Saya telah dan masih berada di
lingkungan yang beragam. Beragam di sini dalam artian, mereka semua sama dan
saya berbeda dari mereka. Perbedaan ini sangat-sangat nampak. Apa yang saya
rasakan sekarang lebih ke perasaan keminoritasan. Ibarat selembar kertas,
mereka menyatu menjadi latar putih, saya hadir sebagai titik hitam, seperti
perusak.
Ini bukan hal yang baru bagi saya,
ini sudah terasa sejak 3 tahun yang lalu. Sejak kelas 1 SMP dan saya tahu bahwa
keminderan-keminderan ini akan terus berlanjut. Bukan hanya untuk sekarang,
tapi juga nanti. Saya takut meyakini hal ini. Sangat-sangat takut …
Begitu banyak pilihan, saya memilih
ini. Padahal saya begitu mengkhawatirkan hal ini. Tetap bersikeras. Saya
berusaha menegaskan dalam pikiran saya, “Tary,
anggap saja ini seperti bumbu. Pedas memang. Tapi nikmati saja..”.
Berbeda orang, tapi itu tadi. Saya
minoritas. Mereka semua terlihat sama, termasuk untuk hal pribadi sekalipun,
cara pandang. Memberi penilaian yang berbeda tapi merujuk pada satu kesimpulan
yang sama. Sebagai objek penilaian, saya sedang belajar menerima. Saya tidak
pernah berniat membantah, toh pandangan mereka benar. Sangat-sangat benar.
Hari ini saya disadarkan KEMBALI
mengenai beberapa hal.
1. Saya
tidak cantik dan tidak pernah cantik
2. Saya
tidak tinggi
3. Saya
tidak punya bakat khusus yang bisa membuat orang mangap melihat saya
4. Saya
begitu bodoh membiarkan hal-hal diatas mendominasi pikiran saya
Berpikiran seperti itu. Merenungkannya dalam waktu cukup
lama. Asli! Ini galau. Krisis percaya diri. Saya mencoba menjadi diri saya
sendiri, tak ada yang melihat saya. Apa ini berarti saya harus menjadi… orang
lain? Apa dengan begitu saya tidak dihakimi lagi? Menjadi berbeda itu baik,
kalau mereka mau berteman denganmu, dengan apa adanya kamu.
Aku mau menjadi diriku sendiri yang apa adanya, yang dihargai,
yang punya sesuatu untuk dibanggakan, yang selalu disayangi. Aku mau berbeda. Tapi
tidak untuk dibedakan. Life is not about
finding yourself. Life is about creating yourself.
Bukan salah bunda mengandung, bukan salah mereka menilai,
yang salah hanya pemikiran saya yang terpengaruh dan ikut menjelek-jelekkan
diri sendiri. Maybe you don’t understand
what I’m talking about. I just wanna say,
“sejujurnya, gue tidak peduli dikatain kaya gitu.
Galileo juga dulu dicemooh. Makanya, setiap kali dicemooh gue selalu inget
Galileo. Belakangan gue tahu Galileo berakhir di penjara dan mati mengenaskan.”
(dika)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar