Halaman

Senin, 20 April 2015

Curahan Hati tentang Ibadah

Selama dua belas tahun masa sekolah, aku terbiasa melakukan kegiatan yang disertai ritual agama Katolik. Wajar saja. Toh aku memang menempuh pendidikan di Yayasan Taman Tunas dan Yayasan Yesus Maria Yosef. Semasa itu aku dididik untuk berdoa sebelum makan, apel pagi sebelum berkegiatan, misa setiap bulan, dan mengaku dosa ketika menjelang hari raya tertentu. Semuanya dilaksanakan sesuai tatacara agama Katolik. Meski di sekolah Katolik, aku tetap memiliki teman-teman yang beragama lain. Hal yang membuatku senang adalah pihak sekolah yang selalu memberikan ucapan selamat hari raya kepada pemeluk agama lain. Toleransi. Aku belajar tentang toleransi.

Sekarang, demi meraih cita-cita, aku menempuh pendidikan di sekolah negeri untuk pertama kalinya. Sebenarnya ini terasa biasa saja. Tak banyak hal yang berubah sampai Natal dan Paskah tiba. Aku benar-benar kehilangan atmosfir pra-natal dan masa puasa. Di situ aku sadar, aku merindukan masa-masa sekolah di sekolah Katolik. Hal yang paling membuatku sedih adalah tidak adanya ucapan selamat hari raya dari kawan-kawan sekampusku. Mulai dari paguyuban, teman sepermainan, kepanitiaan, organisasi dan sebagainya, tidak ada ungkapan kebahagiaan dari mereka. Ini adalah hal kecil yang sudah kupelajari sejak di bangku sekolah dasar. Bahwa kita perlu menghormati agama lain misalnya dengan memberikan ucapan selamat kepada mereka. Tapi itu tidak kurasakan di sini.

(Tulisan ini tertunda dua malam. Ketika penulis membuka halaman yang sama, ada sepenggal kalimat yang belum usai. Namun tak dilanjutkannya lantaran lupa apa yang hendak ia sampaikan. Meski begitu, gadis ini keukeuh menerbitkannya sebagai suatu postingan blog... Penulis menyadari sikapnya yang sering sekali menganggap suatu pekerjaan selesai. Seperti kali ini. Selesai)

Tidak ada komentar: