10:45 PM, Sebuah hotel di Jl. Dago Pakar, Bandung
#MembangkitkanRasa 01
Di ruang makan sebuah hotel minimalis, seorang gadis
berusaha menyembunyikan kegugupannya. Jantungnya dag dig dug, ini akan menjadi
pengalaman pertamanya. Berangkat ke sini untuk mengais rezeki. Agak berlebihan
sebetulnya, tapi jujur saja, ia sedikit merasa bangga. Ia menduduki salah satu
kursi di ruangan itu dan di sisi seberangnya ada seorang pria, sebut saja Si
Bos. Lelaki yang cukup berumur ini memberikan penjelasan singkat mengenai apa yang
harus dilakukan. Tugasnya tidak begitu sulit ternyata, hanya tanggungjawabnya
saja yang agak berat. Keduanya sempat larut dalam diam. Lalu suara si Bos
memecah keheningan. “Hai, bang! Ternyata udah datang. Kalian kenalan dulu dong..”
Gadis itu menoleh, mengikuti arah pandangan Pak Bos. Ia
melihat siapa yang baru saja datang. Pria lagi, pikirnya. Kemudian ia kembali
menunduk, meratapi ponselnya sambil mendengarkan perbincangan dua lelaki di
hadapannya.
Lelaki Pendatang duduk di sebelahnya. Diam-diam si gadis
memperhatikan gerak-gerik pria di sebelahnya. Sesekali menarik lengan jaket,
sesekali memutar-mutar ponsel. Kulitnya tidak putih dan tidak cokelat. Bersih
dan semakin elegan dengan jam tangan di tangan kanan. Penasaran, si gadis lalu
mengangkat wajahnya, melihat sekilas pria di hadapannya.
Bibir merah merona. Rahang yang kaku, hidung mancung, alis
tebal dan kacamata bergagang hitam. Almost perfect.
Jam makan malam tiba. Kami berencana untuk dinner di resto
seberang hotel. Kami beranjak dari posisi kami masing-masing.
Lelaki Pendatang beridiri. Si Gadis terpaku. Badan pria itu
sangat proporsional. Tinggi dan cukup berisi. Pelukable, batinnya.
Si Gadis berdiri di sebelah Lelaki Pendatang. Angin malam di
Kota Bandung membuatnya kedinginan, tapi lelaki di sebelahnya sungguh
menghangatkan.