| Photo by Tary |
Burung bukanlah burung, jika tak memiliki sayap. Karena itulah yang
membuatnya dapat terbang. Demikian pun manusia belum menjadi manusia seutuhnya
tanpa mimpi. Karena mimpilah yang mendorong manusia berpetualang dalam
hidupnya.
~Lestary Jakara Barany~
Sebagai seorang
manusia, saya pun punya mimpi. Bagi saya mimpi itu seperti bahan bakar untuk
kendaraan kehidupan dan untuk terus hidup saya harus memastikan saya tidak
kehabisan bahan bakar, saya perlu terus bermimpi. Kali ini saya bercerita
mengenai salah satu mimpi itu. Suatu impian tentang sekolah dambaan.
Saat ini saya
adalah siswa kelas 12 salah satu SMA di Makassar. Hampir 12 tahun saya melalui
hari-hari sebagai seorang pelajar yang menghabiskan waktu ± 7 jam per hari di
sekolah. Waktu tersebut belum termasuk kegiatan ekstrakulikuler, rapat panitia,
dan kegiatan sekolah lainnya. Meski tahun ini adalah tahun terakhir saya di
SMA, saya tetap mendambakan sekolah idaman yang memiliki kriteria tertentu
sesuai selera saya.
Pertama,
guru-guru sekolah dambaanku tidak boleh menggunakan kekerasan. Setiap manusia
memiliki karakter yang berbeda, termasuk guru, ada yang berwatak lemah lembut
dan ada yang tegas. Namun tegas bukan berarti keras. Tegas yang saya maksudkan
adalah berani mengambil keputusan yang tepat, bersikap disiplin tanpa pandang
bulu dan tidak nepotisme. Guru yang memukul muridnya, mencubit, menampar murid
atau menghantam meja bukanlah guru yang tegas. Hal tersebut hanya
memperlihatkan kekerasan terhadap anak. Maka wajar jika mahasiswa sekarang
berdemonstrasi dengan anarkis, karena itulah yang mereka peroleh selama di
bangku sekolah. Adapun akibat lain dari mendidik dengan keras adalah akan
menimbulkan trauma, membuat anak ketakutan dan kehilangan rasa percaya diri.
Terlepas dari
tipikal guru sekolah dambaanku yang idealis ataupun realistis, mereka haruslah open-minded. Mereka harus sadar bahwa
perkembangan teknologi membuat akses informasi siswa semakin luas, jadi mereka
bukanlah ‘orang yang paling tahu’ ataupun ‘orang yang paling benar’. Guru
dambaan juga perlu menyadari bahwa bakat tiap siswa tidak sama, tapi mereka
sama-sama punya bakat. Saya sangat mengharapkan guru mampu membantu setiap
siswa mengembangkan bakatnya bukannya memaksakan suatu bakat dikembangkan pada
seorang siswa. Seorang guru dambaan bukanlah guru yang suka memaksa dan tidak
menghargai keputusan siswa, tapi guru yang menghargai keputusan dan prioritas
yang telah dibuat oleh siswa dan memberi mereka ruang untuk berkarya dengan
kemampuan yang mereka miliki masing-masing.
Kedua, fasilitas
pembelajaran tidak harus mewah, tetapi harus lengkap. Ruang kelas tidak harus
menggunakan 3 buah AC, yang penting suasana dalam kelas tetap sejuk dan nyaman
untuk belajar. Setiap ruang kelas sebaiknya diisi oleh 20-30 siswa, agar proses
belajar mengajar lebih efektif. Lingkungan sekolah perlu dijaga kebersihannya,
alangkah indahnya jika koridor sekolah dihiasi oleh tanaman yang terawat dan
sekolah memiliki pohon-pohon yang hijau dan rindang yang dapat dimanfaatkan sebagai
tempat diskusi dan kerja kelompok bagi siswa.
Ketiga, saya
kurang suka dengan banyaknya tugas rumah seperti latihan soal dari buku paket
yang diberikan oleh guru. Menurut saya, soal seperti ini semestinya dikerjakan
di sekolah dan tugas rumah yang diberikan oleh guru sebaiknya dalam rupa project yang akan melatih aspek lain
seperti kemampuan bekerja sama, kepemimpinan, dan keberanian siswa tampil di
depan umum. Menulis esai juga salah satu bentuk pekerjaan rumah yang baik
karena melatih siswa untuk berpikir logis dan berani berargumen. Tugas dan
pekerjaan rumah yang diberikan tidak hanya mengembangkan aspek kognitif dalam
diri siswa tetapi juga aspek lain seperti afektif dan psikomotor, sehingga
pelajar Indonesia dapat tumbuh cerdas dan bermartabat.
Akhirnya, saya
berharap pendidikan di Indonesia bukan sekedar menghafal materi tetapi juga
mengembangkan wawasan berpikir siswa. Selain itu, sebagai pelajar saya berharap
tingkat kelulusan tidak lagi ditentukan oleh Ujian Nasional. Seorang pelajar
belajar untuk mencapai cita-cita dan mempersiapkan kehidupan di masa depan
bukan untuk ujian nasional. Suatu hal mengecewakan jika usaha kami selama 3
tahun ditentukan oleh 3 hari dengan persiapan pelaksanaan yang kurang baik,
seperti kekacauan yang terjadi pada penyelenggaraan UN 2012. Namun demikian,
saya masih optimis dengan masa depan cerah bangsa ini. Mari bersama kita
wujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baik. Majulah pendidikan Indonesia.
Merdeka!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar