Lidah adalah pedang tertajam yang dimiliki manusia. Ia bisa menusukmu menembus lubuk hati terdalam. Meninggalkan luka yang bekasnya mungkin tidak akan hilang sepanjang sisa hidup. Di saat yang sama, lukamu di sisi hati yang lain, sangat bisa disembuhkan oleh lidah yang (bisa jadi) sama. Seperti hari ini, saya menyadari satu hal, diri saya diperdaya oleh lidah yang sama.
Puji Tuhan hari ini saya mengerti mengapa seorang pemimpin perlu pandai berbicara di depan umum. Terlepas dari apa yang seseorang katakan di depan dan di belakang umum itu sama atau berbeda, kemampuan bersilat lidah itu ternyata dibutuhkan. Untuk apa? Untuk mengendalikan keadaan, untuk menjaga citra yang sudah dibentuk, untuk mempercepat segala sesuatu beres.
Masih teringat di benak saya, bagaimana kami berbincang hingga ada kesapakatan. Dia bilang, "saya sepikiran". Dia selalu mendukung, dia selalu bilang kalau saya benar. Kemudian, di hari yang berbeda, di forum yang berbeda, ada banyak orang di forum itu, yang sama hanya kami dan topik perbincangan. Tapi kali ini, respon dia berbeda, dia bilang saya tidak perlu membicarakan hal yang tidak perlu. Padahal menurut saya perlu. Oke, mungkin ini karena standar keperluan kami berbeda. Saya terima.
Namun, ada yang membuat saya sakit hati, yaitu cara dia merespon. Setiap kali saya bertanya, dia bilang saya yang harus memutuskan, lalu saya menolak apa yang mereka usulkan. Selanjutnya apa yang terjadi? Dia bilang saya tidak mandiri. Bagaimana saya harus membuat keputusan, bila setiap memutuskan, menyusul penolakan?
Saat itu terjadi, saya melihat bahwa ia mampu memberdayakan sesamanya. Ia punya power untuk melakukan itu. Sekarang, setelah melihat dan menyadari ini, saya tidak tahu apakah itu patut saya kagumi atau tidak. Yang jelas, saya tahu bahwa batas antara handal bernegosiasi dan pandai bersilat lidah itu tipis, setipis kertas.
Sedetik setelah saya menulis kalimat barusan, saya ragu.
Apakah mungkin bersilat lidah dan 'menjadi penjilat' adalah dua hal yang sama? Apa ini harus dimiliki setiap negosiator ulung?
Malam ini, hanya karena kecewa diperlakukan demikian, saya merusak pikiran positif yang sudah saya bangun tentang dia. Tadinya, saya pikir kami sevisi, semisi, ternyata tidak lagi. Setidaknya, yang nampak demikian.
Puji Tuhan hari ini saya mengerti mengapa seorang pemimpin perlu pandai berbicara di depan umum. Terlepas dari apa yang seseorang katakan di depan dan di belakang umum itu sama atau berbeda, kemampuan bersilat lidah itu ternyata dibutuhkan. Untuk apa? Untuk mengendalikan keadaan, untuk menjaga citra yang sudah dibentuk, untuk mempercepat segala sesuatu beres.
Masih teringat di benak saya, bagaimana kami berbincang hingga ada kesapakatan. Dia bilang, "saya sepikiran". Dia selalu mendukung, dia selalu bilang kalau saya benar. Kemudian, di hari yang berbeda, di forum yang berbeda, ada banyak orang di forum itu, yang sama hanya kami dan topik perbincangan. Tapi kali ini, respon dia berbeda, dia bilang saya tidak perlu membicarakan hal yang tidak perlu. Padahal menurut saya perlu. Oke, mungkin ini karena standar keperluan kami berbeda. Saya terima.
Namun, ada yang membuat saya sakit hati, yaitu cara dia merespon. Setiap kali saya bertanya, dia bilang saya yang harus memutuskan, lalu saya menolak apa yang mereka usulkan. Selanjutnya apa yang terjadi? Dia bilang saya tidak mandiri. Bagaimana saya harus membuat keputusan, bila setiap memutuskan, menyusul penolakan?
Saat itu terjadi, saya melihat bahwa ia mampu memberdayakan sesamanya. Ia punya power untuk melakukan itu. Sekarang, setelah melihat dan menyadari ini, saya tidak tahu apakah itu patut saya kagumi atau tidak. Yang jelas, saya tahu bahwa batas antara handal bernegosiasi dan pandai bersilat lidah itu tipis, setipis kertas.
Sedetik setelah saya menulis kalimat barusan, saya ragu.
Apakah mungkin bersilat lidah dan 'menjadi penjilat' adalah dua hal yang sama? Apa ini harus dimiliki setiap negosiator ulung?
Malam ini, hanya karena kecewa diperlakukan demikian, saya merusak pikiran positif yang sudah saya bangun tentang dia. Tadinya, saya pikir kami sevisi, semisi, ternyata tidak lagi. Setidaknya, yang nampak demikian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar