Halaman

Jumat, 27 November 2015

sekilas tentang politik dalam hidup gue

27 November 2015
11:23
Lotus House, Depok

Tulisan ini gue persembahkan untuk diri sendiri sebagai kado akhir di usia yang ke-18 tahun.

Kemarin, di kampus gue berlangsung eksplorasi publik calon ketua BEM dan BPM. Gue ikut bentar doang, hanya sampai salah seorang meminta eksplorasi ditunda dan mengajak hadirin mendukung kontingen futsal fakultas. Setelah pemberitahuan itu, gue dan kedua orang teman lalu menyaksikan pertandingan futsal. Namun seusai pertandingan futsal, gue tidak kembali menyaksikan eksplorasi publik.
Meskipun tidak mengikuti eksplorasi publik, gue terus memantau perkembangan eksplorasi melalui lini masa sebuah badan jurnalistik dan group Line. Bahkan, gue menjadi agak terlambat mengumpulkan tugas lantaran keasyikan memantau perkembangan eksplorasi publik. Di hadapan layar ponsel yang selalu gue tatap, gue antusias. Diam-diam, gue antusias pada politik kampus.
Ibarat mengagumi seseorang dari jauh, mungkin seperti itulah hubungan gue dan politik, baik politik kampus maupun politik nasional.
Sejak kecil, gue selalu bersemangat pada hal-hal berbau politik. Gue senang ketika mengamati orang berbincang mengenai partai politik, gue mendengar dengan seksama ketika tetangga gue saling mengunggulkan calon pemimpin yang mereka pilih, dan gue suka nguping ketika bokap ngobrol soal apa yang terjadi di balik kenyataan yang diliput media. Namun sayangnya, sama seperti hukum, gue ga memiliki kesempatan untuk mendalami politik. Gue pun tidak menciptakan kesempatan semacam itu.
Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, gue pernah dimintai tolong oleh orangtua untuk menyebarkan kalender & brosur. Kedua hal ini adalah atribut kampanye salah seorang rekan bokap. Suatu kali, Opa (sapaan bokap untuk rekannya itu) dan istrinya, Oma, berkunjung ke rumah. Katanya, beliau sempat mencari gue, hendak berterima kasih atas partisipasi gue dalam menyebarkan publikasi kampanye beliau. Saat itu, gue masih memakai seragam putih merah dan secara tidak langsung berkontribusi pada kampanye salah seorang calon anggota dewan. Gue ikut senang ketika beliau ternyata memiliki suara terbanyak dan lolos ke Dewan Perwakilan Daerah.
Antusiasme dan rasa penasaran gue tentunya banyak dipengaruhi oleh bokap gue. Walau pada kenyataannya, beliau tidak pernah mengajari gue secara eksplisit dan tidak pernah mengarahkan gue untuk menyukai hal semacam ini. Bokap gue pernah bergabung dalam berbagai partai politik. Pernah menjadi bagian dari moncong putih, pohon beringin dan pernah mencalonkan diri untuk DPRD mewakili partai Kristen. Beliau pernah menikmati rasanya terjun langsung ke dunia itu, tapi gue nggak. Tary kecil hanya mengamati apa yang dilakukan ayahnya. Maka tak heran, bila gue sering menajamkan pendengaran ketika beliau berbincang soal politik. Gue pernah melihat foto bokap berada pada barisan terdepan suatu demonstrasi sambil memegang toak. Mungkin dulu beliau adalah aktivis juga..
Gue pernah merasakan deg-degannya menunggu hasil pilkada. Waktu itu gue masih SMP. Gue ikut mendoakan yang terbaik. Gue mendengar kabar kecurangan pilkada. Gue merasakan dinamika dari yang tadinya dapat kabar, "suaranya masih memimpin" berubah menjadi "ternyata ga lolos, suaranya beda dikit". Gue pernah melihat keluarga yang mengikhlaskan perngorbanan yang telah dilakukan untuk kampanye. Pada masa kampanye, gue mendengar kabar soal money politic dan kesulitan para calon yang benar-benar ingin bekerja untuk masyarakat tetapi tidak didukung dana. Gue melihat gimana tiba-tiba orang mendekat pada saat masa kampanye, kemudian setelah itu, mereka pergi lagi. Gue merasakan orang yang minta berbagai hal dari yang masuk akal hingga yang tidak masuk akal. Gue mendengar upaya kampanye ke daerah-daerah pelosok, yang masyarakat ketika diajak kerjasama untuk kebaikan mereka, eh mereka orientasinya, "kami butuhnya cuma duit, ada duit beres". Sampai akhirnya, gue bersyukur, karena gue berada di keluarga yang bisa ikhlas dan tidak menghalalkan segala cara. Coba bandingkan dengan para calon pada masa itu? Banyak yang mengorbankan harta mereka, seluruhnya, dan ikut bermain dengan 'serangan fajar', ternyata mereka ga kepilih. Setelah pengumuman, mereka menggila. Mereka terpaksa turun ke jalan dan menjadi gelandangan.
Sewaktu SMA, gue senang ketika teman dekat gue maju sebagai Ketua Osis. Tanpa diminta, gue senang berkontribusi sebagai fotografer dan ikut mempromosikan dia melalui media sosial. Tidak ada imbalan yang gue terima. Setelah dia terpilih, gue juga nggak lantas diangkat menjadi pengurus OSIS. Gue berkontribusi semata-mata karena gue mengetahui kapabilitas dia dan gue menyukai apa yang gue kerjakan. Politik sekolah, kata gue.
Tapi sejauh ini, gue tidak pernah bermimpi menjadi politikus. Untuk politik, gue cuma pengen mengamatinya. Meski menurut gue politik itu kotor, gue belum punya dorongan untuk masuk dan membersihkan kotoran itu. Menurut gue, diri gue belum siap. Ibaratnya, meskipun gue bersih, tetapi ketika gue masuk ke kandang kambing yang kotor dan tinggal di sana beberapa lama, agak mustahil gue keluar dari kandang itu tanpa bau kambing atau tanpa terkena kotoran kambing. Kecuali, gue sudah melindungi diri gue dengan pakaian anti kotoran yang superwangi yang memungkinkan gue keluar dari kandang itu tanpa terkontaminasi kotoran dan bau.
Tulisan ini agar gue ga lupa bahwa gue pernah tertarik pada politik. Biar gue ga menutup mata pada politik. Karena sudah banyak sekali hal dalam hidup yang dipolitisasi. Inilah kenangan sekilas gue pada rasa cinta yang ga pernah tumbuh subur. Cinta yang tak pernah dipupuk dan dirawat tapi selalu menemukan jalannya untuk tumbuh. Kenangan ini gue persembahkan sebagai hadiah ulang tahun untuk diri gue sendiri. 

Selamat ulang tahun ke-19, Tary. Sama seperti lo antusias pada politik meski merasa politik itu kotor, antusiaslah juga pada hidup meski banyak hal tidak menyenangkan di dalamnya. Bedanya, jalanilah hidup dengan hati yang tulus dan ikhlas. Percaya bahwa hal-hal baik akan lo beri dan peroleh tahun ini..
Tuhan menyertai, Tary.

Tidak ada komentar: