewa diperlakukan demikian, saya merusak pikiran positif yang sudah saya bangun tentang dia. Tadinya, saya pikir kami sevisi, semisi, ternyata tidak lagi. Setidaknya, yang nampak demikian. 

Sabtu, 17 Oktober 2015

Belakangan gue menyadari, terlalu banyak sampah dalam hidup gue. Kesadaran ini semakin menjadi-jadi tiap kali membuka blog ini dan menemukan banyak tulisan ga penting. Gue nulis, gue ngepost, cuma buat bikin hati gue tenang (sebentar). Seperti pada malam ini, gue punya sejuta hal untuk diungkapkan. Semuanya ada dan berantakan dalam pikiran gue. Mau gue keluarin tapi bingung aja mana yang mau dikeluarin duluan.

2 hari yang lalu, gue stress bukan main. Gara-gara Kuis & UTS, gara-gara kepanitiaan, gara-gara gue bego aja gabisa ngatur waktu dengan baik. Padahal di sekitaran gue, banyak banget orang yang punya lebih banyak hal untuk dilakukan dan mereka menyelesaikan banyak hal juga. Padahal porsi waktu sehari mereka sama aja kayak gue, sama-sama 24 jam. Kalau kata dosen gue, ini masalah produktivitas. (key, sampai sini mungkin udah ada yang muak baca tulisan gue yang auranya negatif banget).

Hari ini gue juga masih stress. Di usia yang semakin tua ini, gue mengekspektasikan banyak hal dari diri gue. Nambah lagi, orang lain juga berharap banyak banget. Gue makin stress jadinya.

Gue sendiri masih belum bisa menjawab dengan cepat ketika gue ditanya, apakah gue goal or process oriented. Gue masih bingung apakah nanti gue mau jadi menteri kayak Sri Mulyani, atau jadi pembawa acara seperti Oprah Winfrey. Ketika kemarin gue wawancara untuk suatu hal, gue bilang kalau gue pengen menikmati banyak hal dalam hidup. Ini gara-gara pas masih di bangku sekolah, gue merasa terlalu terpetakan. Banyak hal yang belum gue nikmati. Jadi gue pengen aja jadi semuanya. Gue pengen menjalani profesi sebagai produser, penulis, pembuat kebijakan, dosen, pembawa acara, pengusaha dan fotografer. Terus seorang panelis membantah keinginan gue, dia bilang gue harus memilih karena semua profesi yang gue sebutkan, butuuh totalitas. Gue perlu meluangkan semua waktu gue untuk mendalami satu profesi yang sangat gue inginkan.

Sebagai anak ekonomi, yang cuma mengerti trade-off and choices, logika gue menyetujui itu. Tapi satu sudut kecil di hati gue berontak. Tetep pengen ngerasain semuanya. Padahal gatau gimana caranya. Seketika, gue merasa menjadi seperti remaja labil. Kalau kata Pak Rhenald Kasali, ini ciri khas generasi wacana.

Terus di akhir tulisan yang belum pengen gue akhiri ini, gue kembali mikir. Tulisan ini negatif banget. Ga memberikan value added. Cuma buat menuntaskan hasrat gue buat mengeluh dan melampiaskan keribetan pikiran ini pada sebuah benda mati. yauda (di)gitu(in) aja.

Minggu, 27 September 2015

Ketika Diamku Berteriak Lebih Lantang

Sabtu, 26 September 2015

Lagi-lagi di sini lagi
Untuk ukuranku, yang agak jarang di sini,
harusnya tidak boleh mengeluh
tapi sungguh tidak tahan di sini

Aku tahu apa yang aku benci belakangan ini
'Tidak jelas' dan 'ngaret'
dan beruntungku,
kedua hal itu menu utama di sini.
Bagaimana tidak kenyang aku dibuatnya?
Lagi-lagi kenyang sampai mau muntah.

Cerdasku, aku masih bertahan di sini
Memaksakan diri menyantap sajian yang membuat hatiku panas
Padahal alasanku cuma satu:
Dulu temanku pernah mengajak buat berkontribusi.
Itu saja.

Lama-lama aku pikir aku terlalu cerdas,
sampai bertindak tolol

Harusnya kubulatkan saja tekad untuk memundurkan diri.

Tawaran kedua saja bisa kutolak,
kenapa tidak sekalian saja menolak tawaran ketiga dan seterusnya.

Diam-diam aku menyesal.

Aku berusaha menikmati, tapi bagaimana ya..
Aku alergi pada bahan yang terkandung dalam santapan ini
Aku tidak berselera untuk makan lagi

Mereka pernah tanya,
"apa kau baik-baik saja?"
"apa kau mau obat?"
aku bilang saja,
"aku sedang tidak baik"
dan menolak obat dari mereka.

Aku maunya obat dari luar
tidak mau lagi mendapat apapun dari mereka
karena itu memuakkan.

Dulu aku sering bersuara atas ketidaknyamanan ini
Tapi ya sama saja.

Jadi aku mau diam saja
cukup berekspresi dan menyatakan yang sejujurnya
sebisaku

mungkin dengan diam,
suaraku bisa bersuara lebih lantang.

(sebuah dedikasi untuk sebuah program luar biasa demi pemimpin masa depan)

Minggu, 09 Agustus 2015

Dalam bayangku seringkali ada sebuah kapel dengan patung Bunda Maria. Ada aku juga yang sedang berlutut di hadapannya. Memohon sesuatu atau sekadar mengucap syukur. Aku menghadirkan khayalan ini saat kebelet berdoa, tapi situasi tak memungkinkan.
Di waktu yang berbeda, petang tadi misalnya. Aku berada di bangku baris paling depan Gereja Katolik. Ini waktu yang tepat untuk membayar semua utang doaku. Saat yang benar untuk memenuhi segala janji dalam khayalku.

Alih-alih berdoa dengan khusyuk, aku memikirkan hal yang lainnya.

"Nanti mau balas chat dia apa ya?"
"Foto yang keren buat diunggah ke Instagram yang mana?"
"Sialan. Ask.fm sepi. Ini gaada yang nanya?"
"Eh dia makin cantik, kok bisa?"

Segala hal tidak penting yang berlagak penting. Seolah-olah aku akan mati kalau tidak check-in di lokasi aku berada.

Bila gps dalam jiwaku dilacak keberadaannya, mungkin..

Aku di penjara. Menjadi tahanan kegoblokan sosial media.

Tolong, bebaskan aku sekarang.