Ada suatu perkembangan yang menarik untuk diamati antara Abad Pertengahan, Zaman Via Moderna dan Zaman Pencerahan. Sampai dengan Abad Pertengahan, yang menjadi pemikir di dalam masyarakat adalah para teolog. Ilmu pengetahuan yang paling popular dan berpengaruh adalah teologi. Dan, para pemikir yang berpengaruh adalah para klerus yang disebut Bapa-bapa Gereja. Mereka itu adalah para iman, uskup, dan Paus.
Sejak zaman modern, para umat awan biasa mulai menjadi pemikir. Ilmu pengetahuan yang popular dan semakin dikagumi adalah ilmu alam. Cara berpikir deduktif yang menjadi ciri ilmu teologi yang bertugas menjelaskan iman diganti dengan cara berpikir induktif yang menjadi cirri ilmu alam. Ara kerja induktif yang dirintis oleh Francis Bacon semakin berkembang.
Tetapi efek negatifnya ialah bahwa metode ilmu alam dipaksakan untuk mnjelaskan ajaran iman, data Kitab Suci dan dogma Gereja. Akibatnya, manusia modern perlahan-lahan merasakan adanya sesuatu yang ‘tidak nyambung’ antara ajaran agama dengan kebenaran ilmu pengetahuan. Hal itulah yang pada gilirannya menimbulkan krisis iman dalam masyarakat.
Krisis Iman Pertama : Deisme
Istilah Deisme berasal dari kata Deus, yang arinya Allah. Deisme adalah kepercayaan bahwa Tuhan itu ada, namun tidak ada hubungannya dengan dunia dan manusia. Tuhan menciptakan alam semesta, dan alam semesta ini bekerja menurut hukumnya sendiri tanpa ada campur tangan lagi dari Tuhan. Setelah mencipta, Tuhan bertahta di Surga dan beristirahat dalam keabadian-Nya.
Kepercayaan Deisme adalah refleksi yang paling rapi dari Isaac Newton tentang alam semesta yag teratur dan berputar menurut hukumnya. Tuhan digambarkan sebagai Allah yang bertaa jika tidak ada nggung jawab atas perencanaan pembangunan dan menggerakkan ‘mesin’ dunia ini. Sebab, bagaimana dunia ini ada jika tidak ada pembuatannya ? Ada dua argumentasi Deisme yang membuktikan adanya Tuhan.
Argumentasi pertama adalah pandangan tentang causa prima atau penyebab pertama. Dikatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini menjadi ada karena ada yang menyebabkannya. Dan, sang penyebab itu tntu juga disebabkan oleh penyebab lainnya. Dan begitu seterusnya. Akan tetapi, rangkaiaan sebab-akibat ini tidak mungkin tidak terbatas (ad infinitum). Jadi pada akhirnya, kita harus menyimpulkan bahwa penyebab yang terakhir adalah Tuhan.
Argumentasi kedua adalah konsep the clock maker God. Dikatakan bahwa Tuhan merencanakan alam semesta ciptaannya secara sempurna. Dan setelah Tuhan selesai menciptakan dunia, Ia pun beristirahat di rumah-Nya. Bagaikan seorang tukang pembuat jam, Tuhan membuat ‘jam alam semesta’ ini. Ia memutar tombolnya untuk dapat berjalan dengan sendiri secara abadi, dan membiarkannya berjalan sesuai dengan hukum-hukumnya yang pasti. Jadi, manusia dan alam semesta ini sendiri tanpa Tuhan. Tuhan diumpamakan sebagai the clock maker God yang banyak dijelaskan oleh teori-teori ilmu alam Newton.
Konsekuensi dari pandangan yang kedua ini adalah bahwa tidak ada gunanya lagi berdoa kepada Tuhan si tukang jam itu. Karena, walaupun Tuhan bersedia untuk membantu seorang manusia, Ia sudah tidak berdaya lagi. Karena, Ia tidak dapat menghalang-halangi karya ciptaan—Nya yang sudah bekerja dengan aturannya sendiri.
Karena itu juga, tuhan sebenarnya tidak pernah menampakkan diri kepada Musa di Gunung Sinai. Tuhan juga tidak mungkin mengutus Anak Tunggal-Nya ke dunia untuk menebus manusia. Dan Tuhan rasanya tidak pernah punya anak tunggal dehh. Hahaha :D
Jika kita pikirkan secara lebih mendalam, Deisme sesungguhnya suatu jalan tengah atau kompromi antara perlunya Tuhan (karena pengeruh tradisi kekristenan) dan tidak memerlukan Tuhan (menurut orang modern yang telah mengalami perubahan secara mendalam). Namun, karena mereka masih ‘malu-malu kucing’ untuk seratus persen meninggalkan Tuhan di dalam Surga supaya tidak ada kaitannya dengan manusia dan dunia ini.
Voltaire (nama pena dari Francois-Marie Arouet, 1694-1778), seorang pemikir Zaman Pencerahan pernah berkata, “Jika Tuhan tidak ada, maka Ia harus diciptakan” (If God did not exist, it would be necessary to invent Him). Karena, Tuhan masih dibutuhkan untuk menenangkan hati dan perasaan ‘religius bangsa Eropa yang dibentuk oleh Kekristenan. Walaupun Tuhan itu akhirnya tidak diberi peranan apa-apa oleh manusia.
Sebuah refleksi bagi kita yang mengaku diri sebagai orang beriman yang rajin berdoa dan datang ke Gereja : apakah kita juga seorang penganut Deisme ? ketika kita mulai merasa bahwa ibadat hanyalah soal formalitas dan demi kebersamaan belaka, ketika doa-doa kita terasa tidak ada artinya, dan ketika kita meras bahwa ajaran iman tidak lagi mempengaruhi sikap dan tingkah laku kita, sebanarnya kita sedang jauh dari Tuhan. Pada saat itu Tuhan seakan berada jauuuuhhh di surge sana. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan kita. Atau lebih buruk laagi, kita hidup seperti seolah-olah Tuhan memang tidak ada.
Mungkin kita perlu berjuan sungguh-sungguh supaya memiliki iman yang hidup seperti Rasul Paulus dan para kudus. Atau, seperti orang-orang pada masa Abad Pertengahan yang memiliki pengharapan yang kuat akan surge. Meskipun, kita adalah orang modern yang terpelajar, pandai, sibuk, dan mampu mengandalakan kemampuan diri sendiri karena punya karier atau profesi yang bagus.
Krisis iman yang kedua ialah Agnostisisme. Istilah ini berasala dari kata a dan gnostik. Artinya…??? Tidak tahu! Ya, tidak tahu. Maksud saya, bukannya saya tidak tahu arti kata agnostic, tetapi kata itu memang berarti ‘tidak tahu’. ‘A’ itu ‘tidak’ dan ‘gnostik’ itu ‘tahu’. Jadi, agnostisisme artinya “aliran yang tidak mau ambil pusing entahkah Tuhan itu ada atau tidak ada”. Kalau memang ada, ya syukur… kalau tidak ada, juga nggak apa-apa. Meminjam istilah orang Jakarta : “emang gue pikiran…”
Sikap seperti ini muncul karena manusia sudah merasa masa bodoh atau sudah lelah memikirkan hal yang mereka anggap tidak pasti. Akhirnya, mereka menyerah ddengan mengatakan : “gue nggak tahu !!”
Agnostisisme adalah suatu sikap abstain atau tidak mau memilih untuk menerima atau menolak adanya Tuhan dan perlunya agama bagi manusia. Sikap ini adalah sikap wajar dari pengaruh ilmu pengetahuan alam sebagai primadona yang akan dipaksa untuk menjelaskan segala-sesuatu. Oleh karena Tuhan dan ajaran iman tidak bisa dijelaskan berdasarkan metode ilmu pengetahuan alam, maka orang menyimpulkan secara lebih sopan bahwa untuk hal-hal yang tidak bisa dijelaskan, termasuk soal malaikat, surge, neraka, dan sejenisnya, mereka tidak mau tahu-menahu.
Inilah dia puncak dari krisis iman, yaitu Ateisme. Kebalikan dari Voltaire, kaum ateis merasa tidak perlu memaksa diri untuk ‘mengatakan’ Tuhan dalam pikiran. Bila Tuhan tidak ada, biar saja tetap tidak ada. Dan berbeda pula dengan kaum agnostik, orang atis merasa ateis merasa tahu and yakin bahwa Tuhan memang tidak ada. Kalau Deisme masih malu-malu menolak Tuhan, Agnostisisme memilih abstain, maka Ateisme dengan berani menegaskan bahwa “Tuhan memang tidak ada!”
