Halaman

Senin, 22 Desember 2014

You are The Apple of My Eye

Masa remaja adalah masa yang akan selalu aku rindukan.
Masa muda, masa jatuh cinta.
Masa bertindak bodoh, idiot, tolol, tapi menyenangkan.
 
Sejak aku masih kecil, orang seringkali bilang kalau aku berpikir seperti orang dewasa. Bijaksana untuk anak kecil seumuranku waktu itu. Beberapa orang merasa aku terlalu serius, terlalu memikirkan banyak hal. Aku sendiri pernah merasa hidup seperti robot. Menetapkan tujuan dan berusaha mencapainya. Begitulah hidupku setiap hari. Terstruktur. Cukup jelas dan terorganisir. Ketika aku tidak mampu mencapai target tersebut, aku kecewa, mencaci-maki diri sendiri dan menangis. Aku seolah berpacu pada waktu. Aku diperintah oleh waktu.
 
Kemudian detik terus berganti. Musim kemarau lalu hujan lalu kemarau lagi. Tren di masyarakat terus berkembang. Demikian pula diriku. Perlahan ingin kuraih kebebasan. Bebas yang sulit kuartikan. Bebas yang berbatasan sangat dekat dengan kemalasan. Kebebasan yang seringkali hanya merupakan rasionalitas. Saat di mana aku merasa dunia yang kualami berbalik. Masa-masa di mana aku seharusnya menjadi semakin dewasa malah semakin kekanak-kanakan.

Adakah orang lain yang merasakan hal yang sama denganku? Perasaan takut menjadi tua... perasaan ingin kembali ke masa SMA. Rasanya ingin kuhentikan waktu. Rasanya ingin ku putar balik waktu. Rasanya ingin kupercepat lalu kuperlambat. Rasanya ingin kupermainkan aturan detik-menit-jam sesuka hatiku. Tapi apa dengan begitu perasaanku menjadi lebih baik?

Aku ingat betul bagaimana rasanya mengejar seseorang dalam diam. Kisah remaja yang tidak akan aku lupakan, sekaligus menakutkan jika terus kuingat.

You are the apple of my eye. Mengharukan bagaimana film ini dapat membawa kembali kenangan masa 'jatuh cinta diam-diam' dalam hidupku. Rentang waktu di mana aku begitu yakin sedang berjuang atas nama Cinta. Rangkaian adegannya tak bisa menghalangiku untuk menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya.

Entah untuk siapa pun,
You are The Apple of My Eye.


Jumat, 19 Desember 2014

Kabar Duka

Selamat pagi..

Semalam aku takut terlelap. Bukan tanpa alasan karena kemarin aku baru saja menerima kabar duka. Seorang seniorku yang juga menjadi asisten dosen telah berpulang ke rumah Bapa di Sorga. Ini sungguh membuat kami terkejut, pasalnya kami masih sering bertemu dengannya. Bahkan teman kosanku masih chating via line sampai jam 12 malam dengannya. Kabarnya di sedang tidur dan tidak bangun ketika dibangunkan, mungkin terkena serangan jantung.

Aku membayangkan betapa beratnya situasi yang dihadapi oleh keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan. Dia adalah angkatan 2011 dan saat ini menjalani tahun ke-4 kuliah, sebentar lagi lulus. Ini adalah masa adven, sebentar lagi seharusnya merayakan keceriaan natal bersama orang sekitar. Tapi apa? Terlalu banyak hal untuk disayangkan. Lagipula siapa kita untuk mendikte keputusan Tuhan?

Rest in Peace Kak Rio. Semoga diterima di sisi-Nya dan semoga keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Ketika Tuhan memanggil kita untuk pulang kembali ke kediamanNya, tidak ada kata masih muda. Berapapun usia kita, Tuhan bisa memanggil kita kapan saja. Semaju apapun teknologi kesehatan yang ada sekarang, waktu kita 'berpulang' tetaplah menjadi misteri. Apa saja yang telah kita perbuat selama hidup ini? Apakah kita dapat mempertanggungjawabkannya?

Pagi ini, di tengah-tengah rasa takutku, aku hanya bisa bersyukur. Bersyukur karena masih bisa bangun pagi dan menulis seperti ini.

Jumat, 12 Desember 2014

Jumat Malamku

Malam ini aku tertarik untuk menulis tentang apa saja. Mari kuawali dengan kegiatanku hari ini saja. Aku bangun di pagi hari dengan perasaan masih mengantuk, padahal tidurku terbilang cukup. Sangat cukup malahan bila dibandingkan dengan teman-temanku yang lain yang rela begadang untuk belajar persiapan UAS Pengantar Ekonomi 1. Seringkali aku merasa iri pada mereka yang memiliki tekad yang luar biasa dalam belajar dan mengasihani diriku sendiri karena di saat seperti ini masih terperangkap dalam lingkaran setan yang bernama kemalasan.

Setelah melaksanakan ujian dari siang hingga sore, aku mengerjakan tugas akhir di perpustakaan fakultas. Sepanjang hari ini aku berjalan dan mengamati, aku diam dan mengamati, aku mengamati dan terus mengamati...

