Halaman

Senin, 29 Juni 2015

Pagi-pagi Bicara Uang

Pagi ini aku terbangun dengan sebuah pemikiran dan perasaan: aku benci mengakui bahwa aku butuh uang. Realita seolah mendukung kebencianku. Aku diposisikan pada suatu kondisi saat aku tidak punya uang. Mungkin ini karena aku selalu berusaha menyangkal hukum alam bahwa uang memberi sumbangsih besar dalam kesenangan manusia.

Aku diambang batas ketidaksetujuanku, sebentar lagi sepertinya aku setuju pada hukum itu. Bukan tanpa alasan ya. Jangan berpikir aku tidak bahagia sekarang. Yang benar saja, meski sebagian besar waktuku kuhabiskan di rumah belakang ini (sudah cukup lama), aku tetap tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak bila aku kembali tenggelam dalam lelucon keluarga? Inilah hal yang aku rindukan dan akan selalu kurindukan. Tapi ada kenyataan lain yang seperti membimbingku kepada persetujuan tentang sumbangsih uang.

Dulu aku sudah menyusun mimpi-mimpi. Aku sudah merencanakan banyak hal. Aku ingin punya ini, aku ingin merasakan itu. Namun semuanya terus kutunda. Perhatikan bahwa aku menulis 'kutunda', bukan 'tertunda'. Karena memang aku yang memutuskan untuk menunda, bukan alam semesta atau kroni-kroninya. Mengapa? Karena untuk mewujudkan semua itu, aku butuh uang. Dan sialnya, aku sedang tidak punya uang. Entah sudah berapa lusin purnama kulewati sambil berkata, "aku tak punya uang."

Aku ingin punya uang. Aku ingin kerja saja biar dapat uang. Kenapa kerja? Karena hal paling sederhana: 'minta uang' lagi-lagi tidak bisa aku lakukan. Kawan, jika kau yang membaca ini, tahu cara yang bisa kulakukan atau bisa membantuku mendapatkan uang, mohon hubungin aku pribadi segera.

Kamis, 04 Juni 2015

Hujan Tertahan di Pelupuk Mataku

02:51 AM

Ada hujan tertahan di pelupuk mataku
Lama sudah terasa mendungnya
Terus terabaikan sebab tak ada guna mengindahkannya

Tentang kisah lalu hujan dalam hidupku,
Tak seperti dulu yang leluasa berderai dengan derasnya
Yang ini merintik pun masih malu, maka tertahanlah..

Mungkin hujanku sedih dahulu dianggap kebodohan
Hujanku sedih diduga lemah
Terus disalahkan, disangka tidak dewasa

Pemilik hujan berdoa pada Yang Kuasa
Mohon keteguhan tak merintik sembarangan

Hujan mendengar perbincangan mereka
Terlukai hatinya karena kata 'sembarangan'

Hadir saat penghujan dicaci karena kebanyakan
Tampak ketika kemarau pun dibilang curi kesempatan
Lalu kapan hujan bisa turun tanpa disalahkan?

Kepada hujan di pelupuk mataku,
Aku merasa kuat dari sebelumnya
Merasa ragu dan tak ragu disaat yang sama
Tapi bukan itu poinnya.

Kepada hujan di pelupuk mataku,
Berhenti bertahan dan jatuhlah sekarang
Basahi pipiku dengan ketulusan..

Kepada hujan di pelupuk mataku,
Merintiklah!
Biar aku tahu aku masih punya hati
Hati yang sanggup merasa..

Terakhir,
kepada hujan yang terus-terusan tertahan
terjunlah dengan bebas
kemudian tampakkanlah pelangi setelahnya
dengan begitu, aku lega..

Sebab yang kurindukan tak hanya hujan,
tapi juga pelangi sehabis hujan..