Dalam bayangku seringkali ada sebuah kapel dengan patung Bunda Maria. Ada aku juga yang sedang berlutut di hadapannya. Memohon sesuatu atau sekadar mengucap syukur. Aku menghadirkan khayalan ini saat kebelet berdoa, tapi situasi tak memungkinkan.
Di waktu yang berbeda, petang tadi misalnya. Aku berada di bangku baris paling depan Gereja Katolik. Ini waktu yang tepat untuk membayar semua utang doaku. Saat yang benar untuk memenuhi segala janji dalam khayalku.
Alih-alih berdoa dengan khusyuk, aku memikirkan hal yang lainnya.
"Nanti mau balas chat dia apa ya?"
"Foto yang keren buat diunggah ke Instagram yang mana?"
"Sialan. Ask.fm sepi. Ini gaada yang nanya?"
"Eh dia makin cantik, kok bisa?"
Segala hal tidak penting yang berlagak penting. Seolah-olah aku akan mati kalau tidak check-in di lokasi aku berada.
Bila gps dalam jiwaku dilacak keberadaannya, mungkin..
Aku di penjara. Menjadi tahanan kegoblokan sosial media.
Tolong, bebaskan aku sekarang.
Di waktu yang berbeda, petang tadi misalnya. Aku berada di bangku baris paling depan Gereja Katolik. Ini waktu yang tepat untuk membayar semua utang doaku. Saat yang benar untuk memenuhi segala janji dalam khayalku.
Alih-alih berdoa dengan khusyuk, aku memikirkan hal yang lainnya.
"Nanti mau balas chat dia apa ya?"
"Foto yang keren buat diunggah ke Instagram yang mana?"
"Sialan. Ask.fm sepi. Ini gaada yang nanya?"
"Eh dia makin cantik, kok bisa?"
Segala hal tidak penting yang berlagak penting. Seolah-olah aku akan mati kalau tidak check-in di lokasi aku berada.
Bila gps dalam jiwaku dilacak keberadaannya, mungkin..
Aku di penjara. Menjadi tahanan kegoblokan sosial media.
Tolong, bebaskan aku sekarang.