Aku berpapasan pada beberapa orang, saling kenal tapi tak saling sapa. Mengapa bukan aku yang mulai duluan? Malu. Aku terlalu pemalu dan sungkan untuk memulai. Mungkin dengan ini orang-orang akan berpikir bahwa aku sombong dan galak hahahaha tapi ini memang sesuatu yang sejak dulu selalu saja menjadi penghambat pengembangan diri.

Sepulangnya dari kampus aku menghabiskan waktu sedari sore tadi di tempat tidur, bukannya mengerjakan tumpukan tugas akhir, aku malah mendengarkan musik dan bermain di social media. Lalu apa yang kuperoleh? Inspirasi. Antusiasme. Keinginan lebih. Harapan bahwa semua yang kusebut barusan bukan sekadar wacana.

Perlu kuakui, menghadiri seminar dan talkshow menjadi kesenangan sendiri bagiku. Aku dengan mudahnya merasa kagum pada pembicara dan merasa pengetahuanku bertambah. Perasaan itu terus terjaga sampai pada saat aku merasa aku terlalu terlena. Aku merasa telah melakukan suatu perubahan, padahal tidak. Ini ibarat sedang berlari di tempat.

Beberapa jam yang lalu, aku menghabiskan waktuku dengan bernyanyi sesuka hati (bukan sesuka kuping pendengar). Ku senandungkan beberapa lagu yang mengundang kembali kenangan manis. Kenangan yang membuatku rindu.

Huft. Aku rindu masa-masa itu. Ketika aku berjalan di koridor sekolah bersama Jurin, Agit, Menel, Ayu, dan lain-lain. Ketika semua orang yang kulalui menyapa kawanku, "Hai Agit!" "Pagi, kak Agit!" begitu seterusnya..dan aku berada di sebelahnya seperti bayangan. Aku rindu saat kami bernyanyi dengan petikan gitar. Saat kami selfie dan foto sebanyak mungkin. Saat H-7 UN kami selalu foto sekelas dengan seragam di podium. Saat aku menonton pertandingan PORSENI. Saat aku datang sekolah pagi hari dan menghirup oksigen bumi rajawali. Kuingat betul pemandangan depan kelas yang bertuliskan: Perpustakaan Rajawali. Aku rindu Farewell Before Sunrise. Aku rindu liburan setelah UN kemarin. Aku rindu menjelajahi kota orang bersama teman-temanku. Aku rindu merasakan kupu-kupu di perutku.
Apa malam ini berakhir rindu?


Mahasiswi yang dikejar-kejar deadline tugas akhir,
selamat malam! 

Selasa, 09 Desember 2014

Label Makassar

A: "Ada yang dari Sulawesi?"
*beberapa orang mengacungkan tangan*
A: "Kamu darimana?"
B: "Makassar, pak."
A: "Oh Makassar yang suka demo ya?"

Itulah sepenggal percakapan yang terjadi di ruang auditorium, pagi tadi. Kalimat terakhir dari seorang profesor yang mengundang gelak tawa seisi ruangan. Sejujurnya, ini bukanah kali pertama aku mendengar kalimat seperti itu. Sejak aku menjadi mahasiswa rantau, kalimat sejenis itu telah menjadi 'sapaan hangat' di awal perkenalan.

Malam ini aku berpikir, mengapa kalimat itu? Mengapa label itu yang melekat pada 'Makassar'? Mengapa itu hal yang pertama kali mereka ucapkan tentang Makassar? 

Karena itu hal yang selalu disorot di media massa. Karena beberapa orang saja yang berbuat akan menyebabkan orang lain juga menerima dampaknya.

Rabu, 03 Desember 2014

Rabu Kelabu #1

Benci aku mengakui kebenaran
kala itu terungkap
berburu aku menutupinya..

Benci aku terbaca olehnya
jika ia benar
selalu ada pengingkaran..

 Selamat malam dunia! itulah penggalan puisi yang tidak kuselesaikan malam ini. dan kurasa memang takkan pernah terselesaikan. Baru saja aku berbincang via Line dengan sahabatku. Kami mengobrol tentang dia dan mantannya. Aku memintanya untuk bercerita tentang kejadiaan ia diselingkuhi. Katanya dia lelah berpacaran. Jenuh. Ia heran pada teman-temannya yang sangat ingin punya pacar. Lalu ia bertanya padaku, apakah aku merasa perlu punya pacar saat ini?

entah.

mungkin saat ini punya pacar hanya sekadar ambisi.
aku takut tidak mampu menjaga pacarku dengan baik nanti.

lalu dia tertawa. katanya, aku lucu.

Apa aku benar-benar lucu? apa itu lucu, kawan-kawan?

 Di awal Desember ini aku belajar untuk menurunkan ekspektasi terhadap orang lain.
Maafkan topik yang tidak terstruktur ini. Maaf jika ini tidak hitam dan tidak putih.
Maafkan cerita yang abu-abu ini..