Halaman

Senin, 24 Juni 2013

Sekolah Dambaan adalah Bagian dari Mimpi

Photo by Tary


Burung bukanlah burung, jika tak memiliki sayap. Karena itulah yang membuatnya dapat terbang. Demikian pun manusia belum menjadi manusia seutuhnya tanpa mimpi. Karena mimpilah yang mendorong manusia berpetualang dalam hidupnya.
~Lestary Jakara Barany~

Sebagai seorang manusia, saya pun punya mimpi. Bagi saya mimpi itu seperti bahan bakar untuk kendaraan kehidupan dan untuk terus hidup saya harus memastikan saya tidak kehabisan bahan bakar, saya perlu terus bermimpi. Kali ini saya bercerita mengenai salah satu mimpi itu. Suatu impian tentang sekolah dambaan.
Saat ini saya adalah siswa kelas 12 salah satu SMA di Makassar. Hampir 12 tahun saya melalui hari-hari sebagai seorang pelajar yang menghabiskan waktu ± 7 jam per hari di sekolah. Waktu tersebut belum termasuk kegiatan ekstrakulikuler, rapat panitia, dan kegiatan sekolah lainnya. Meski tahun ini adalah tahun terakhir saya di SMA, saya tetap mendambakan sekolah idaman yang memiliki kriteria tertentu sesuai selera saya.
Pertama, guru-guru sekolah dambaanku tidak boleh menggunakan kekerasan. Setiap manusia memiliki karakter yang berbeda, termasuk guru, ada yang berwatak lemah lembut dan ada yang tegas. Namun tegas bukan berarti keras. Tegas yang saya maksudkan adalah berani mengambil keputusan yang tepat, bersikap disiplin tanpa pandang bulu dan tidak nepotisme. Guru yang memukul muridnya, mencubit, menampar murid atau menghantam meja bukanlah guru yang tegas. Hal tersebut hanya memperlihatkan kekerasan terhadap anak. Maka wajar jika mahasiswa sekarang berdemonstrasi dengan anarkis, karena itulah yang mereka peroleh selama di bangku sekolah. Adapun akibat lain dari mendidik dengan keras adalah akan menimbulkan trauma, membuat anak ketakutan dan kehilangan rasa percaya diri.
Terlepas dari tipikal guru sekolah dambaanku yang idealis ataupun realistis, mereka haruslah open-minded. Mereka harus sadar bahwa perkembangan teknologi membuat akses informasi siswa semakin luas, jadi mereka bukanlah ‘orang yang paling tahu’ ataupun ‘orang yang paling benar’. Guru dambaan juga perlu menyadari bahwa bakat tiap siswa tidak sama, tapi mereka sama-sama punya bakat. Saya sangat mengharapkan guru mampu membantu setiap siswa mengembangkan bakatnya bukannya memaksakan suatu bakat dikembangkan pada seorang siswa. Seorang guru dambaan bukanlah guru yang suka memaksa dan tidak menghargai keputusan siswa, tapi guru yang menghargai keputusan dan prioritas yang telah dibuat oleh siswa dan memberi mereka ruang untuk berkarya dengan kemampuan yang mereka miliki masing-masing.
Kedua, fasilitas pembelajaran tidak harus mewah, tetapi harus lengkap. Ruang kelas tidak harus menggunakan 3 buah AC, yang penting suasana dalam kelas tetap sejuk dan nyaman untuk belajar. Setiap ruang kelas sebaiknya diisi oleh 20-30 siswa, agar proses belajar mengajar lebih efektif. Lingkungan sekolah perlu dijaga kebersihannya, alangkah indahnya jika koridor sekolah dihiasi oleh tanaman yang terawat dan sekolah memiliki pohon-pohon yang hijau dan rindang yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat diskusi dan kerja kelompok bagi siswa.
Ketiga, saya kurang suka dengan banyaknya tugas rumah seperti latihan soal dari buku paket yang diberikan oleh guru. Menurut saya, soal seperti ini semestinya dikerjakan di sekolah dan tugas rumah yang diberikan oleh guru sebaiknya dalam rupa project yang akan melatih aspek lain seperti kemampuan bekerja sama, kepemimpinan, dan keberanian siswa tampil di depan umum. Menulis esai juga salah satu bentuk pekerjaan rumah yang baik karena melatih siswa untuk berpikir logis dan berani berargumen. Tugas dan pekerjaan rumah yang diberikan tidak hanya mengembangkan aspek kognitif dalam diri siswa tetapi juga aspek lain seperti afektif dan psikomotor, sehingga pelajar Indonesia dapat tumbuh cerdas dan bermartabat.
Akhirnya, saya berharap pendidikan di Indonesia bukan sekedar menghafal materi tetapi juga mengembangkan wawasan berpikir siswa. Selain itu, sebagai pelajar saya berharap tingkat kelulusan tidak lagi ditentukan oleh Ujian Nasional. Seorang pelajar belajar untuk mencapai cita-cita dan mempersiapkan kehidupan di masa depan bukan untuk ujian nasional. Suatu hal mengecewakan jika usaha kami selama 3 tahun ditentukan oleh 3 hari dengan persiapan pelaksanaan yang kurang baik, seperti kekacauan yang terjadi pada penyelenggaraan UN 2012. Namun demikian, saya masih optimis dengan masa depan cerah bangsa ini. Mari bersama kita wujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baik. Majulah pendidikan Indonesia. Merdeka!


