“Maybe I am not smart
enough to write about anything other than stories based on my feelings.” Kalimat
ini gue kutip dari blog Kak Athalia Soemarko, nerdusmaximus.blogspot.com. Fyi, gue belum pernah ketemu Kak Atha
sebelumnya. Gue cuma pernah berkirim email dengannya ketika teman gue, Jean,
hendak berkuliah di Universitas Pelita Harapan. Back to the topic, kalimat Kak Atha itu hits me hard. Apalagi ketika gue melihat blog ini hahahaha.
Berkali-kali gue berniat menghapus postingan lama, bahkan menghapus blog ini
sekalian. Tapi langkah gue tersebut terhenti karena tulisan-tulisan itu,
seberapapun buruknya, merupakan rekaman kehidupan gue. Tulisan tersebut yang
bisa mengingatkan gue pada hal-hal yang pernah gue lalui. Meskipun, most of time, gue menulis ketika gue sedang
bingung, lelah, marah dan perasaan kurang bahagia lainnya.
Gue juga merasa tertampar oleh kutipan Kak Atha itu karena
gue menghadapi kenyataan tulisan akademis gue yang tidak ilmiah. Betapa malunya
gue ketika gue, sebagai anggota dari organisasi Jurnalistik-Kelimuan terbesar
dan prestisius sefakultas, seuniversitas, (bahkan menurut gue) se-Indonesia
untuk tingkat mahasiswa, justru memiliki kosakata yang sangat kurang. Ketika
semua orang di sekitar gue sangat kritis, gue malah tidak memiliki opini
sendiri. Tugas dan ujian paper gue pun
berisi analisa yang dangkal. Bahkan gue tidak paham ketika teman-teman gue
mulai membicarakan tingkat suku bunga BI dan the Fed, serta bagaimana keduanya
saling berhubungan. Apalagi ketika mereka berbincang tentang bagaimana hal-hal
tersebut bisa memengaruhi kehidupan kita masing-masing. Saat-saat seperti itu,
gue merasa gagal menjadi mahasiswa Ekonomi.
Gue lebih bisa menghabiskan waktu berjam-jam duduk,
merenung, bertanya-tanya pada diri gue sendiri, “apa itu kejujuran?” “siapa yang
menyampaikan kebenaran?” “mengapa dunia ini begitu kejam?” “apakah korupsi dan
kemiskinan itu bisa dimusnahkan?”. Rasa-rasanya gue sulit sekali betah
berlama-lama dengan karya-karya Robert Pindyck, Alpha Chiang, Krugman, Todaro dan
ekonom lainnya. Gue lebih antusias buka instagram daripada The Economist.
Bahkan gue lebih tertarik menyimak snapchat Keenan Pearce daripada data
susenas.
Lalu apa yang harus gue lakukan sebagai mahasiswa Ekonomi?
Entah. Gue kuliah ambil……………………………………..hikmahnya aja.
Gadeng.
Setelah gue pikir-pikir, gue mungkin ga akan kayak gini,
kalau gue berhenti bertanya, “is it
something I really want to do?”. Kalau dulu gue memutuskan untuk hanya
terfokus pada keinginan jadi menteri, mungkin gue tidak sebingung sekarang.
Mungkin saat ini gue sedang belajar mati-matian tentang mikroekonomi sambil
mempersiapkan diri untuk konfrens internasional. Lalu bulan depan gue tenggelam
dalam kesibukan sebagai peneliti. Gue mengisi waktu luang dengan menganalisis
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ya, jika gue tidak membuka diri untuk mencoba
hal-hal baru, mungkin itu yang sedang gue lakukan sekarang. Mungkin.
Tapi sayangnya, dulu gue menambah daftar keinginan gue.
Keinginan-keinginan yang tidak terhubung satu sama lain. Atas nama “ingin menikmati segala rasa dalam
kehidupan”, gue memecah-mecah konsentrasi. Fokus terbelah jadi
keping-keping. Keinginan inilah yang ketika gue bawa pada sebuah forum serius,
gue dibantah. Gue diharuskan untuk memilih. Gue diberi peringatan bahwa untuk
menjalankan suatu profesi, butuh TOTALITAS. Inilah yang katanya belum bisa gue
berikan bila fokus gue masih terbagi-bagi.
Ketika gue memikirkan apa cita-cita gue sekarang, gue
teringat pada konsep yang diperkenalkan Keynes, Beauty Contest. Analoginya
adalah peserta diminta untuk memilih yang tercantik, yang terpopuler akan
mendapatkan hadiah. Pertanyaannya kemudian adalah apakah seseorang akan memilih 'yang tercantik' berdasarkan penilaiannya sendiri, atau ia akan memilih berdasarkan penilaian kebanyakan orang?
Demikian pun hidup gue sekarang ini, setelah gue melihat
berbagai pertimbangan, apakah gue akan menentukan cita-cita berdasarkan
keinginan gue sendiri atau berdasarkan keinginan kebanyakan orang agar gue bisa
mendapatkan suatu ‘hadiah’?
Hm.
WELCOME TO THE GAME THEORY.