Ateisme muncul sebagai akibat krisis imnan yang dipicu oleh pandangan baru tentang dunia ini. Pandangan baru itu ditandai akan hukum alam gaya Isaac Newton (Newtonian world machine) yang menghasilkan pandangan materialistis tentang realitas. Realitas pada dasarnya adalah materi. Mesin dunia ini berjalan sesuai dengan hukum-hukum intrinsic. Manusia termasuk di dalamnya. Dunia ini adalah suatu system yang tertutup dan sudah lengkap di dalam dirinya sendiri. Tidak ada intervensi dari Tuhan, karena Tuhan memang tidak ada. Yang ada adalah manusi dan dunianya.
Bagi orang ateis, Tuhannya orang Kristen Nampak sebagai Tuhan yang tidak perlu. Karena Tuhan digambarkan secara material. Tetapi karena Tuhan ternyata tidak melakukan intervensi dalam hidup manusia secara material, maka jelas Tuhan semacam itu tidak ada gunanya.
Contoh keinginan agar Tuhan harus bertindak secara material ialah seperti perlunya intervensi Ilahi dalam bentuk mukjizat-mukjizat pada manusia. Kalau Tuhan sungguh ada, Ia harusnya melakukan berbagai intervensi untuk menolong manusia. Kalau Tuhan memang ada dan Mahakuasa, mengapa Ia membiarkan penderitaan dan kematian terjadi dimana-mana ? karena itu, Tuhan tidak ada.
Atau jika Tuhan memang ada, berarti Dia tidak Mahakuasa karena Dia tidak mampu berbuat apa-apa terhadap penderitaan manusia. Atau kalau Tuhan itu ada dan Mahakuasa, kenapa manusia masih menderita dan harus mendorong dirinya sendiri ?? Kalau begitu, Tuhan tidak Mahabaik dongg ?! Buktinya Dia tidak mau menghapuskan penderitaan manusia di dunia ini ! jadi, untuk apa percaya dan menyembah Tuhan semacam ini?? Karena itu, lebih baik percaya saja bahwa Tuhan tidak ada !! Begitu argumentasi para ateis.
Persoalan yang dipertanyakan oleh kaum ateis itu sesungguhnya menjadi refleksi bagi kita orang beriman. Sebab, sampai hari ini masih ada juga orang-orang beragama yang mengharapkan Tuhan mau selalu bertindak secara material. Orang berdoa hanya untuk memohon kesembuhan dari penyakit. Pendeta-pendeta dan pastor-pastor menjanjikan mukjizat dari Tuhan yang akan menyembuhkan segala penyakit dalam berbagai ibadat di lapangan-lapangan kota. Padahal, Tuhan Yesus pernah memperingatkan setan dipadang gurun, “Janganlah mencobai Tuhan Allahmu.”
Doa penyembuhan dan Kebangunan Rohani missal yang dihadiri oleh ribuan orang menjanjikan adanya mukjizat penyembuhan instant bagaikan masak mie instant dan makanan cepat saji abad ini. Jangan-jangan cara beriman kita kepada Tuhan juga sudah dipengaruhi oleh gaya instant dunia sekarang ini.
Padahal, kita tahu bahwa dunia dan manusia ini memang secara nyata bercorak fana, rapuh, bisa sakit, dan bisa mati. Dan, iman Kristiani justru mengajarkan bahwa Tuhan sedang menolong manusia keluar dari penderitaan dan keterbatasan itu. Caranya? Tuhan sendirilah yang menentukan caranya, bukan seperti yang dipikirkan manusia. Mengapa? Karena Tuhanlah yang paling tahu duduk persoalannya dan jalan keluarnya. Dan justru itulah yang seharusnya dimengerti dengan baik oleh orang beriman modern.
Tuhan sesungguhnya peduli dengan penderitaan dan kematian manusia sehingga Ia menebus manusia melalui misteri penjelmaan Putra Tunggal Allah, melalui hidup-Nya, pengajaran-Nya, sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Karena dunia bercorak material, Tuhan juga harus menjelma masuk ke dalam dunia material ini supaya bisa menyatu dengan semua orang.
1 komentar:
Wow...
menarik...
I like It....
Posting Komentar