Rabu, 17 April 2013

(Semoga Bukan) Lelah Tanpa Akhir

April adalah bulan yang positif. Sebut saja itu sebuah keyakinan. An affirmation for this month. Saya melalui minggu pertama April dengan sangat mudah. Namun tidak untuk minggu kedua dan ketiga. Tidak untuk saat ini..

Dua minggu terakhir ini, saya diselimuti perasaan gundah-gulana, penyebabnya beragam. Bukan berarti saya tidak pernah bersenang-senang. Saya sering sekali bersenang-senang, hanya saja perasaan saya seringkali tidak tenang. Belakangan juga saya terus-terusan diperhadapkan dengan lingkungan sekitar yang negatif. Sangat menyebalkan ketika semua pikiran positif yang telah kau bangun dan berusaha bagikan ke orang lain, lalu disambut dengan sikap negatif satu orang. Kemudian, kedamaian hatimu terusik dan kau menjalani sisa harimu dengan sisa-sisa pikiran positif yang ada.

Pernyataanku tadi, bisa dibantah dengan pemahaman bahwa akan selalu ada orang negatif di dekitar kita dan kita hanya perlu tetap bersikap positif. Ya, benar. Saya setuju. Itu seringkali berhasil. Namun tidak untuk saat ini. Sesuatu yang salah sedang terjadi... Entah mengapa emosi saya menjadi mudah terpancing oleh segala bentuk sikap negatif mereka.

Akhirnya, saya pun berusaha menyibukkan diri, namun apa yang saya peroleh? Lelah fisik!dan batin saya pun tidak menjadi lebih baik. Lalu saya berpikir saya mungkin perlu melarikan diri dulu, maksudku beristirahat dan tidak melakukan hal-hal berat seperti mengerjakan tugas sekolah. Tetapi saya tak unjung memperoleh ketenangan. Pikiran saya tetap saja merajalela. Saya bahkan tidak bisa tidur hingga pagi menjelang. Saya juga tidak bisa menikmati makanan karena semua makanan bahkan minum seperti sulit sekali untuk ditelan. Saya merasa nervous, gelisah tak karuan, entah untuk apa.. kemudian saya berpikir saya mungkin stress dengan dunia yang fana ini, lalu saya mencoba mencari cara agar tidak stress, dan memikiran solusi tersebut malah membuat saya semakin stress.

