Untuk membuktikan kumampu jadi yang terbaik
dan masih jadi yang terbaik …
Adakalanya dalam proses
mencapai tujuanku, aku berjuang bersama orang-orang lain. Mereka bisa menjadi
kawan seperjuanganku, tapi tidak menutup kemungkinan mereka adalah lawanku.
Namun yang ingin kuceritakan disini mengenai bagaimana orang-orang lain selain
kawan seperjuangan maupun lawanku bersikap terhadapku…
Dalam berjuang, aku pernah
menjadi pihak ‘yang terbelakang’, maksudku aku menjadi orang yang tidak pernah
diharapkan orang lain untuk menang dalam suatu peperangan, bahkan kadang aku
merasa mereka tidak mengharapkan aku untuk ikut berperang. Entah mengapa, kala
itu aku merasa bahwa mereka meragukan kemampuanku, menganggap aku tak bisa. Meskipun
berjuang bersama orang lain, aku merasa seperti berjuang seorang diri. Beberapa
kali aku menjadi lemah dibuatnya dan ikut menjatuhkan diriku sendiri. Tapi ada
saat-saat tertentu dimana aku berhasil membangkitkan kembali nyawaku sendiri,
membangun kembali kepingan-kepingan semangat yang tersisa dan berusaha berlari
menuju tujuanku dengan sisa tenaga yang ada. Aku berniat untuk menjadikan
keraguan mereka sebagai batu loncatan. Agar mereka tidak lagi meremehkanku
melainkan menjadi yakin terhadap potensi yang kumiliki, karena aku sendiri
yakin bahwa talenta ini adalah salah satu pemberian terindah Tuhan untukku…
Hidupku
itu adalah aku
bukan
kamu dan ragumu
jangan
sama-samakan ku…
Ya, aku benci menjadi
orang yang tak dianggap. Kemudian aku bermimpi menjadi orang yang ‘paling’
mereka harapkan, aku bertekad untuk membuat mereka ‘berharap banyak’ padaku. Dan
ketika mimpi itu menjadi nyata …
Aku tahu aku harus merasa
senang dan aku memang merasa senang sekali ketika hal itu terjadi :) Namun hal itu tidak berlangsung lama, aku masih harus berjuang. Perjuanganku masih
sangat panjang. Pada awalnya aku merasa sangat didukung oleh mereka, tapi waktu
terus berjalan, semakin lama aku merasa semakin risih. Mereka berharap terlalu
banyak. Mereka berharap banyak sekali tanpa melakukan apapun untukku, lalu
egoku bertanya, “apakah mereka layak berharap padaku tanpa melakukan sesuatu
pun untuk mewujudkan harapan mereka?”. Maksudku, misalnya mereka berkata
seperti ini, “tary nanti harus bisa meraih ini” atau
apapun dengan menyertakan kata ‘harus’. Egoku tak bisa diam dan terus-terusan
bertanya, “apakah kewajibanku memenuhi harapanmu? Itu adalah harapanmu, jadi
bukankah menjadikan ‘keharusan’ itu nyata menjadi kewajibanmu?”. Mereka
terus-terusan mengharapkanku, tapi mereka lupa untuk mendukungku, lupa untuk
mendoakanku, dan lupa untuk membimbingku dalam mewujudkan harapan mereka.
Mereka cuma berharap tok!
Di saat-saat seperti
itu, ada bagian dari dalam diriku yang sangat ingin dimengerti. Perlahan aku
merasa harapan mereka menjadi beban yang mulai terasa berat. Aku tahu ini
adalah pikiran yang salah karena sebelumnya ini adalah mimpiku, ini adalah
tekadku, jadi aku harus bertanggung jawab terhadap resiko-resiko seperti ini.
Aku pun larut dalam rumitnya pikiranku. Mereka ada bersamaku dan
mengharapkanku, aku bersama banyak orang dalam perjuanganku. Tapi tetap saja
aku merasa sendiri. Sepi sekali. Ada titik dimana aku tak lagi kuat dan
menangis. Menangis dalam doaku, menangis dalam tidurku. Kemudian aku berpikir
bahwa ketika semua orang berharap padaku, itu bukan salah mereka, toh
sebelumnya ini adalah keinginanku. Aku pernah bertekad untuk menjadikan diriku
harapan mereka. Ini tanggungjawab yang perlu kujalani. Aku punya satu kekuatan yang
tak tertandingkan, Yesus. Percaya atau tidak, tapi disaat-saat terendah dalam
hidupku Dia masih mau menerimaku, bahkan setelah aku pernah melupakan-Nya
ketika aku berada pada posisi yang cukup tinggi untuk menikmati kenikmatan
duniawi. Tuhanlah tumpuan harapanku dan aku tahu aku tidak pernah berjalan
sendirian…
Sometimes
I feel like giving up
It
seems like my best just ain’t good enough…
Pernah juga kualami
keadaaan dimana mereka berharap banyak dan aku tidak berhasil memenuhi
ekspektasi mereka. Kepercayaan mereka terhadap kemampuanku lalu mulai memudar.
Mereka mulai mencari orang lain untuk dijadikan harapan. Perlahan aku seperti
kembali ke masa-masa dimana aku menjadi orang yang tidak diharapkan. Situasi yang
tidak pernah kusukai. Sebenarnya, jika aku ditanya ingin menjadi orang yang
tidak dianggap atau orang yang dijadikan tumpuan harapan, aku belum bisa
menjawab. Aku sendiri masih bingung…
Jujur, aku tidak menyukai
kedua situasi ekstrim dalam hidup itu… Tapi meskipun tak suka aku tetap akan
berjuang. Berjuang dalam hidupku…
tary
Tidak ada komentar:
Posting Komentar