Kutulis
lalu kuhapus.
Kutulis lagi
Lagi-lagi kuhapus.
Sebenarnya kisah apa
yang ingin kuceritakan?
Orang yang
berlalulalang tak mampu menjawab.
Hari berlalu dan yah kujalani semua, kuikuti jalur yang
berada di hadapanku. Kumulai merasa diriku berubah. Aku mulai berhura-hura,
pelan-pelan apa yang kuinginkan kuraih. Bukannya itu baik? Entah. Aku mulai
merasa mengikuti arus. Perjalanan mengubahku.
Entah ini baik atau tidak, aku berada pada satu titik di mana
aku ingin ‘aku yang dulu’ dan……… apa yang kuinginkan kuperoleh. Aku kembali
pada Tary yang sangat membenci konflik. Tary yang stress dan nyaris dibuat gila
oleh orang sekitar yang berkonflik, bermasalah, adu mulut, saling memaksakan
kehendak, intoleran, dan ohh… aku kembali pada Tary yang bisa memikirkan itu
semua sampai sakit kepala. Hingga mual. Pada akhirnya, Tary memilih
mengasingkan diri. Berada di antara banyak orang tapi sendiri.
Aku yang lebih memilih untuk memikirkannya sendiri. Lebih baik
menuliskan kisah ini pada benda mati yang menerima ceritaku, daripada bercerita
pada orang lain yang menginterupsi dan melakukan pembelaan diri. Toh, tidak
bisa dipungkiri orang curhat itu lebih ingin dibenarkan daripada memperoleh
kebenaran.
Hm…… ini membuatku berpikir bahwa kebenaran itu relatif.
Tergantung pada nilai-nilai yang seseorang percaya. Aih. Tayk. Hidup ini
terlalu kompleks.
Maafkan pemikiranku yang acak ini. Aku memikirkan banyak hal
sekaligus dan ini membuatku sulit berpikir sistematis.
---
Situasi lainnya. Aku mulai merasa bisa berbaur dengan keadaan
sekitar dan menghadapi kenyataan bahwa aku harus memulai sesuatu yang baru
lagi. Harus beradaptasi lagi. Mungkin hidup sejatinya adalah sebuah
petualangan, di mana manusia diberi beberapa misi. Setelah berhasil pada satu
misi, masih ada banyak misi lain yang harus ditaklukkan. Kalau manusia memilih
berhenti pada misi tersebut dan menolak melaksanakan misi baru, maka manusia
tersebut memilih untuk tetap berdiam pada level tersebut tanpa adanya suatu
peningkatan.