Di sisi lain, ada satu hal yang kembali saya sadari akhir-akhir ini, yakni HIDUP INI BEGITU DINAMIS. Jika saat ini saya mampu menulis, membiarkan jari-jari saya menari di atas keyboard dan mengungkapkan apa yang saya pikirkan, sedetik setelah ini saya bisa saja terdiam untuk waktu yang lama. Duduk menatap layar laptop dan pikiranku pun merajalela, hingga saya lupa bahwa saya sedang mengerjakan sesuatu. Setelah itu, ketika saya ingin melanjutkan kembali tulisan ini, saya lupa, saya tidak tahu lagi apa yang akan saya tuliskan.

Rasanya, saya masih belum paham bagaimana semesta bekerja dan saya pun tidak akan sanggup menganalisanya..

Mungkin semua yang terjadi dengan diri saya belakangan ini erat kaitannya dengan kemampuan berimajinasi saya. Kemampuan saya merasakan apa yang saya bayangkan dan bertingkah bahwa segala apa yang saya pikirkan adalah nyata.

Apapun yang terjadi dalam diri saya saat ini, saya harap ini tidak akan berlangsung lama. Saya sudah cukup lelah. Saya butuh istirahat. Saya akan baik-baik saja..

el

Selasa, 16 April 2013

Music: Westlife - Close



Across the miles
It's funny to me
How far you are but now
Near you seem to be
I could talk all night
Just to hear you breathe
I could spend my life
Just living this dream
You're all I'll ever need

You give me strength
You give me hope
You give me someone to love someone to hold
When I'm in your arms
I need you to know
I've never been
I've never been this close

With all the lovers
I used to know
I kept my distance I never let go
But in your arms I know I'm safe
'Cause I've never been held
And I've never been kissed in this way
You're all I'll ever need
You're all I'll ever need

Close enough to see it's true
Close enough to trust in you
Closer now than any words can say

And when, when I'm in your arms,
I need you to know I've never been
I've never been this close


You give me strength
You give me hope
You give me someone to love someone to hold
When I'm in your arms
I need you to know
I've never been
I've never been this close...

Rabu, 27 Maret 2013

Sebuah Pesan

Tahu rasamya ketika malam tiba dan kau tidak bisa tidur hingga matahari kembali terbit? Atau sekalipun kau akhirnya tertidur, kau terus-terusan dihantui mimpi buruk? Begitulah aku melalui malam-malamku akhir-akhir ini...
Semuanya karena merasa bersalah.

Pernah merasa seperti melihat dirimu sendiri ketika melihat orang lain? Begitulah perasaanku akhir-akhir ini...

Setiap kali melihatnya, aku seperti melihat diriku yang dulu. Dia memekarkan kembali kenangan itu dalam benakku. Dia persis seperti aku (yang dulu) dalam raga seorang anak laki-laki..

Merasa bersalah karena aku tidak berani menyapa diriku yang dulu, yang masih takut menerima kenyataan, yang belum siap menerima kelemahanku. Ini seperti shitdejavu.

Tidak. Aku tidak menyalahkannya karena mengingatkanku lagi. Ini semua memang bisa saja terjadi...lagipula itu semua hanya masa lalu.

Sekarang, aku berada di sini, menjalani hidupku. Biar bagaimanapun, dia mengingatkanku untuk mengucapkan terima kasih kepada kenangan. Karena masa-masa itu adalah sebuah proses perkembangan diri yang masih berlangsung hingga saat ini..

Penyampainku mungkin amburadur dan membuatmu sulit mengikuti alur ceritaku kali ini. Maaf. Kurang tidur membuatku sulit berpikir dengan jernih..

Seandainya saja dia tahu, atau bagaimana bila kutitipkan pesan ini padamu, biar kau saja yang menyampaikan padanya..

Bahwa ketika merasa di bawah, beban hidup terasa sangat berat, penting untuk bersabar dan bertahan, hanya saja bertahan saja tidak cukup, bangkit itu keharusan! Kalau kau merasa tidak memiliki dorongan dan motivasi yang cukup kuat, cobalah gali emosi dalam dirimu sendiri dan tetaplah dalam kontrol..karena hidup tidak bisa selalu bergantung pada orang lain. Lagipula, you are your own motivator.

