Ayah dan ibu saya benar-benar berjuang dalam hidup mereka. Dulu, sewaktu saya berumur 2 tahun, saya tinggal disebuah rumah yang bukan terbuat dari batu bata atau batu-batuan yang lainnya. Rumah kami dulu terbuat dari papan tripleks (seingat saya, hehe). Tidak besar juga tidak kecil. Rumah itu cukup untuk menampung kami (aku, ibu, dan ayahku yang tidak selalu ada di rumah). Ayah sering keluar kota untuk berbagai kepentingan. Dia benar-benar seorang pejuang. Saya pernah melihat fotonya yang sedang memimpin aksi demo para buruh. Saya bangga punya dia. Dari foto tersebut saya belajar untuk dapat mengemukakan pendapat dan membantu oranglain dalam mengungkapkan aspirasi mereka.
Suatu hari ketika ayah pergi ke suatu kota, saya tinggal berdua dengan ibu saya. Rumah kami tidak besar hanya terdiri dari ruang tamu sederhana (juga digunakan untuk menonton TV), dapur, kamar mandi, dan sebuah kamar tidur. Saat itu ibu saya sedang tidur siang. Saya sendiri dan pintu rumah dikunci (saya tidak bisa keluar rumah). Padahal saya merasa bosan saya ingin bermain. Namun, karena tak dapat keluar rumah, saya hanya melihat tetangga seumuran saya bermain diluar. Saya hanya dapat melihat mereka dari jendela. Karena sering merasa kesepian tanpa sadar saya sering melamun bermain dengan dunia khayalan saya. Sangat jarang bermain dengan teman sebaya. Saya pun tumbuh menjadi anak yang pemalu yang terkesan cuek dan sombong.
Karena sifat-sifat itulah saya terkadang merasa sulit masuk kedalam sebuah komunitas. Amat sulit bagi saya untuk menyapa oranglain terlebih dahulu. Sampai ada peristiwa yang saya rasa sering terjadi.
Hampir setiap kali saya bergabung dengan suatu komunitas baru (baik itu sekolah baru, ekskul, organisasi, dan kepanitiaan) saya sering merasa terkucilkan. Saya merasa orang-orang lain bersikap diskriminatif terhadap saya. Mereka mungkin berpikir: “ihh !! dia bisa apa ?? penampilan saja hancur, kulitnya hitam, badannya kurus, pendek. Paling juga anak-anak kampung -,-“.
Dan saya benar-benar merasakan DISKRIMINASI. Suatu ketika saya harus memberi kabar kepada orang tua saya, saya tidak membawa HP, saya pun berniat meminjam HP dari mereka. Tapi tak ada seorangpun yang meminjamkan. Mereka memberi banyak alasan dan saya bisa memastikan bahwa semua itu ALIBI PALSU !!
Hari-hari terus berlalu dan saya secara perlahan saya telah memperlihatkan kemampuan saya. Barulah sejak saat itu mereka satu per satu menghampiri saya. Untuk beberapa kali mereka meminta bantuan saya dalam hal pelajaran. Saya mencoba membantu sebisa saya. Namun ketika masa lalu itu kembali terbayang, amat teramat sulit untuk tidak merasa KESAL pada mereka.
Setiap goresan hidup saya, hampir tak pernah terpisahkan dari diskriminasi. Namun, dari diskriminasi ini, saya terdorong untuk lebih berprestasi.
Terinspirasi dari Obama yang masa kecilnya didiskriminasi namun kini masa depannya tak lepas dari prestasi :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar