Halaman

Jumat, 13 Maret 2015

10:45 PM, Sebuah hotel di Jl. Dago Pakar, Bandung

#MembangkitkanRasa 01

Di ruang makan sebuah hotel minimalis, seorang gadis berusaha menyembunyikan kegugupannya. Jantungnya dag dig dug, ini akan menjadi pengalaman pertamanya. Berangkat ke sini untuk mengais rezeki. Agak berlebihan sebetulnya, tapi jujur saja, ia sedikit merasa bangga. Ia menduduki salah satu kursi di ruangan itu dan di sisi seberangnya ada seorang pria, sebut saja Si Bos. Lelaki yang cukup berumur ini memberikan penjelasan singkat mengenai apa yang harus dilakukan. Tugasnya tidak begitu sulit ternyata, hanya tanggungjawabnya saja yang agak berat. Keduanya sempat larut dalam diam. Lalu suara si Bos memecah keheningan. “Hai, bang! Ternyata udah datang. Kalian kenalan dulu dong..”

Gadis itu menoleh, mengikuti arah pandangan Pak Bos. Ia melihat siapa yang baru saja datang. Pria lagi, pikirnya. Kemudian ia kembali menunduk, meratapi ponselnya sambil mendengarkan perbincangan dua lelaki di hadapannya.

Lelaki Pendatang duduk di sebelahnya. Diam-diam si gadis memperhatikan gerak-gerik pria di sebelahnya. Sesekali menarik lengan jaket, sesekali memutar-mutar ponsel. Kulitnya tidak putih dan tidak cokelat. Bersih dan semakin elegan dengan jam tangan di tangan kanan. Penasaran, si gadis lalu mengangkat wajahnya, melihat sekilas pria di hadapannya.

Bibir merah merona. Rahang yang kaku, hidung mancung, alis tebal dan kacamata bergagang hitam. Almost perfect.

Jam makan malam tiba. Kami berencana untuk dinner di resto seberang hotel. Kami beranjak dari posisi kami masing-masing.

Lelaki Pendatang beridiri. Si Gadis terpaku. Badan pria itu sangat proporsional. Tinggi dan cukup berisi. Pelukable, batinnya.


Si Gadis berdiri di sebelah Lelaki Pendatang. Angin malam di Kota Bandung membuatnya kedinginan, tapi lelaki di sebelahnya sungguh menghangatkan.

Minggu, 08 Maret 2015

Jhu Mate Qyu

Hari itu kulihat dia dengan senyum yang berbeda. Tak ada sapa seperti sedia kala. Dia masih saja sama sebenarnya. Tampan, sederhana dan mempesona. Tapi itu tadi. Ada yang berubah. Dia tak tertawa dan berhumor ria. Lawakannya lenyap dihempas angin Kolam Makara. Seseorang mengajaknya dan dia tolak begitu saja. Kasihan dia, apa ia lelah dan perlu pelukan?
Bila iya, hubungi aku saja. Agar aku segera berlari ke arahnya.

Oh, Tuhan. Jangan biarkan aku melanjutkan rasa yang tak terbalas.

Melupakan Dia

seharusnya kuceritakan padamu tiga hari yang lalu

Pernah dengar tentang menyimpan perasaan pada seseorang selama lebih dari 4 bulan itu mungkin namanya Cinta?
Dulu aku percaya itu, tapi sekarang aku ragu.
Pasalnya, bukan hitungan purnama lagi aku menunggu
Sudah banyak Malam Natal yang kulalui
dan waktu selama itu sudah cukup bagiku
tak ingin berlama-lama lagi.

Jangan bilang aku tak setia.
Jangan bilang aku tak berusaha.
Jangan mengajakku berbincang tentang rela berkorban.

Kuminta kau telusuri tulisanku,
sekarang juga.
Biar kau tahu betapa aku merindu
Betapa aku berharap
Betapa aku mencoba bertahan

Tenang saja,
tulisanku tidak banyak
dan semua isinya sama saja
kau akan menyelesaikannya dengan segera.

Tapi, tunggu dulu.
Tahu kenapa tidak banyak yang tertulis?
Padahal ada banyak 365 hari kulewati

Itu karena banyak malam aku terpaku
bersandar dinding beku yang dingin
menutup mata dan teringat wajahmu
Pikiranku merangkai cerita kita
dan aku enggan berhenti
walau untuk menuliskannya dalam kata

Kini, kubersyukur.
Kenangan tentangmu akan mudah terhapuskan.