Kalau kau perlu orang lain, kau boleh saja menghubungiku, itu pun jika kau mau berbagi kepercayaan padaku..

Kenyataan yang kuperoleh dari hidup adalah kita akan sulit berubah tanpa alasan yang kuat dan alasan terkuat yang pernah kurasakan adalah... cinta.

Karena cinta yang tulus mampu mendorong kita memberikan yang terbaik.

Bilamana hal tersebut juga berlaku padamu, find your love and make a change!



~el

Rabu, 13 Maret 2013

Sesibuk Apapun Kamu



Sesibuk apapun kamu,
jangan abaikan kesehatanmu..
Sesibuk apapun kamu,
nikmati saja semuanya
dan jadilah bahagia..

Sesibuk apapun kamu,
luangkanlah waktumu walau sejenak
tuk sekedar bersyukur pada Tuhan.
Sebab karena Ia,
kamu masih bisa menjalani kesibukanmu..

Sesibuk apapun kamu,
jangan pernah lupa kalau
aku sayang kamu..
aku rindu kamu..
Segera hubungi aku, sayang.

Love,
Jeibi.

Rabu, 02 Januari 2013

Movie: Habibie dan Ainun


Malam pertama (1 Januari 2013): Habibie dan Ainun.


Satu lagi film Indonesia yang memukau saya, Habibie dan Ainun, sebuah film yang diangkat dari buku bestseller yang bercerita mengenai kehidupan mantan Presiden RI, BJ Habibie dan istrinya, Hasri Ainun. Film ini bercerita tentang kisah cinta sejati, pasangan yang saling mendukung, setia, bagaimana keteguhan dalam menghadapi permasalahan hidup, dan menjadi pribadi yang bersih.

Dalam tulisan ini saya tidak akan menceritakan alur film ini, hanya akan menuliskan apa yang saya pikirkan…

“Hai Ainun, kamu jelek, item. Kayak gula jawa.” kata Rudi (sapaan Habibie) kepada Ainun ketika mereka masih SMA.

Beberapa tahun kemudian, ketika mereka bertemu kembali, Rudi berkata dengan kagum, “gula jawa jadi gula pasir.” Ia begitu terpesona dengan Ainun yang bertumbuh menjadi wanita yang cantik, putih, dan mempesona. Tidak hanya itu, Ainun dewasa kini menjadi Ibu dokter yang berwawasan luas, dia menjadi jauh lebih pintar dan cerdas dibanding dari masa SMA dulu.

Ketika mereka berdua tinggal di Jerman, Ainun sempat merasa rindu dengan tanah airnya, ia juga merasa keberadaannya di Jerman hanya menambah beban Habibie. Namun Habibie menggenggam tangan Ainun dan meyakinkannya, katanya, “setiap terowongan memiliki ujung, ada cahaya. Saya janji akan membawamu ke cahaya itu. Saya janji.”

Gambaran Ainun sebagai istri ideal dalam film ini begitu sempurna. Dapat dilihat pada bagian dimana Habibie, sebagai Presiden begitu sibuk sekali dengan permasalahan bangsa. Pada masa itu seluruh nusantara meneriakkan reformasi. Ainun, ketika mendapati Habibie masih juga berkutak dengan laptop dan buku-bukunya di larut malam, menghampirinya, menyuruh Habibie beristirahat. Dia perihatin dengan suaminya yang selama menjabat menjadi presiden hanya tidur sejam sehari.

“Kamu itu orang paling keras kepala dan yang paling sulit yang aku kenal. Tapi kalau aku harus mengulang hidupku lagi, aku tetap memilih kamu.” –Ainun

Setelah tidak menjadi presiden lagi, di depan pesawat N250, pesawat pertama Indonesia yang dirangkainya, ia berkata, “Bangsa ini bisa jadi bangsa yang mandiri, tapi mereka tidak pernah percaya.”

Begitulah film ini terus berlanjut sampai menemukan akhirnya…

“Ada banyak cara mencintai negeri ini…dan kamu dapat salam dari Indonesia.”
-Pecinta Indonesia, L.