Halaman

Sabtu, 24 Januari 2015

Melacur: Melakukan Curhat

Sejauh ini hari ini menjadi malam minggu terbaik di Januari 2015. Pasalnya, aku menghabiskan waktu bersama para gadis berbakat yang telah kukenal cukup lama. Mereka adalah Ciho, Naya, Novi. Hubungan pertemanan kami telah terjalin sejak SMP. Bahkan aku, ciho dan naya pernah menyebut diri kami sebagai CINTA (CIndy Naya TAry) atau PLN (Pinociho Ljbarany Nayonnaise). Cukup demikian tentang sejarah singkat kami, sekarang aku akan berbagi tentang hari ini.










Waktu berlalu begitu cepat, tanpa disadari kami telah melalui masa putih abu-abu. Masa yang akan selalu kami rindukan. Enam bulan tidak bertemu bukanlah jeda waktu yang sebentar bagi orang yang senang merindu seperti diriku. Meski cukup lama tidak bertatapmuka ternyata keseruan bertemu teman-teman lama tidaklah pudar. Semangat dan rasa antusias begitu menggebu-gebu ketika berada di antara mereka.

Membuat janji bertemu pada pukul 5 sore di Hoshi Makassar. Aku datang tepat waktu. Naik ke lantai 2 gedung itu dan mendapat sambutan hangat, "Hai Cantik", kata Novi. Biasalah basa-basi. Setelah membalas singkat sapaan mereka, aku menarik kursi di sebelah Ciho dan mulai bercerita. Entah apa awalnya. Banyak hal yang kuceritakan sampai Ciho menegurku, "weh napas ko". Kami ngobrol dan tertawa terbahak-bahak. Seakan tidak peduli pada tamu yang lain. Topik yang dibicarakan pun beragam, mulai dari kehidupan pasca SMA, politik, gosip, pola baju, design interior, kuliner, dsb.

Dari obrolan itu aku belajar banyak dari teman-temanku. Dari anak SMP yang jarang belajar (mereka mengakui hal ini), kini mereka menjadi gadis-gadis cantik yang kuat, berbakat, punya otak dan baik hati. Setelah kira-kira 3 jam ngobrol tanpa henti, kami merasa mendapat panggilan alam. Ada ruang hampa dalam diri kami yang membunyikan sirine tanda lapar. Karena tempat nongky petang itu adalah bakery, kami memutuskan pindah tempat. Mall Ratu Indah menjadi pilihan pertama, tapi kutolak. Aku lebih memilih ke cafe atau tempat makan lain dan keputusan jatuh pada Essprezza Cafe n Bistro.

Semakin larut pembicaraan semakin sensitif. Sambil menunggu makan malam kami disajikan, di ruang khusus (interiornya seperti tempat dukun lol) kami mulai membicarakan perasaan hm sebut saja cinta. Lagi-lagi aku belajar dari para gadis ini bahwa sebagai perempuan harus bersikap tegas. Pengalaman dalam menjalin hubungan menunjukkan karakter masing-masing. Mereka menekankan toleransi. Secara tidak langsung mereka membuatku sempat merenung tentang kesetiaan. Bagaimana jika nanti aku harus menjalin hubungan jarak jauh juga? Apakah orang yang 'aku pilih' akan bersikap setia atau malah berbalik mengkhianatiku?

Selain itu, salah satu hal yang berbekas adalah pendapat mereka tentangku. Mengenai masa depan yang tidak terbaca dan berarti baik. Meski berkali-kali aku berkata, "aku mah apah atuh? cuma remah-remah kong guan". Mereka bilang akan ada saatnya aku menjadi sesuatu dan aku harus selalu menjadi diri sendiri.

Mereka berkembang dan masih berkembang dan aku yakin ini mengarah ke hal yang lebih baik.

Diberkatilah para lelaki dan wanita yang menyakiti hati mereka. Para gadis yang secara tidak langsung mengajariku tentang ketulusan, menjadi pribadi yang kuat dan tegas, selalu bersyukur, punya otak, menjaga rahasia dan baik hati. Akhirnya, sebagai seorang introvert, aku pasti akan merindukan menghabiskan waktu secara berkualitas bersama kalian.

Luvv ya ma geng.
Tary.

Tidak ada komentar: