Halaman

Senin, 22 November 2010

Diskriminasi Ketika Kecil Membawa Prestasi di Masa Depan

Ayah dan ibu saya benar-benar berjuang dalam hidup mereka. Dulu, sewaktu saya berumur 2 tahun, saya tinggal disebuah rumah yang bukan terbuat dari batu bata atau batu-batuan yang lainnya. Rumah kami dulu terbuat dari papan tripleks (seingat saya, hehe). Tidak besar juga tidak kecil. Rumah itu cukup untuk menampung kami (aku, ibu, dan ayahku yang tidak selalu ada di rumah). Ayah sering keluar kota untuk berbagai kepentingan. Dia benar-benar seorang pejuang. Saya pernah melihat fotonya yang sedang memimpin aksi demo para buruh. Saya bangga punya dia. Dari foto tersebut saya belajar untuk dapat mengemukakan pendapat dan membantu oranglain dalam mengungkapkan aspirasi mereka.
Suatu hari ketika ayah pergi ke suatu kota, saya tinggal berdua dengan ibu saya. Rumah kami tidak besar hanya terdiri dari ruang tamu sederhana (juga digunakan untuk menonton TV), dapur, kamar mandi, dan sebuah kamar tidur. Saat itu ibu saya sedang tidur siang. Saya sendiri dan pintu rumah dikunci (saya tidak bisa keluar rumah). Padahal saya merasa bosan saya ingin bermain. Namun, karena tak dapat keluar rumah, saya hanya melihat tetangga seumuran saya bermain diluar. Saya hanya dapat melihat mereka dari jendela. Karena sering merasa kesepian tanpa sadar saya sering melamun bermain dengan dunia khayalan saya. Sangat jarang bermain dengan teman sebaya. Saya pun tumbuh menjadi anak yang pemalu yang terkesan cuek dan sombong.
Karena sifat-sifat itulah saya terkadang merasa sulit masuk kedalam sebuah komunitas. Amat sulit bagi saya untuk menyapa oranglain terlebih dahulu. Sampai ada peristiwa yang saya rasa sering terjadi.
Hampir setiap kali saya bergabung dengan suatu komunitas baru (baik itu sekolah baru, ekskul, organisasi, dan kepanitiaan) saya sering merasa terkucilkan. Saya merasa orang-orang lain bersikap diskriminatif terhadap saya. Mereka mungkin berpikir: “ihh !! dia bisa apa ?? penampilan saja hancur, kulitnya hitam, badannya kurus, pendek. Paling juga anak-anak kampung -,-“.
Dan saya benar-benar merasakan DISKRIMINASI. Suatu ketika saya harus memberi kabar kepada orang tua saya, saya tidak membawa HP, saya pun berniat meminjam HP dari mereka. Tapi tak ada seorangpun yang meminjamkan. Mereka memberi banyak alasan dan saya bisa memastikan bahwa semua itu ALIBI PALSU !!
Hari-hari terus berlalu dan saya secara perlahan saya telah memperlihatkan kemampuan saya. Barulah sejak saat itu mereka satu per satu menghampiri saya. Untuk beberapa kali mereka meminta bantuan saya dalam hal pelajaran. Saya mencoba membantu sebisa saya. Namun ketika masa lalu itu kembali terbayang, amat teramat sulit untuk tidak merasa KESAL pada mereka.
Setiap goresan hidup saya, hampir tak pernah terpisahkan dari diskriminasi. Namun, dari diskriminasi ini, saya terdorong untuk lebih berprestasi.
Terinspirasi dari Obama yang masa kecilnya didiskriminasi namun kini masa depannya tak lepas dari prestasi :)

Melawan Virus

Masuk Rumah Sakit untuk kedua kalinya. Sebenarnya ini yang ketiga kalinya. Pertama, ketika SD dimana saya didiagnosa sakit DBD, eh ternyata hanya alergi cuaca. Kedua, bulan lalu, beberapa hari setelah ujian MID usai. Dan ketiga (saya harap ini yang terakhir), pada tanggal 12-11-10 (12 November 2010). Hanya selang 2 minggu setelah saya keluar RS bulan lalu.
Bulan lalu saya divonis terkena Tifus. Yah begitulah, orang-orang terus-terusan menyarankan saya agar banyak istirahat dan tidak kelelahan. Tapi saya tetap berterima kasih karena perhatian kalian J :* dan karena telah pernah menderita tifus, saat masuk RS kembali, kami mengira tifus saya kembali kambuh.
Saya diantarkan ke RS Stella Maris karena demam yang naik turun. Saat dirumah suhu badan saya mencapai 40,4 0C. saat diperjalanan demam saya mulai turun. Sesampainya di IGD (Instalansi Gawat Darurat) saya akan dipasangkan infus. Tangan kiri saya nadinya tidak kelihatan, makanya dipindah ke tangan kanan. Tapi tangan kanannya harus dikorek (bahasa medisnya apa ya ?? -.-) baru kelihatan.
Setelah itu, karena tak mampu untuk berdiri lama apalagi jalan, saya diantar ke kamar dengan menggunakan kursi roda. Kamar saya ada dilantai 3 karena itu kami harus naik lift. Sesampainya di kamar, saya berniat istirahat. Namun karena tak bisa tidur, saya berusaha meraih ponsel saya, hal yang kemudian saya lakukan adalah membuka Facebook & Twitter. Sekedar ingin mengetahui kabar teman-teman saya. Saya lalu terlelap … =,=
Hmm, waktu berlalu. Setelah hasil laboratorium keluar, ternyata tifus (-) trombosit saya turun menjadi 139.000 ml (setahu saya 139 tapi ga tau 139 apa, hehe). Tapi DBD juga (-). Saya merasa mual, terus-terusan muntah, apalagi setelah minum air, padahal trombosit saya turun. Keesokan harinya trombosit saya turun lagi menjadi 100.000 ml. saya lalu diminumkan berbagai obat tradisional, mulai dari beras merah cina (dari cina beneran emang ?? haha), jus pir+buah merah, sari buah kurma, dan air kelapa. Andatahu perasaan saya saat itu ?? PENGEN MUNTAH !! -,- setelah minum minuman memuakkan itu, badan saya jadi merah, ibu saya dan salah seorang perawat mengatakan bahwa saya terkena sarampa (salah satu jenis campak), saya pun diminumkan kusumba teratai. Benar-benar menyiksa saat-saat seperti itu.
Saya kembali tes darah dan hasilnya trombosit saya meningkat jadi ± 400.000 ml hampir 500.000 ml. benar-benar peningkatan. Setelah tes darah dan urin dan hasilnya adalah baik-baik saja, hanya saja ditemukan ada infeksi. Namun dimana letak infeksi itu tidak diketahui. Dokter lalu meminta agar saya di foto. Setelah paru-paru saya difoto, hasilnya juga baik-baik saja. Kami lalu teringat bahwa saya pernah di”gurah” (pengeluaran lendir lewat mulut), saya pun di consult ke dokter THT. Ternyata, selama ini saya tidak mengidap sinutisis, saya hanya terkena alergi dan sekarang saya dilarang makan makanan instant + vitsin.
Semua hasil tes baik. Tak ada masalah yang serius. Dokter lalu mengdiagnosa bahwa saya terinfeksi virus (virus apa dan dimana tidak diketahui) maka untuk melawannya saya harus banyak makan, agar ‘komplotan virus’ dapat terkalahkan HAHAHA :D
Dengan semangat yang ogah-ogahan saya berusaha untuk makan. Alhasil, saya pun boleh keluar dari RS. Dokter hanya berpesan untuk berobat jalan dan jaga kesehatan. Siipp, pak dokter !! J
Akhirnya, saya dapat menghirup udara bebas ….

Jumat, 05 November 2010

5 Penyakit Hati

Tak ada manusia yang sempurna. Inginnya sih hati selalu bersih, tetapi selalu ada saja hal-hal negatif yang mengotori hati. Sebelum makin keruh, ketahuilah 5 macam hal yang bisa mengotori hati:

1. Iri hati
Sifat ini membuat kita selalu merasa tidak senang dengan kesenangan, kebahagiaan, keberuntungan, dan kesuksesan orang lain. Kita pun cenderung berusaha menyaingi orang itu dengan berbagai cara. Bahkan, terkadang kita ingin merusak kesenangan itu. Namun, jika rasa iri lebih kepada ke arah kebaikan, seperti ingin sukses agar dapat menyebarkan ilmu di kemudian hari atau iri untuk menyebarkan kebahagiaan kepada orang lain, boleh-boleh saja, lho.

2. Provokatif
Sifat ini membuat kita berusaha untuk selalu memengaruhi orang lain melakukan tindakan yang kurang baik. Misalnya, menulari kebencian kita kepada orang lain atau memanas-manasi dengan tujuan menimbulkan permusuhan atau melahirkan kebencian dengan orang itu kepada orang lain.

3. Menebar fitnah
Inilah kegiatan menyebarkan kejelekan orang lain sehingga nama baik orang itu tercemar atau membohongi seseorang agar menimbulkan kebencian.

4. Berburuk sangka
Buruk sangka adalah sifat yang selalu mencurigai atau menyangka orang lain berbuat buruk tanpa disertai bukti yang jelas.

5. Ingkar janji
Penyakit hati ini berupa sikap tidak bertanggung jawab atau mangkir atas amanat atau kepercayaan yang telah dilimpahkan orang lain kepada kita. Biasanya disertai bohong dengan mengobral janji. Orang yang sering ingkar janji berisiko tidak disukai orang di sekitarnya dan kemungkinan besar tidak akan dipercaya lagi untuk mengemban suatu tanggung jawab di kemudian hari.

Bagaimana menurut Anda, apakah ada “penyakit-penyakit” hati lain yang patut dihindari supaya hati kita bisa senantiasa bersih?

Mencari Sahabat

Banyak orang berpandangan bahwa tak tidak ada sahabat abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Mengapa demikian ? Bukankah tidak mudah mendapatkan sahabat sejati ? Persahabatan bisa sambung dan putus, sahabat bisa datang dan pergi. Semuanya bisa berubah, juga persahabatan. Memang kepentingan diri juga bisa berubah, anmun ukuran persahabatan ditentukan oleh apa yang dipentingkan. Seakan-akan yang menentukan panjang pendeknya, berlanjut-tidaknya persahabatan adalah kepentingan, menguntungkan arau tidak, cocokdengan dirinya atau tidak. Padahal, kecocokan dan kesesuaian amat sulit langgeng. Pribadi yang berubah atau selera, minat, urusan yang sudah berbeda bisa membuat kita tidak cocok lagi. Akibatnya, tingkat persahabatan juga berubah.
        Tidak mudah menjalin persahabatan yang mendalam. Kepribadian yang mudah berubah dan kepentingan yang belum jelas benar. Itulah yang dialami beberapa orang. Padahal, mereka membutuhkan sahabat, terlebih sahabat dalam kesepian, teman kala duka, kawan ketika sakit dan terluka. Bagaimanakah caranya agar sahabat yang dicari dapat ditemukan ? demikian pertanyaan mereka. Tak cukup hanya mempunyai teman, tanpa sahabat di hati. Apakah bedanya ? “Teman ada untuk bersenang dan bercanda bersama, namun sahabat adalah dia yang juga ada di saat kita duka, saat kita butuhkan, saat hati membutuhkan dukungan,” demikian katanya. Tanpa menjadi sahabat sehati, bisa jadi kita menumpuk musuh dalam selimut, bagaikan menikam dari belakang, dikhianati, dilukai, seperti kata pemazmur. Ketika kita diperdaya, TIADA LUKA YANG LEBIH MENGANGA MENDALAM, SELAIN DIKHIANATI DAN DISAKITI OLEH DIA YANG TELAH DIPERCAYA YANG TELAH DIPANDANG DEKAT.
        Memang mudah menemukan teman untuk bersenang-senang. Apalagi bila kesenangan itu didapatkan tanpa mengeluarkan biaya. Akibatnya, ukuran persahabatan seperti itu adalah kesenangan dan suka. Kesusahan dan kedukaan tidak masuk dalam tolok ukur persahabatan tersebut, apalagi kemiskinan. Kekayaanlah yang menjadi ukuran. “KEKAYAAN MENAMBAH BANYAK SAHABAT, TETAPI ORANG MISIKIN DITINGGALKAN SAHABATNYA” (Ams 19:4). Hal-hal yang menguntungkan dan memperkaya dirilah yang dicari. Teman adalah orang yang bisa dimanfaatkan, yang memberi, dan tiada tempat dan hati untuk memberi. Saya mendapatkan apa ?? itulah yang dikejar. 

Bulan Iri pada Bintang

Bulan dan bintang,
Mereka hadir bersama dalam gelap malam.
Namun manusia seakan tak adil terhadap bulan.
Bintang bersinar terang, kerlap-kerlipnya seakan memberi harapan.
Dan bulan pun tahu akan hal itu.
Dia tahu bahwa banyak yang menanti keindahannya,
Tapi keindahan bintang jauh lebih dinantikan.

Saat ini saya berada pada posisi bulan. Terkadang saya memang harus menyadari bahwa saya tidak seperti mereka yang punya banyak uang dan penampilan menarik. saya tahu saya punya banyak teman, saya tahu beberapa dari mereka mengagumi keunggulanku. Tapi saya juga ingin mereka tahu bahwa saya juga merasa iri pada mereka. Sangat iri malah L
Sama seperti saat ini, saat saya tertarik dengan teman laki-laki saya. Saya tahu berapa hal tentangnya : orangtua, alamat, handphone, akun jejaring sosial, teman-temannya, mantan pacarnya, dan bahkan orang yang dia sukai. Cukup banyak bukan ?? saya senang punya teman sepertinya. Dia supel, anaknya gaul, enak diajak ngobrol, ramah, cerdas, termpil, dan berwibawa … haha :D (kacau nih !!) saya juga merasa punya kelebihan mulai dari yang biasa saja sampai bakat yang menarik.
Namun ketika mendengar seberapa antusiasnya dia bercerita tentang anak perempuan yang dia sukai, semuanya seakan berubah. Setiap hari yang saya lakukan hanyalah membandingkan diri saya dengan anak perempuan itu. Apakah saya lebih menarik dari dia ?? seberapa banyak harta yang saya miliki ?? punyakah saya suatu hal yang disebut ‘keterampilan’ ?? mampukah saya untuk berolahraga brsamanya ?? yang terakhir, apakah saya jauh lebih baik dari dia ??
Dan jawaban dari semua pertanyaan itu : TIDAK. Saya tidak cantik. Bagaimana mungkin saya menarik? Saya tidak punya banyak harta. Saya bahkan harus berpikir lama, jika teman-teman saya meminta untuk menraktir mereka makan. Keterampilan? Apakah mengelabuhi banyak orang termasuk keterampilan? Saya senang MELIHAT orang berolahraga. Tapi tidak untuk berolahraga. Nilai Pendidikan Jasmani di rapot bahkan hanya berkisar 75-80. Jadi, saya tidak lebih baik dari dia.
Dia gadis yang cantik, menarik, dan multitalent. Tak heran jika banyak anak pria yang menyukainya. Dan banyak gadis seperti saya yang iri dengannya. Pada akhirnya, saya pun merasakan apa yang dirasakan bulan itu.
Seperti sang rembulan, saya tahu bahwa ada orang lain yang lebih menarik untuk dinantikan. Orang itu memberi harapan seperti bintang. Mungkin saya tak pernah memberi mereka pencerahan dan pengharapan bagi mereka sehingga mereka hanya menyadari kehadiran saya, saat sang bintang tak terlihat.