Belakangan gue menyadari, terlalu banyak sampah dalam hidup gue. Kesadaran ini semakin menjadi-jadi tiap kali membuka blog ini dan menemukan banyak tulisan ga penting. Gue nulis, gue ngepost, cuma buat bikin hati gue tenang (sebentar). Seperti pada malam ini, gue punya sejuta hal untuk diungkapkan. Semuanya ada dan berantakan dalam pikiran gue. Mau gue keluarin tapi bingung aja mana yang mau dikeluarin duluan.
2 hari yang lalu, gue stress bukan main. Gara-gara Kuis & UTS, gara-gara kepanitiaan, gara-gara gue bego aja gabisa ngatur waktu dengan baik. Padahal di sekitaran gue, banyak banget orang yang punya lebih banyak hal untuk dilakukan dan mereka menyelesaikan banyak hal juga. Padahal porsi waktu sehari mereka sama aja kayak gue, sama-sama 24 jam. Kalau kata dosen gue, ini masalah produktivitas. (key, sampai sini mungkin udah ada yang muak baca tulisan gue yang auranya negatif banget).
Hari ini gue juga masih stress. Di usia yang semakin tua ini, gue mengekspektasikan banyak hal dari diri gue. Nambah lagi, orang lain juga berharap banyak banget. Gue makin stress jadinya.
Gue sendiri masih belum bisa menjawab dengan cepat ketika gue ditanya, apakah gue goal or process oriented. Gue masih bingung apakah nanti gue mau jadi menteri kayak Sri Mulyani, atau jadi pembawa acara seperti Oprah Winfrey. Ketika kemarin gue wawancara untuk suatu hal, gue bilang kalau gue pengen menikmati banyak hal dalam hidup. Ini gara-gara pas masih di bangku sekolah, gue merasa terlalu terpetakan. Banyak hal yang belum gue nikmati. Jadi gue pengen aja jadi semuanya. Gue pengen menjalani profesi sebagai produser, penulis, pembuat kebijakan, dosen, pembawa acara, pengusaha dan fotografer. Terus seorang panelis membantah keinginan gue, dia bilang gue harus memilih karena semua profesi yang gue sebutkan, butuuh totalitas. Gue perlu meluangkan semua waktu gue untuk mendalami satu profesi yang sangat gue inginkan.
Sebagai anak ekonomi, yang cuma mengerti trade-off and choices, logika gue menyetujui itu. Tapi satu sudut kecil di hati gue berontak. Tetep pengen ngerasain semuanya. Padahal gatau gimana caranya. Seketika, gue merasa menjadi seperti remaja labil. Kalau kata Pak Rhenald Kasali, ini ciri khas generasi wacana.
Terus di akhir tulisan yang belum pengen gue akhiri ini, gue kembali mikir. Tulisan ini negatif banget. Ga memberikan value added. Cuma buat menuntaskan hasrat gue buat mengeluh dan melampiaskan keribetan pikiran ini pada sebuah benda mati. yauda (di)gitu(in) aja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar