A: "Ada yang dari Sulawesi?"
*beberapa orang mengacungkan tangan*
A: "Kamu darimana?"
B: "Makassar, pak."
A: "Oh Makassar yang suka demo ya?"
*beberapa orang mengacungkan tangan*
A: "Kamu darimana?"
B: "Makassar, pak."
A: "Oh Makassar yang suka demo ya?"
Itulah sepenggal percakapan yang terjadi di ruang auditorium, pagi tadi. Kalimat terakhir dari seorang profesor yang mengundang gelak tawa seisi ruangan. Sejujurnya, ini bukanah kali pertama aku mendengar kalimat seperti itu. Sejak aku menjadi mahasiswa rantau, kalimat sejenis itu telah menjadi 'sapaan hangat' di awal perkenalan.
Malam ini aku berpikir, mengapa kalimat itu? Mengapa label itu yang melekat pada 'Makassar'? Mengapa itu hal yang pertama kali mereka ucapkan tentang Makassar?
Karena itu hal yang selalu disorot di media massa. Karena beberapa orang saja yang berbuat akan menyebabkan orang lain juga menerima dampaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar