Empat hari tiga malam waktu yang sangat singkat untuk melukiskan kisah menarik, seru, menyenangkan, dan mengharukan. Kisah tersebut dilukiskan di Panti Semadi, Malino. Sejak 12 Januari – 15 Januari 2011.
Banyak pelajaran dari setiap pengalaman, lahir penyesalan dari banyak tindakan, semuanya diciptakan untuk membuat saya belajar memaknai kehidupan. Pertemuan yang diawali dengan penuh semangat, mata berbinar, dan senyum yang terus bersinar, memberi pengaruh positif untuk selanjutnya.
Tak kenal maka tak sayang. Saya, kamu, kita sekalian mulai mencoba mengenal setiap pribadi yang ada. Kita berusaha membangun relasi. Relasi dengan diri sendiri melalui symbol diri, relasi dengan sesama, relasi dengan Tuhan, dan relasi dengan alam. Dan memang benar, setelah saling mengenal, rasa sayang itupun tumbuh dan berkembang.
Perasaan yang mempersatukan kita, perasaan yang seakan memudarkan segala perbedaan yang ada. Perasaan yang membuatmu sadar akan banyak hal, hal konyol sekalipun. Satu fakta yang tidak begitu menarik namun berarti, yaitu kita (beberapa dari kita mungkin) dapat hidup tanpa HP selama ± 4 hari 3 malam. Kita menyingkirkan hiburan, mengisi hari-hari dengan hal yang lebih penting dari nge-tweet, chatting, dll. Kita belajar menghargai waktu, berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan lewat semua ciptaannya (diri sendiri, orang lain, dan alam).
Namun benar kata pepatah. Ada waktu tuk berjumpa, ada waktu tuk berpisah. Dan itulah yang terjadi. Waktu kita untuk bersama-sama ditempat ini telah berakhir. Terbersit kesedihan yang amat mendalam di hati, hingga air mata yang menetes pun tak lagi terkendali. Air mata ini adalah air mata pertahanan. Saya mencoba mempertahankan yang telah terjadi sebagai kenangan. Kenangan yang terindah.
“Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau kenangan
Yang terindah dalam hidupku
Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupku
Yang tlah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar