Halaman

Minggu, 09 Agustus 2015

Dalam bayangku seringkali ada sebuah kapel dengan patung Bunda Maria. Ada aku juga yang sedang berlutut di hadapannya. Memohon sesuatu atau sekadar mengucap syukur. Aku menghadirkan khayalan ini saat kebelet berdoa, tapi situasi tak memungkinkan.
Di waktu yang berbeda, petang tadi misalnya. Aku berada di bangku baris paling depan Gereja Katolik. Ini waktu yang tepat untuk membayar semua utang doaku. Saat yang benar untuk memenuhi segala janji dalam khayalku.

Alih-alih berdoa dengan khusyuk, aku memikirkan hal yang lainnya.

"Nanti mau balas chat dia apa ya?"
"Foto yang keren buat diunggah ke Instagram yang mana?"
"Sialan. Ask.fm sepi. Ini gaada yang nanya?"
"Eh dia makin cantik, kok bisa?"

Segala hal tidak penting yang berlagak penting. Seolah-olah aku akan mati kalau tidak check-in di lokasi aku berada.

Bila gps dalam jiwaku dilacak keberadaannya, mungkin..

Aku di penjara. Menjadi tahanan kegoblokan sosial media.

Tolong, bebaskan aku sekarang.

Sabtu, 08 Agustus 2015

Potongan Kisah yang Terlintas

Potongan Kisah yang Terlintas adalah cerita tentang realita kehidupanku. Kepingan kisah nyata, pengalaman hidup, yang mungkin sudah terlalui cukup lama tapi (baru) ingin aku tuliskan. Meski tidak begitu panjang. Mengapa? Agar aku tidak lupa. Menurutku, potongan kisah ini sarat pembelajaran dan patut dikenang. Mungkin ke depannya akan ada serialnya? Mungkin saja.

Di sebuah kapal penumpang yang hendak berangkat ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Aku bersama seorang seniorku, Kak Faathir, terpisah dari rombongan. Di antara sesaknya kepadatan penumpang, aku menyibukkan diri dengan telepon genggam. Tanpa aku sadar, ternyata seniorku sedikit mengintip ke layar ponselku. "Anak jaman sekarang.. Log out path, log in instagram, gitu aja terus," celetuknya.

Benar juga.

Hidup diperdaya media sosial.

Smartphone, Dumbpeople.

***

Suatu malam, di meja makan.

"Nak dapat berapa ko tadi? (re: nilai di sekolah)", tanya Mama pada Arya.
Dengan cepat, Arya menjawab, "deh mama.. itu terus na tanya ki. 'dapat berapa ki, nak?' 'berapa nilaimu, nak?' itu terus.. tanya kek 'baik-baik jki, nak?' "

Tawa kami pun meledak.

Ketika serang anak polos mengajukan protes. Merasa tidak terima.

Wah adik kecilku, bertambah tinggi dan beranjak dewasa.

Selasa, 04 Agustus 2015

Masih Malam yang Sama

setiap malam, sebelum tidur

sama saja

membuka lembar buku yang serupa
sampul kulit hitam dari Universitas Indonesia
isinya...
agenda, pun catatan harian
ringkas dan tak jelas

meratapi hal yang tak berbeda
waktu dan kecepatan lajunya
bersama pikiran yang penuh sesal

inginku ada hasil
tapi bikinku tak berdaya

semangat tergerus kemalasan

ada-ada saja alasan

menindasku, membuatku semakin terpuruk olehnya

kini pikirku,
kala aku sendiri
diri dikecam rasa berpuas diri.

Makassar, ruang kerja papa
5 Agustus 2015, 00:25 wita

(Aku menulis ini lantaran telah menghabiskan waktu barang 3 hari dengan sia-sia. Tidak produktif, tugas terabaikan. Bangun pagi untuk tidur lagi sampai siang. "Nanti" menjadi kata andalanku. Benar-benar hidup yang diregogoti rasa malas itu memuakkan. Saking muaknya, aku membiarkan diriku menjadi bodoh dengan tetap menjalani hidup yang seperti ini.)

Penuh ketidakjelasan,
Tary.

Minggu, 02 Agustus 2015

Malam Bego

malam ini terasa
hidup akan lebih menyenangkan tanpa sinyal telepon seluler

tak ada tagihan pekerjaan yang sudah lewat tenggat waktu
tak ada ajakan ketemuan yang terus diingkari
tak perlu ngepost ini itu
tak perlu membandingkan jumlah likes orang lain dengan diri sendiri

tak ada diskusi bego
yang pesertanya orang-orang dengan pemikiran tertutup
yang pesertanya sangat lamban bergerak
yang pesertanya tidak menghargai omongan orang lain
yang pesertanya cuma bisa mengiyakan
yang pesertanya bahkan hanya diam untuk sebuah tidak

lama-lama di sini bisa ikutan bego

kebodohan mereka menular

pengennya saya masa bodo
tapi tidak bisa

mau menyibukkan diri saja
tapi sibuknya lagi-lagi harus sama orang bego

makin bego saya

kemana saya harus pergi?

Kalau kata Kak Atha,
"where do you go to find peace when the noise is in your head?"